Di antara bunga yang hidup setengah hati dan tanah basah yang masih menyimpan napas hujan, aku berdiri di bukit belakang sekolah ketika mataku menangkap selembar surat yang terlipat rapi dan tergeletak pas di sisi rumah pohon yang dulu jadi markas kecil kami. Tidak ada nama, hanya sebuah jejak tulisan yang langsung menggema seperti suara yang pernah kupanggil sahabat. Yaitu Adam. Sekarang hanyalah tinggal kenangan yang menggigit pelan, dan surat ini satu-satu surat terakhir yang masih berani kembali padaku.
Aku membuka lipatan kertas itu dengan tangan yang hampir kehilangan tenang, dan air mataku jatuh tanpa aku sempat menahannya. Tulisan miring itu adalah ciri khas dari Adam seolah suara yang pernah terputus di usia enam belas mengulur tangan dari masa lalu. Kini, di umur delapan belas, rasanya seperti dunia menamparku dengan kenyataan bahwa beberapa perpisahan tidak pernah selesai, hanya menunggu untuk dibaca ulang.
“Hai… jika kamu membaca surat ini, berarti aku telah tiada, dan tangan kecilku yang dulu selalu menepuk pundakmu tiap kita mau bermain sudah berhenti selamanya. Kita tak bisa lagi mengarang cerita absurd di buku catatanmu, atau ketawa karena hal-hal bodoh yang Cuma kita berdua yang paham. Tapi aku tetap berharap tulisan-tulisan kita bisa bikin orang lain ikut senyum, walau humornya kadang setengah hidup. Aku nulis ini bukan buat bikin kamu tenggelam dalam sedih, tapi biar kamu tahu satu hal: aku pergi dengan hati yang penuh, karena setiap kenangan kita masih terasa seperti rumah yang tetap menyalakan lampu untukku”
Aku berhenti membaca, dan angin di bukit itu bergerak pelan seperti sedang menahan napas bersamaku. Ada momen singkat di mana rasanya Adam duduk tepat di sebelahku—bukan sebagai hantu, tapi sebagai bayangan hidup yang menempel di ingatan. Sama seperti dulu, ketika kami masih anak kelas satu SMA yang sok jenius, saling lempar ide konyol buat menghidupkan dunia-dunia aneh di buku catatan dan rumah pohon di belakang sekolah itu. Waktu seolah bengkok, dan untuk sesaat, aku seperti kembali ke sana, lengkap dengan tawa yang belum sempat kami habiskan.
Adam itu sahabat yang datang tanpa rencana. Waktu kelas 10, dia pendiam—model anak yang kalau ngomong seperlunya, tapi kalau sudah buka suara, orang otomatis pengen dengar. Aku ketemu dia di hari pertama masuk SMA, saat aku masih jadi anak yang nggak punya siapa-siapa dan tiap jam istirahat kabur ke bukit sekolah biar tidak terlihat kalau dia sendirian. Hari itu dia datang, nanya pelan, “kamu ngapain, Rika?” dan aku cuma bengong karena takut dibilang kekanak-kanakan gara-gara suka nulis cerita imajinasi yang kelewat liar. Tapi bukannya ngetawain, dia malah baca, kasih saran, dan dari situ obrolan kami tiba-tiba klik, mulus aja jalannya. Sejak hari itu, kami tidak hanya menjadi teman… kami menjadi sahabat yang tumbuh bareng, saling nyimpen dunia kecil satu sama lain.
Saat Adam dinyatakan mengidap penyakit autoimun, kepalaku benar-benar kosong. Dia cuma senyum tipis dan bilang, “tidak apa-apa, aku pasti sembuh. Aku bakal tetap duduk di sampingmu waktu kamu nulis.” Kalimatnya terdengar kuat, tapi matanya waktu itu sudah memantulkan sesuatu yang tidak bisa dia bohongin. Pelan-pelan dia makin jarang masuk, sampai akhirnya hilang total. Aku tetap kirim surat, tetap telpon tiap pulang sekolah, berharap ada jeda napas di mana dia jawab. Tapi akhir-akhir ini semuanya sunyi, dan aku naif banget waktu itu—ku pikir dia cuman butuh ruang, kupikir nanti kelas 3 SMA dia tiba-tiba muncul lagi kayak adegan reuni murahan. Aku benar-benar tidak siap untuk menerima kenyataan yang datang setelahnya.
