Pernahkah kamu merasa lelah karena terbiasa menjadi sosok yang "harus kuat"?
Sejak kecil, aku tidak punya pilihan selain menjadi mandiri. Sebagai anak pertama, pundakku dipaksa siap memikul ekspektasi. Tidak ada ruang untuk merajuk, tidak ada waktu untuk bermanja-manja, apalagi menangis meminta perhatian. Kalau aku jatuh, aku harus bangkit sendiri. Kalau aku lelah, aku harus memeluk diriku sendiri.
Hingga usiaku dewasa sekarang, kebiasaan itu melekat erat. Orang-orang melihatku sebagai perempuan tangguh yang bisa diandalkan dalam segala hal. Tapi, di balik topeng kemandirian itu, ada bagian dari diriku yang rapuh—sebuah inner child yang merengek-rengek ingin diperlakukan seperti anak kecil pada umumnya.
Luka itu makin bertambah jika aku mengingat masa-masa lalu, atau bahkan sampai hari ini. Dulu, jika aku dan adik terakhirku bertengkar—merekbutkan hal sepele seperti mainan, makanan, atau apa pun itu—siapa yang pasti disalahkan? Jawabannya sudah pasti aku.
Tanpa mendengarkan penjelasan dariku lebih dulu, bentakan atau kemarahan orang tua selalu mendarat lebih dulu di telingaku. “Kamu kan sudah besar, harusnya bisa mengalah sama adik!” Kalimat itu seperti belati yang tertancap di dada setiap kali diucapkan. Rasanya tidak adil. Aku juga anak kecil saat itu, aku juga ingin dibela, tapi posisiku sebagai yang paling tua membuatku tidak punya hak untuk menangis atau membela diri.
Hingga kini kami beranjak dewasa, perlakuan itu masih membekas. Adikku si bungsu selalu mendapat perhatian lebih. Kalau dia meminta uang, entah untuk beli ini atau itu, Mama atau Papa hampir tidak pernah menolak, bahkan sering kali langsung menyodorkannya dengan senyum hangat.
Sementara aku? Jangankan diberi uang jajan atau ditawari sesuatu, untuk meminta sedikit perhatian saja rasanya aku harus berpikir dua kali agar tidak dianggap merepotkan. Aku terbiasa menelan semuanya sendiri.
Rasa iri itu kadang datang menyiksa saat aku melihat dunia luar. Suatu hari, aku melihat seorang ibu memperlakukan anaknya yang sudah dewasa dengan begitu lembut—dielus rambutnya, disuapi, dan dibela saat lelah. Air mataku hampir tumpah seketika. Di rumahku, pemandangan itu terasa sangat mewah.
Apakah salah jika aku mendambakan hal yang sama?
Di dalam sepi kamarku malam itu, aku sering bertanya pada diri sendiri. Apakah karena aku terbiasa mandiri sejak kecil, orang tuaku jadi lupa bahwa aku juga anak perempuan mereka? Aku juga punya lelah. Aku juga ingin dipanggil dengan sebutan "Nak" dengan nada suara yang lembut, dielus kepalanya, dan dibela saat dunia terasa tidak adil. Aku bosan menjadi kuat. Sekali saja, aku ingin merasakan bagaimana rasanya disayang tanpa harus dituntut selalu mengalah.
Namun, di balik semua rasa iri dan sesak yang kupendam seorang diri, ada doa yang selalu kupanjatkan dalam sujudku: Ya Allah, jika mereka lupa caranya memelukku sebagai anak, maka peluklah hatiku yang lelah ini. Dan semoga kelak, aku tidak lupa merangkul diriku sendiri.