Hujan turun sejak sore.
Bukan hujan deras yang membuat jalanan berubah menjadi sungai, melainkan hujan tipis yang terus-menerus mengetuk genting rumah seperti seseorang yang tidak ingin pergi.
Raka duduk sendirian di ruang tamu.
Jam dinding di atas televisi menunjukkan pukul 02.47.
Ia menatap jarum detik yang bergerak pelan.
Tik.
Tik.
Tik.
Malam itu seharusnya biasa saja. Besok pagi ia harus sekolah, mengerjakan tugas sejarah yang belum selesai, lalu pulang seperti biasa.
Namun sejak tiga hari terakhir, ada sesuatu yang aneh.
Setiap pukul tiga pagi, jam dinding itu berhenti.
Selalu pukul tiga.
Tidak pernah 02.59.
Tidak pernah 03.01.
Tepat pukul tiga.
Awalnya Raka mengira baterainya rusak. Ia sudah menggantinya dua kali.
Tetapi setiap kali ia memasang baterai baru, jam itu kembali berjalan normal hingga pukul tiga pagi berikutnya.
Dan ketika jarum berhenti, sesuatu selalu terjadi.
Malam pertama, ia mendengar suara kursi diseret dari ruang makan.
Malam kedua, terdengar suara ketukan tiga kali dari pintu depan.
Tok.
Tok.
Tok.
Malam ketiga, malam ini, Raka memutuskan untuk tidak tidur.
Ia ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi.
02.55.
Raka mematikan televisi.
Rumah menjadi sunyi.
Ia hanya ditemani suara hujan dan kipas angin yang berputar di sudut ruangan.
02.58.
Jantungnya mulai berdegup lebih cepat.
02.59.
Raka berdiri.
Ia menatap jam.
Jarum menit perlahan mendekati angka dua belas.
03.00.
Tik.
Jarum detik berhenti.
Kipas angin tiba-tiba mati.
Lampu ruang tamu berkedip sekali.
Kemudian padam.
Raka membeku.
Dalam gelap, terdengar suara dari ruang makan.
Krek.
Seperti kursi yang ditarik.
Raka menyalakan senter dari ponselnya.
Cahaya putih kecil menyapu ruangan.
Tidak ada siapa-siapa.
Namun di meja makan terdapat sesuatu yang sebelumnya tidak ada.
Sebuah kotak kayu tua.
Raka mendekatinya perlahan.
Kotak itu berdebu, tetapi bagian atasnya bersih seolah baru saja diletakkan.
Di atasnya terdapat tulisan.
Nama Raka.
Tangannya menjadi dingin.
Ia mengambil kotak itu.
Tidak terkunci.
Di dalamnya hanya ada sebuah foto lama.
Raka mengangkat foto tersebut.
Foto itu memperlihatkan sebuah rumah.
Rumah yang sangat ia kenal.
Rumahnya sendiri.
Tetapi ada sesuatu yang membuat napasnya tertahan.
Di depan rumah berdiri seorang anak laki-laki.
Umurnya mungkin sekitar sepuluh tahun.
Raka memperhatikan wajah anak itu.
Ia mengenalnya.
Itu dirinya.
Tetapi foto tersebut tampak jauh lebih tua daripada usia Raka sekarang.
Di bagian belakang foto tertulis:
"Jangan biarkan dia membuka pintu."
Raka membaca kalimat itu berulang kali.
Siapa "dia"?
Dan pintu yang mana?
Tiba-tiba—
Tok.
Raka terlonjak.
Tok.
Tok.
Ketukan terdengar dari pintu depan.
Sama seperti malam kedua.
Raka mundur beberapa langkah.
Ia teringat tulisan di belakang foto.
Jangan biarkan dia membuka pintu.
Tok.
Tok.
Tok.
Ketukan itu kembali terdengar.
Kemudian suara seorang anak laki-laki terdengar dari balik pintu.
"Raka."
Raka tidak bergerak.
Suara itu terdengar sangat jelas.
"Raka, aku tahu kamu di dalam."
