Hujan turun sejak sore.
Dari balik jendela kamar, Nara memandangi jalanan yang basah. Lampu-lampu kendaraan memantul di genangan air, sementara suara hujan mengetuk kaca seperti seseorang yang ingin masuk, tetapi tak pernah benar-benar diizinkan.
Sudah tiga bulan sejak Arga pergi.
Tiga bulan sejak pesan terakhirnya masuk ke ponsel Nara.
"Maaf, Nar. Aku rasa kita harus berhenti sampai di sini."
Hanya satu kalimat.
Namun, kalimat itu mampu mengubah banyak hal.
Dulu, nama Arga selalu menjadi nama pertama yang Nara cari ketika membuka ponsel. Mereka terbiasa bertukar cerita tentang hal-hal sederhana. Tentang sarapan, tugas kuliah, film yang mereka tonton, sampai mimpi-mimpi kecil yang ingin mereka wujudkan bersama.
Namun, sebelum semuanya berakhir, hubungan mereka tidak selalu seindah yang Nara ingat.
---
Semuanya bermula ketika Arga mendapatkan kesempatan untuk melanjutkan kuliah di luar kota.
Nara adalah orang pertama yang diberitahunya.
"Aku dapat beasiswa, Nar."
Nara terdiam beberapa detik.
"Di mana?"
"Jakarta."
Senyum di wajah Nara perlahan menghilang.
"Berapa lama?"
"Mungkin dua tahun."
Nara mencoba tersenyum.
"Itu bagus, Ga. Kamu harus ambil."
Arga menggenggam tangannya.
"Kamu yakin?"
Nara mengangguk.
"Ini kesempatan kamu."
Namun sebenarnya, ada ketakutan yang tidak pernah ia katakan.
Ia takut jarak akan mengubah semuanya.
Ia takut Arga menemukan kehidupan baru yang lebih menyenangkan tanpa dirinya.
Dan yang paling ia takutkan adalah kemungkinan bahwa suatu hari Arga tidak lagi membutuhkan kehadirannya.
Awalnya mereka berjanji akan tetap menjaga hubungan.
Setiap malam mereka akan saling menghubungi.
Setiap akhir pekan mereka akan melakukan panggilan video.
Mereka bahkan membuat daftar tempat yang ingin dikunjungi ketika Arga pulang.
Namun kenyataan tidak berjalan seperti rencana.
Minggu pertama, Arga masih sering menghubungi Nara.
Minggu kedua, pesan-pesannya mulai terlambat.
Minggu ketiga, panggilan telepon yang biasanya berlangsung satu jam berubah menjadi beberapa menit.
Nara mulai bertanya-tanya.
"Ga, kamu sibuk?"
"Iya. Banyak tugas."
"Seharian?"
"Nar, aku benar-benar capek. Bisa nggak kita bahas besok?"
Percakapan itu berakhir.
Nara meletakkan ponselnya dengan perasaan kecewa.
Ia mencoba memahami.
Tetapi semakin ia mencoba memahami, semakin banyak hal yang membuatnya curiga.
Suatu malam, Nara melihat unggahan foto Arga bersama beberapa teman kampusnya.
Di antara mereka ada seorang perempuan bernama Raina.
Mereka terlihat sangat dekat.
Nara menatap foto itu lama.
Kemudian ia mengirim pesan.
"Kamu sama siapa?"
Balasan Arga datang beberapa menit kemudian.
"Teman kampus."
"Yang cewek itu siapa?"
"Raina. Teman kelompok."
Nara mengetik pesan, menghapusnya, lalu mengetiknya lagi.
"Kok kelihatannya dekat banget?"
Kali ini Arga tidak langsung menjawab.
Beberapa menit kemudian muncul balasan.
"Kamu nggak percaya sama aku?"
Nara terdiam.
"Aku cuma tanya."
"Tapi caramu bertanya seperti aku melakukan sesuatu."
Percakapan itu berakhir dengan Arga yang tidak membalas lagi.
Sejak malam itu, hubungan mereka berubah.
Nara menjadi lebih mudah curiga.