Ternyata aku salah. Surat itu panjang, ditulis dengan pena biru kesukaannya—tinta yang sekarang mulai luntur seperti waktu yang membocorkan warnanya sedikit demi sedikit. Tapi setiap kalimatnya terasa hidup, seolah huruf-huruf itu masih bernafas menatapku balik “Aku tahu kamu bakal marah dan mungkin kecewa. Karena aku tidak menceritakan semuanya kepadamu. Aku Cuma tidak mau kamu melihat aku jatuh. Aku mau kamu tetap ingat aku seperti waktu kita di rumah pohon itu—nulis cerita, saling lempar saran, main kejar-kejaran, bahkan ngerjain tugas sambil ketawa. Kamu ingat??”
Aku hanya bisa tersenyum sambil air mata terus turun. Ingat. Terlalu ingat. Aku masih bisa merasakan sakit kecil di lutut waktu aku jatuh, dan tawa panjang Adam yang mengiringi perjalanan pulang. Dia selalu punya kemampuan aneh membuat hal sepele berubah jadi kenangan yang menolak padam.
“Aku nulis surat ini sebelum aku kritis, waktu kamu kelas dua SMA. Aku meminta ibu untuk menaruh surat ini di rumah pohon kita bila aku sudah tiada. Aku tidak ingin pergi tanpa berpamitan dengan mu. Terima kasih sudah ingin jadi temanku tanpa pernah memaksaku jadi orang lain. Terima kasih karena kamu nerima aku… bahkan saat aku sendiri, aku pun susah menerima diriku sendiri di kamar gelap itu.”
Aku berhenti membaca. Surat itu seperti cermin yang menolak berbohong. Rasa bersalah langsung naik ke dada, panas dan dalam. Waktu Adam kritis, aku tidak ada di sampingnya. Aku kabur dengan alasan ingin memberinya ruang padahal kenyataannya aku Cuma takut untuk menerima kenyataan utuh-utuh. Malam itu, aku ambil buku catatan lama kami—buku yang dulu jadi panggung imajinasi konyol kami—dan aku mulai menulis balasan, meski aku tahu ia takkan pernah membacanya.
“Hai, Adam. Aku sudah membaca suratmu. Aku meneteskan air mata begitu deras, bukan karena engkau meninggalkanku, tetapi karena aku tidak sempat mengucapkan terima kasih. Terima kasih telah menjadi rumah keduaku—tempat aku bisa menjadi diriku sendiri, tempat aku dapat diam tanpa takut dihakimi.” Aku menulis surat balasan itu tanpa jeda.
Aku menuliskan seluruh kenangan yang pernah kami bagi satu sama lain, penyesalan yang menumpuk seperti debu yang tak tersapu, dan harap kecil yang belum sempat kami wujudkan. Aku menulis seolah Adam masih duduk di sampingku, seolah senyumannya masih utuh dan hadir, seolah dunia belum sempat merenggutnya dari sisiku.
Keesokan harinya, aku pergi ke bukit tempat kami dulu bermain. Aku membawa surat Adam dan surat balasanku. Aku duduk di bawah pohon besar itu, membuka lipatan kertas, dan membacanya perlahan. Angin berhembus lembut, seakan ikut mengambil bagian dalam percakapan terakhir kami. “Jika engkau membaca surat ini di alam sana, Berarti aku sudah tidak berada di sini lagi. Namun aku berharap engkau tetap berada di rumah pohon tempat kita bermain dahulu.” Aku menutup surat itu, menaruhnya ke dalam sebuah kotak kayu kecil bersama surat balasanku, lalu menguburnya di bawah pohon—di tanah yang dulu menyimpan tawa dan kenangan kami
-Tamat-