Raka mendekati pintu, tetapi tidak membukanya.
"Siapa?"
Tidak ada jawaban.
Beberapa detik kemudian suara itu kembali.
"Ini aku."
Raka menelan ludah.
"Siapa kamu?"
"Raka."
Suara itu terdengar lebih dekat.
"Kalau kamu buka pintunya, semuanya akan kembali seperti semula."
Raka memandang foto di tangannya.
Kemudian ia memperhatikan sesuatu.
Anak dalam foto berdiri tepat di depan pintu rumah.
Pintu yang sama.
Tetapi dalam foto, pintunya terbuka sedikit.
Raka mulai memahami sesuatu.
Foto itu bukan sekadar kenangan.
Foto itu adalah peringatan.
Ia mundur dari pintu.
"Pergi."
Suara di luar terdiam.
Kemudian terdengar tawa kecil.
"Kalau aku pergi, kamu akan lupa."
"Lupa apa?"
Tidak ada jawaban.
Kemudian suara itu berbisik.
"Kenapa ibumu pergi."
Raka membeku.
Ibunya meninggalkan rumah ketika Raka masih kecil.
Selama bertahun-tahun, ayahnya selalu mengatakan bahwa ibunya pergi karena ingin hidup baru.
Raka tidak pernah bertanya lebih jauh.
Namun jauh di dalam hatinya, selalu ada satu pertanyaan yang tidak pernah hilang.
Kenapa?
Raka mendekati pintu.
"Jangan bawa-bawa ibuku."
"Aku tidak membawa siapa-siapa."
Suara itu terdengar sedih.
"Aku hanya ingin kamu ingat."
Tangan Raka hampir menyentuh gagang pintu.
Namun ia berhenti.
Di belakangnya, terdengar suara lain.
"Raka."
Ia berbalik.
Ayahnya berdiri di ujung lorong.
Wajahnya pucat.
"Ayah?"
Ayahnya tidak menjawab.
Ia hanya menatap jam dinding.
Jarum masih berhenti di angka tiga.
Kemudian ayahnya berkata pelan.
"Jangan buka pintu itu."
Raka menatap ayahnya.
"Kenapa?"
Ayahnya berjalan mendekat.
"Karena dulu Ayah sudah pernah membukanya."
Hujan di luar terdengar semakin deras.
Raka merasa seluruh rumah berubah menjadi asing.
"Apa maksud Ayah?"
Ayahnya menarik napas panjang.
"Ketika kamu berumur sepuluh tahun, ibumu belum pergi."
Raka diam.
"Ibumu masih tinggal bersama kita."
"Terus?"
"Suatu malam, tepat pukul tiga, jam itu berhenti."
Raka melihat jam dinding.
Ayahnya melanjutkan.
"Kamu waktu itu tidur di kamar. Ibumu mendengar ketukan dari pintu depan."
Raka menggenggam foto lebih erat.
"Apa yang ada di luar?"
Ayahnya menatap pintu.
"Dirimu."
Raka terdiam.
"Mustahil."
"Ayah juga berpikir begitu."
Ayahnya duduk di kursi ruang tamu.
"Anak laki-laki itu berdiri di depan pintu. Wajahnya sama persis dengan kamu. Tapi dia mengatakan sesuatu."
"Apa?"
"Dia bilang, 'Kalau kamu membuka pintu, Raka tidak akan pernah menjadi dirinya sendiri lagi.'"
Raka merasa tengkuknya merinding.
"Lalu?"
"Ibumu membuka pintu."
Tiba-tiba lampu menyala kembali.
Jam dinding bergerak.
03.01.
Semua suara menghilang.
Tidak ada hujan.
Tidak ada ketukan.
Tidak ada suara anak laki-laki.
Raka melihat pintu depan.
Masih tertutup.
Ayahnya berdiri.
"Sejak malam itu, ibumu berubah."
"Berubah bagaimana?"
"Dia mulai lupa banyak hal."
Ayahnya menatap Raka.
"Termasuk kamu."
Raka merasa dadanya sesak.
"Kenapa Ayah tidak pernah cerita?"