Arga menjadi lebih mudah marah.
Hal-hal kecil yang dulu bisa mereka bicarakan dengan tenang berubah menjadi pertengkaran.
Ketika Arga terlambat membalas pesan, Nara bertanya.
Ketika Nara bertanya terlalu banyak, Arga merasa dikekang.
Ketika Arga mulai menjauh, Nara semakin takut kehilangan.
Mereka seperti dua orang yang sama-sama ingin mempertahankan hubungan, tetapi justru saling melukai dalam prosesnya.
---
Suatu malam, mereka akhirnya bertengkar hebat melalui telepon.
"Aku cuma ingin kamu cerita, Ga," kata Nara dengan suara bergetar.
"Aku sudah cerita!"
"Tapi kamu sekarang beda."
"Karena aku punya kehidupan di sini, Nar!"
Nara terdiam.
"Jadi aku bukan bagian dari kehidupanmu?"
"Bukan begitu."
"Terus bagaimana?"
Arga menghela napas panjang.
"Aku capek."
Dua kata itu membuat Nara terdiam.
"Capek apa?"
"Capek harus selalu menjelaskan semuanya. Capek merasa apa pun yang aku lakukan selalu salah."
Mata Nara mulai berkaca-kaca.
"Aku cuma takut kehilangan kamu."
"Dan karena ketakutan itu, kamu malah membuat aku merasa tidak dipercaya."
Nara tidak bisa menjawab.
Beberapa detik berlalu dalam keheningan.
Kemudian Arga berkata pelan,
"Mungkin kita memang butuh waktu."
"Jadi kamu mau putus?"
"Aku nggak tahu."
Jawaban itu justru lebih menyakitkan daripada kata putus.
Karena untuk pertama kalinya, Nara merasa Arga benar-benar tidak yakin tentang mereka.
---
Tiga hari mereka tidak berbicara.
Nara menunggu.
Ia berharap Arga akan menelepon.
Berharap semuanya bisa kembali seperti dulu.
Pada malam ketiga, ponselnya berbunyi.
Sebuah pesan dari Arga.
"Maaf, Nar. Aku rasa kita harus berhenti sampai di sini."
Nara membaca pesan itu berulang kali.
Ia ingin marah.
Ingin bertanya mengapa.
Ingin meminta kesempatan kedua.
Namun tidak ada satu pun kata yang berhasil keluar dari mulutnya.
Air matanya jatuh begitu saja.
Hari itu, hubungan yang selama ini ia perjuangkan berakhir hanya dalam beberapa baris pesan.
---
Tiga bulan kemudian, Nara kembali ke tempat yang selama ini ia hindari.
Sebuah kedai kopi kecil di sudut kota.
Tempat pertama kali Arga mengatakan bahwa ia menyukai Nara.
Nara duduk di meja dekat jendela.
"Sendiri, Kak?" tanya pelayan.
Nara mengangguk.
"Seperti biasa."
Pelayan itu tersenyum kecil lalu pergi.
Beberapa menit kemudian, secangkir kopi diletakkan di hadapannya.
Nara memandang cangkir itu.
Dulu Arga selalu memesankan kopi untuknya.
Tanpa perlu bertanya.
Tanpa perlu diberi tahu.
"Less sugar, kan?"
Kalimat sederhana itu dulu terasa begitu berarti.
Sekarang, justru menjadi kenangan yang membuatnya sakit.
Nara menarik napas panjang.
"Kenapa kenangan selalu lebih keras daripada kenyataan?"
Tidak ada yang menjawab.
Hanya suara musik pelan yang terdengar dari sudut ruangan.
---
Malamnya, Nara membuka sebuah kotak kecil di bawah tempat tidurnya.
Di dalamnya ada tiket bioskop, surat pendek, gelang kain, dan sebuah foto polaroid.
Semua pemberian Arga.
Nara mengambil foto itu.
Di belakangnya terdapat tulisan tangan Arga:
"Untuk Nara, kalau suatu hari kita bertengkar, jangan pernah lupa bahwa aku pernah memilihmu."
Air mata Nara jatuh.
