Dunia perkuliahan dan jarak punya caranya sendiri untuk membuat dua orang yang saling memiliki merasa seperti asing. Fahira menatap layar ponselnya yang meredup, meneliti deretan pesan singkat yang makin hari makin kehilangan jiwanya: lagi apa, udah makan belum, atau hanya sekadar stiker tanpa arti.
Mengingat kembali bagaimana semua ini bermula selalu membawa rasa hangat sekaligus sesak yang aneh.
Dulu, di kelas sebelas, Keizuro adalah definisi cowok bader yang hobi sekali membuat para guru geleng kepala. Bajunya tak pernah rapi, dasi tergantung asal, dan hobi laki-laki itu nongkrong di lorong sambil memutar bola basketnya. Sedangkan Fahira hanya cewek biasa yang lebih suka membaur dengan latar belakang. Namun, hatinya memilih untuk jatuh pada cowok paling bising di kelasnya.
Rahasia itu tersimpan rapat—sampai akhirnya bocor karena celotehan teman-temannya.
"Woi, Kei! Kebiasaan lu, diliatin anak orang mulu dari tadi tuh!" sorak salah satu temannya di tengah kelas yang tengah kerja kelompok kala itu.
Wajah Fahira memerah saat itu juga. ia buru-buru menyembunyikan wajahnya di balik buku paket Sejarah. Di sisi lain, bukannya menghindar, Keizuro justru menyeringai tipis, mengacak rambutnya yang berantakan, dan mulai melangkah mendekat.
Sejak hari itu, Keizuro selalu punya cara konyol untuk memicu detak jantung Fahira. Saat berpapasan di tangga, cowok itu sengaja menyejajarkan langkahnya, menunduk sedikit lalu berbisik jahil, "Duluan ya, Fai. Jangan ngeliatin gue terus, nanti makin naksir."
Lalu ada hari-hari di mana Keizuro mendadak manis dengan cara yang ugal-ugalan—melempar kotak susu cokelat ke meja Fahira kemudian nyelonong pergi begitu saja, atau pura-pura meminjam pulpen hanya untuk meninggalkan coretan di sudut buku catatan Fahira: 'Jangan galak-galak, nanti makin lucu'.
Hingga tiba malam dingin di tanggal 22 Mei.
Usai riuh acara kumpul kelas malam itu, Fahira akhirnya menyerah pada paksaan Keizuro untuk pulang bersamanya. Motor Keizuro melaju halus di bawah langit malam yang pekat, dibalut pendar gugusan bintang yang bertaburan. Hanya ada hembusan angin yang menyapa kulit dan deru mesin yang menjadi latar paling setia.
Keizuro membuka kaca helmnya. Lewat kaca spion—yang sengaja ia ubah sudutnya agar bisa mencuri pandang—matanya mengunci paras manis Fahira yang tengah menikmati angin.
"Fai," panggil Keizuro pelan. Suaranya sedikit teredam angin malam, namun terdengar begitu hangat di telinga Fahira.
"Kenapa, Kei?" Fahira menanggapi, dahinya mengerut tipis menyadari gestur cowok di depannya.
"Aku tahu kita beda. Banyak hal yang sebenarnya bikin kita kelihatan gak masuk akal buat bareng," Keizuro menoleh sedikit ke belakang, berusaha menangkap setiap inci reaksi wajah Fahira. "Tapi jujur, aku gak mau cuma main-main lagi. Sebenarnya... aku udah suka sama kamu dari awal, Fai. Cuma aku gak pernah berani mendekat, karena tahu tembok di antara kita setinggi apa."
Keizuro menjeda kalimatnya. Fahira menggigit bibir bawahnya pelan, meresapi setiap bait kejujuran yang meluncur dari bibir cowok itu.
"Tapi Tuhan selalu punya cara yang acak buat bikin kamu tetap jadi milik aku, ya?" Keizuro terkekeh halus, nada bicaranya melembut. "Buktinya, Dia malah nitipin perasaan suka itu di hati kamu. Dan itu bener-bener ngasih aku kesempatan emas, Fai. Kesempatan yang gak mau aku sia-siakan."
Hening seketika mengudara di antara mereka. Angin malam yang membelai tak sanggup meluruhkan rasa hangat yang perlahan membakar dada Fahira. Dengup jantungnya berpacu hebat, menyaingi kecepatan motor yang melaju.
"Jadi, Fai... kamu mau gak, jadi pacar aku?"
Senyum Fahira terbit tanpa bisa ia tahan. Lengkungan manis di bibirnya merekah di tengah remang malam. Ia terkekeh pelan, mencerna momen acak ini. "Kamu sengaja, ya, nembak di atas motor gini?"
"Enggak, tuh. Biar kelihatan so sweet aja," sahut Keizuro jahil.
Fahira kembali tertawa kecil, menyandarkan dagunya samar di bahu Keizuro. "Ini kalau aku tolak, aku bakal diturunin di pinggir jalan, ya?"
"Yakin mau nolak? Emang kamu tega nolak cowok ganteng kaya aku gini?" Keizuro menyeringai dari balik spion.
"Iya, deh... enggak bisa," aku Fahira pasrah, menyerahkan hatinya sepenuhnya.
Keizuro sempat menoleh ke belakang, menatap langsung ke dalam manik mata Fahira—sebuah tatapan dalam penuh ketegasan, sebelum akhirnya ia kembali memfokuskan pandangan ke jalanan di depan. "Jadi? Kita resmi pacaran, nih?"