"Karena setiap kali aku mencoba mengingatkanmu, kamu lupa."
"Apa?"
"Kamu selalu lupa kejadian pukul tiga."
Raka menggeleng.
"Tapi aku ingat sekarang."
Ayahnya tersenyum tipis.
"Karena malam ini waktunya sudah hampir habis."
Raka melihat jam.
03.02.
"Apa maksudnya?"
Ayahnya tidak menjawab.
Ia mengambil foto dari tangan Raka.
Di bagian belakang foto, tulisan yang sebelumnya hanya berbunyi "Jangan biarkan dia membuka pintu" kini berubah.
Ada kalimat tambahan.
"Jika dia sudah mengingat semuanya, pintu harus dibuka."
Raka menatap ayahnya.
"Ayah yang menulis ini?"
Ayahnya menggeleng.
"Jangan."
Suara anak laki-laki terdengar lagi.
Dari luar.
"Raka."
Kali ini suara itu terdengar persis seperti suara Raka sendiri.
"Aku menunggumu."
Ayahnya memejamkan mata.
"Jangan dengarkan."
Namun Raka mulai mengerti.
Selama bertahun-tahun ia selalu mengira ibunya meninggalkannya.
Mungkin kenyataannya berbeda.
Mungkin ada sesuatu yang terjadi malam itu.
Sesuatu yang sengaja disembunyikan ayahnya.
Raka berdiri di depan pintu.
"Ayah."
"Jangan."
"Kalau aku tidak buka, aku tidak akan pernah tahu."
"Ada beberapa hal yang lebih baik tidak diketahui."
Raka memegang gagang pintu.
"Aku sudah terlalu lama hidup dengan pertanyaan."
Ia memutar gagangnya.
Klik.
Pintu terbuka.
Tidak ada siapa-siapa.
Hanya jalanan basah dan lampu jalan yang berkedip.
Tetapi di tengah halaman berdiri seorang anak laki-laki.
Anak itu mengenakan pakaian yang sama seperti Raka dalam foto.
Wajahnya sama.
Rambutnya sama.
Bahkan bekas luka kecil di alisnya juga sama.
Raka menatapnya.
Anak itu tersenyum.
"Akhirnya."
Raka tidak bisa berkata-kata.
Anak itu berjalan mendekat.
"Aku sudah menunggu bertahun-tahun."
"Siapa kamu?"
Anak itu berhenti beberapa meter di depannya.
"Aku adalah kamu."
Raka menggeleng.
"Bukan."
"Aku adalah bagian dari kamu yang kamu tinggalkan malam itu."
Raka memandang ayahnya.
Ayahnya menangis.
"Jangan percaya dia."
Anak itu menoleh.
"Dia berbohong."
Raka kembali melihat anak itu.
"Kalau begitu, siapa ibuku?"
Anak itu tersenyum sedih.
"Orang yang mencoba menyelamatkanmu."
Raka terdiam.
"Dia tidak pergi."
"Terus?"
"Dia masuk ke dalam pintu."
"Pintu apa?"
Anak itu menunjuk ke belakang Raka.
"Yang ada di rumahmu."
Raka berbalik.
Di ruang tamu, dinding di belakang jam tiba-tiba retak.
Sebuah garis hitam muncul.
Retakan itu melebar.
Perlahan, dinding terbuka seperti sebuah pintu tersembunyi.
Di baliknya terdapat lorong panjang yang sebelumnya tidak pernah ada.
Raka mundur.
Ayahnya berteriak.
"Jangan masuk!"
Tetapi suara anak laki-laki itu terdengar lembut.
"Ibumu masih menunggu."
Raka menatap lorong.
Di ujungnya terlihat sebuah cahaya.
Dan dari sana terdengar suara perempuan.
Suara yang samar, tetapi terasa sangat familiar.
"Raka..."
Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, Raka mendengar suara ibunya.
Air matanya jatuh.
"Ibu?"
Suara itu menjawab.
"Ibu di sini."
Ayahnya berlutut.