Ia menangis.
Bukan karena ingin Arga kembali.
Setidaknya, ia mulai menyadari bahwa ia tidak bisa terus hidup dengan harapan itu.
Ia menangis karena akhirnya memahami bahwa mencintai seseorang tidak selalu berarti harus mempertahankannya.
Kadang-kadang, mencintai berarti menerima bahwa perjalanan dua orang bisa berakhir di persimpangan yang berbeda.
Nara mengambil selembar kertas.
Ia mulai menulis.
"Arga, aku tidak tahu apakah surat ini akan pernah sampai kepadamu. Tapi aku ingin mengucapkan terima kasih."
Tangannya berhenti sejenak.
Lalu ia melanjutkan.
"Aku pernah marah karena kamu pergi. Aku pernah berharap kamu kembali. Aku bahkan pernah menyalahkan diriku sendiri karena merasa tidak cukup baik."
Air mata kembali mengalir.
"Tapi sekarang aku mengerti. Tidak semua perpisahan terjadi karena seseorang tidak cukup baik. Kadang, dua orang hanya memiliki tujuan yang berbeda."
Ia menulis kalimat terakhir.
"Aku tidak akan menunggumu lagi. Bukan karena aku membencimu, tetapi karena aku ingin belajar mencintai diriku sendiri."
Nara melipat surat itu.
Ia tidak mengirimkannya.
Surat itu hanya ia simpan.
Bukan untuk Arga.
Tetapi untuk dirinya sendiri.
Sebagai tanda bahwa ia pernah mencintai seseorang dengan tulus dan akhirnya mampu melepaskannya.
---
Beberapa minggu berlalu.
Nara mulai melakukan banyak hal yang dulu ia tinggalkan.
Ia kembali membaca buku.
Mulai berolahraga.
Berkumpul dengan teman-temannya.
Mengunjungi tempat-tempat baru.
Dan yang paling penting, ia mulai tersenyum tanpa merasa bersalah.
Suatu sore, hujan kembali turun.
Nara berdiri di depan jendela.
Dulu, hujan selalu mengingatkannya kepada Arga.
Sekarang, hujan hanya menjadi hujan.
Ia tersenyum.
Ternyata waktu tidak benar-benar menghapus kenangan.
Waktu hanya mengajarkan seseorang bagaimana hidup berdampingan dengan kenangan tanpa harus terluka karenanya.
Ponselnya berbunyi.
Sebuah pesan masuk.
Nama Arga muncul di layar.
Nara terdiam.
Tangannya sempat gemetar.
Ia membuka pesan itu.
"Apa kabar?"
Hanya dua kata.
Dulu, dua kata itu mungkin akan membuatnya berlari kembali.
Namun sekarang, Nara hanya menatap layar beberapa detik.
Ia kemudian mematikan ponselnya.
Tidak ada kemarahan.
Tidak ada tangisan.
Tidak ada rasa ingin membalas.
Hanya sebuah ketenangan yang sebelumnya tidak pernah ia miliki.
Nara kembali menatap hujan.
"Terima kasih," bisiknya.
Bukan kepada Arga.
Melainkan kepada dirinya sendiri.
Karena telah bertahan.
Karena telah menangis.
Karena telah jatuh.
Dan karena akhirnya berhasil berdiri kembali.
Patah hati pernah membuatnya merasa bahwa hidupnya telah berakhir.
Ternyata tidak.
Patah hati hanya membuat satu cerita selesai.
Dan dari halaman yang kosong, Nara akhirnya belajar menulis cerita baru.
Cerita tentang dirinya.
Tentang keberanian.
Tentang melepaskan.
Dan tentang menemukan bahwa kehilangan seseorang tidak berarti kehilangan seluruh kebahagiaan dalam hidup.
Hujan perlahan berhenti.
Langit mulai menampakkan warna jingga.
Nara tersenyum.
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia tidak lagi menunggu seseorang datang.
Ia hanya menunggu dirinya sendiri menjadi bahagia.
Dan kali ini, ia tahu—
ia tidak akan meninggalkan dirinya sendiri lagi.