Fahira tertawa renyah memecah heningnya malam, lalu mengangguk mantap. "Iyaa, sayangg."
Malam itu, di bawah pendar temaram taburan bintang dan riuh angin malam, dua insan itu resmi mengikat janji untuk saling memiliki. Untuk sejenak, mereka memilih tuli pada takdir yang menentang. Tawa yang pecah dan rasa suka yang membuncah malam itu berhasil merubuhkan tembok tebal yang berdiri di antara mereka—meski mereka tahu, tembok itu hanya rubuh untuk sementara.
Kini, riuh masa SMA berganti menjadi heningnya kejenuhan perkuliahan. Jarak kampus dan tumpukan tugas pelan-pelan mengikis rindu menjadi canggung. Gengsi membuat jemari Fahira enggan mengetik pesan duluan, dan Keizuro pun terjebak dalam diam yang sama.
Hingga di suatu sore yang basah, mereka akhirnya duduk berhadapan di sudut kafe yang remang.
"Kita sebenarnya lagi kenapa sih, Kei?" bisik Fahira, jemarinya sibuk memutar sedotan di gelas kopi yang mulai mencair. "Kenapa makin jauh?"
Keizuro menyandarkan punggungnya, menatap Fahira dengan binar mata yang lelah. "Aku kangen kamu, Fai. Tapi makin ke sini, aku makin takut."
"Takut apa?"
"Takut kalau makin kita jalan jauh, kita makin sadar kalau muara kita beda," ujar Keizuro jujur. Suaranya agak bergetar. "Aku gak pernah main-main sama kamu, Fai. Gak ada orang lain. Cuma... tembok agama kita ini terus terngiang-ngiang di kepala aku."
Fahira terdiam, tenggorokannya mendadak tercekat.
"Makanya," Keizuro meraih tangan Fahira di atas meja, menggenggam jemarinya yang dingin, "aku mau bawa kamu ke rumah. Ketemu Mami sama Papi. Cuma mau menyapa aja. Aku mau kamu kenal duniaku, biar kita gak cuma menebak-nebak dalam gelap."
Kala itu, Fahira menggeleng pelan. Ia melangkah mundur karena ketakutan. Belum siap bertemu dengan orang yang mungkin kelak menjadi alasan Fahira ketakutan untuk melanjutkan hubungan ini.
Namun, seiring waktu yang berjalan dingin, Fahira sadar bahwa bersembunyi tak pernah menyembuhkan apa pun. Hingga akhirnya, keberanian itu terkumpul dan ia mengiyakan ajakan Keizuro.
Langkah kaki Fahira terasa berat saat melewati ambang pintu rumah Keizuro. Rumahnya hangat dan harum kayu manis memeluk halus hidungnya, namun atmosfer di dalamnya seolah menekan dada Fahira seketika.
Di dinding ruang tamu, tergantung salib kayu yang terukir indah, bersanding dengan beberapa lukisan sosok Tuhan yang begitu disucikan dalam keyakinan Keizuro. Kenyataan itu menghantam Fahira tanpa ampun. Tembok yang selama ini mereka abaikan kini berdiri nyata, kokoh, dan menjulang tinggi tepat di depannya.
Seakan tahu apa yang berkecamuk di dada Fahira, Keizuro menyusupkan jarinya ke sela-sela jemari Fahira, menggenggamnya erat-erat.
"Gak apa-apa, ada aku," bisik Keizuro lembut di dekat telinganya.
Sore itu berlalu dengan hangat secara kasatmata. Orang tua Keizuro menyambut Fahira dengan senyum terbuka, menyajikan teh, dan melontarkan pertanyaan ramah seputar kuliahnya. Tawa sesekali memecah keheningan.
Namun, di balik senyum sopan yang ia sunggingkan, hati Fahira bergetar hebat.
"Kayak begini itu dosa ya, Sayang!"
Suara lembut Mamanya mendadak bergema, merayap masuk dan menggentayangi kepala Fahira tanpa permisi. Membawa ingatannya terbang jauh ke masa kecil.
"Pacaran itu dosa. Apalagi sama yang beda agama."
"Emangnya iya, Ma?" tanya Fahira kecil kala itu dengan tatapan polos. Mamanya mengangguk pelan, mengusap lembut kepala putri kecilnya.
"Tapi kalau mereka saling suka gimana dong, Ma?"
"Makanya, jangan sampai..." Suara Mamanya terdengar begitu hati-hati, namun tegas. "Bukannya kita tidak menghargai. Tapi kalau sudah begitu, bukan cuma agama kita yang melarang, agama mereka pun sama melarangnya. Berteman saja boleh, kok."
Fahira kecil mengangguk-angguk, mencoba mencerna. "Jadi... ini dosa," gumamnya lirih saat itu.
Kini, kenangan itu menjelma menjadi duri tajam yang menusuk dadanya.
Setiap kali matanya tak sengaja menatap simbol-simbol suci di dinding rumah Keizuro, bisikan lirih itu terus mengusik jiwanya. Setulus apa pun tawa yang tercipta sore ini, apakah aku yang berdiri di atas iman yang berbeda... akan pernah benar-benar punya tempat di sini?
Fahira menyesap teh hangatnya perlahan. Merasakan hangatnya cairan itu menjalar ke kerongkongan, namun gagal mendinginkan batinnya yang berkecamuk. Ia menyadari sepenuhnya, kisah cinta yang dulu dimulai dari candaan kekanak-kanakan di lorong sekolah ini, kini tengah menuntun mereka menuju bab paling rumit—dan mungkin paling menyakitkan—dalam hidup mereka.