"Raka, dengarkan Ayah. Kalau kamu masuk, mungkin kamu tidak bisa kembali."
Raka menatap ayahnya.
"Mungkin selama ini aku tidak benar-benar hidup dengan baik karena terus bertanya."
Ia melangkah.
Satu langkah.
Dua langkah.
Tiga langkah.
Sebelum masuk ke lorong, Raka berhenti.
Ia menoleh kepada anak laki-laki yang berdiri di halaman.
"Kamu ikut?"
Anak itu tersenyum.
"Aku tidak bisa."
"Kenapa?"
"Karena aku bukan bagian dari masa depanmu."
Raka mengerutkan kening.
Anak itu menunjuk jam dinding.
"Ketika jarumnya kembali berjalan, aku akan hilang."
Raka melihat jam.
03.59.
Hanya satu menit sebelum pukul empat.
Raka menatap anak itu untuk terakhir kalinya.
"Terima kasih."
Anak itu tersenyum.
"Jangan takut menjadi orang yang berbeda dari kemarin."
03.59.
Jarum detik bergerak.
Tik.
Raka masuk ke lorong.
Tik.
Dinding di belakangnya mulai menutup.
Tik.
Suara ibunya semakin dekat.
Tik.
Raka melihat seorang perempuan berdiri di bawah cahaya.
Rambutnya panjang.
Wajahnya lebih tua daripada yang Raka ingat dari foto masa kecil.
Tetapi matanya sama.
"Ibu."
Perempuan itu tersenyum sambil menangis.
"Maaf, Nak."
Raka berlari menghampirinya.
Dan tepat ketika mereka berpelukan—
04.00.
Jam dinding kembali bergerak.
Lorong itu menghilang.
Rumah kembali seperti semula.
Ayah Raka berdiri sendirian di ruang tamu.
Di lantai terdapat sebuah foto lama.
Ia mengambilnya.
Foto itu kini berubah.
Tidak ada lagi rumah tua.
Tidak ada anak laki-laki.
Hanya ada tiga orang.
Raka.
Ayahnya.
Dan ibunya.
Mereka tersenyum bersama.
Ayah Raka menatap jam.
Jarumnya bergerak normal.
Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, jam itu tidak berhenti pukul tiga.
Pagi datang perlahan.
Sinar matahari masuk melalui jendela.
Di kamar, Raka membuka mata.
Ia berada di tempat tidur.
Rumah terasa sangat tenang.
Ia duduk dan melihat sekeliling.
"Aneh..."
Ia tidak tahu kenapa, tetapi hatinya terasa ringan.
Di meja samping tempat tidur terdapat sebuah foto.
Raka mengambilnya.
Foto dirinya ketika masih kecil.
Di belakang foto terdapat tulisan yang baru.
"Beberapa pintu memang tidak dibuat untuk dijauhi selamanya.
Ada yang harus dibuka agar kita tahu bahwa masa lalu bukan tempat untuk tinggal.
Ia hanya tempat untuk memahami dari mana kita berasal."
Raka tersenyum kecil.
Dari dapur terdengar suara seseorang.
"Raka, sarapan."
Ia membeku.
Suara itu.
Suara yang selama bertahun-tahun hanya hidup dalam ingatannya.
Raka berlari keluar kamar.
Di meja makan, seorang perempuan sedang menyiapkan sarapan.
Ibunya.
Raka berhenti di ambang pintu.
Perempuan itu menoleh.
"Kenapa?"
Raka tersenyum.
"Tidak apa-apa."
Ibunya mengerutkan kening.
"Kamu aneh."
Raka duduk.
Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia tidak bertanya ke mana ibunya pergi.
Ia tidak bertanya kenapa ibunya kembali.
Ia tidak bertanya apa yang sebenarnya terjadi pada malam pukul tiga.
Karena mungkin, tidak semua misteri membutuhkan jawaban.
Sebagian hanya membutuhkan keberanian untuk melewatinya.
Di dinding ruang tamu, jam tua itu terus berdetak.
Tik.
Tik.
Tik.
Dan kali ini—
ia tidak pernah berhenti lagi.