Nomor yang Tak Dikenal
Namanya Nara. Ia seorang mahasiswi semester tiga yang menjalani hari-harinya seperti kebanyakan anak kuliah lainnya: bangun kesiangan, mengejar dosen, mengerjakan tugas sampai malam, lalu menghabiskan waktu sebelum tidur dengan memainkan ponselnya.
Nara bukan tipe perempuan yang mudah dekat dengan orang baru. Ia lebih suka lingkaran pertemanan kecil dan merasa nyaman dengan kehidupannya yang sederhana.
Sampai suatu malam, sebuah pesan WhatsApp masuk.
Nomor tidak dikenal.
«+62 8xx-xxxx-xxxx:
"Kamu masih sering duduk di bangku pojok dekat jendela?"»
Nara mengernyitkan dahi.
Ia memeriksa foto profil nomor tersebut. Kosong.
Tidak ada nama. Tidak ada status. Tidak ada petunjuk.
«Nara:
"Maaf, ini siapa?"»
Pesannya hanya dibaca.
Lima menit.
Sepuluh menit.
Tidak ada balasan.
Nara akhirnya meletakkan ponselnya dan menganggapnya salah kirim.
Namun sebelum tidur, pesan lain masuk.
«Nomor tidak dikenal:
"Anggap saja aku seseorang yang kebetulan memperhatikanmu."»
Nara langsung duduk.
"Memperhatikan aku?"
Entah mengapa kalimat itu membuat bulu kuduknya sedikit merinding.
Ia berniat memblokir nomor tersebut.
Tapi rasa penasaran mengalahkan niatnya.
«Nara:
"Memperhatikan dari mana?"»
Kali ini balasannya cepat.
«Nomor tidak dikenal:
"Dari tempat yang cukup jauh untuk tidak mengganggumu."»
Nara tersenyum kecil.
Misterius sekali.
Sejak malam itu, mereka mulai berbicara.
Nara tidak pernah mendapatkan nama asli orang tersebut. Ia hanya memanggilnya "Nomor Misterius."
Anehnya, percakapan mereka terasa nyaman.
Mereka membicarakan hal-hal kecil.
Tentang dosen yang menyebalkan.
Tentang tugas yang tidak ada habisnya.
Tentang makanan favorit.
Tentang lagu yang mereka dengarkan ketika sedang sedih.
Bahkan tentang mimpi-mimpi yang selama ini jarang mereka ceritakan kepada orang lain.
Suatu malam, Nara bertanya.
«Nara:
"Kenapa kamu chat aku?"»
Lama sekali tidak ada jawaban.
Kemudian muncul tulisan:
sedang mengetik...
Hilang.
Muncul lagi.
Hilang lagi.
Akhirnya sebuah pesan masuk.
«Nomor Misterius:
"Karena setiap kali melihat kamu, kamu kelihatan seperti orang yang selalu berusaha terlihat baik-baik saja."»
Nara terdiam.
Kalimat itu terasa berbeda.
Karena selama ini memang begitu.
Di depan teman-temannya, Nara selalu tertawa. Ia selalu mengatakan bahwa dirinya baik-baik saja.
Tapi ternyata ada seseorang yang menyadarinya.
Malam itu, untuk pertama kalinya Nara menceritakan masalah yang sedang ia hadapi.
Tentang tekanan kuliah.
Tentang rasa kesepian.
Tentang ketakutannya mengecewakan orang tua.
Nomor Misterius hanya mendengarkan.
Tidak menghakimi.
Tidak memotong.
Tidak memberikan nasihat berlebihan.
Ia hanya berkata:
«"Kalau hari ini terasa berat, kamu nggak harus pura-pura kuat di depanku."»
Sejak saat itu, hubungan mereka berubah.
Pesan "selamat pagi" menjadi kebiasaan.
Pesan "sudah makan?" menjadi sesuatu yang selalu Nara tunggu.
Dan pesan "selamat tidur" menjadi penutup setiap harinya.
Mereka belum pernah bertemu.
Bahkan Nara tidak tahu seperti apa wajahnya.
Namun anehnya, ia mulai merasa dekat.
Sangat dekat.
Ketika Nara mendapat nilai bagus, orang pertama yang ia cari di WhatsApp adalah dia.
Ketika Nara menangis, orang pertama yang ia hubungi juga dia.
Begitu pula sebaliknya.
Nomor Misterius perlahan mulai menceritakan kehidupannya.
Tentang kesepian yang ia rasakan.
Tentang keluarga.
Tentang masa lalu.
Tentang alasan mengapa ia tidak pernah memasang foto profil.
Hubungan mereka akhirnya memiliki sebuah nama.
Bukan pacaran secara resmi.
Bukan juga sekadar teman.
Mereka menyebutnya "kekasih dunia maya."
Sebuah hubungan yang hanya hidup melalui layar.
Mereka saling mengirim foto makanan.
Saling merekomendasikan lagu.
Menonton film secara bersamaan sambil melakukan panggilan suara.
Kadang mereka bahkan tertidur dengan panggilan yang masih tersambung.
Bagi Nara, dunia maya itu perlahan menjadi tempat yang terasa nyata.
Sampai suatu malam, Nomor Misterius mengirim pesan yang berbeda.
«Nomor Misterius:
"Nara."»
«Nara:
"Iya?"»
«Nomor Misterius:
"Kalau suatu hari aku ngajak kamu bertemu, kamu mau?"»
Jantung Nara berdetak lebih cepat.
Selama berbulan-bulan, ia selalu penasaran siapa sebenarnya orang di balik nomor tersebut.
«Nara:
"Mau."»
Beberapa detik kemudian, sebuah lokasi dikirimkan.
Sebuah kedai kopi yang letaknya tidak terlalu jauh dari kampus Nara.
Lalu pesan berikutnya muncul.
«Nomor Misterius:
"Besok. Jam empat sore."»
Nara menatap layar cukup lama.
Untuk pertama kalinya, hubungan yang selama ini hanya hidup di antara gelembung-gelembung chat akan bertemu dengan dunia nyata.
Keesokan harinya, Nara datang lebih awal.
Ia duduk di dekat jendela.
Persis seperti yang pernah ditanyakan orang itu pada malam pertama mereka berbicara.
Pukul empat lewat lima.
Tidak ada siapa-siapa.
Pukul empat lewat sepuluh.
Masih kosong.
Ponsel Nara bergetar.
Satu pesan masuk.
«Nomor Misterius:
"Lihat ke belakangmu."»
Nara perlahan berbalik.
Seorang laki-laki berdiri beberapa meter darinya.
Ia tersenyum.
Kemudian mengangkat ponselnya.
Nara melihat layar ponsel laki-laki itu.
Ada satu kontak WhatsApp yang sedang terbuka.
Namanya:
Nara ❤️
Untuk beberapa detik, Nara hanya terdiam.
Laki-laki itu berjalan mendekat.
"Jadi..." katanya gugup, "kamu ternyata lebih cantik daripada yang ada di pikiranku."
Nara tertawa kecil.
"Dan kamu ternyata benar-benar ada."
Laki-laki itu mengangguk.
"Aku pernah takut kamu nggak mau bertemu."
"Aku juga takut."
"Takut apa?"
Nara tersenyum.
"Takut kalau orang yang selama ini bikin aku nyaman ternyata cuma ada di layar."
Laki-laki itu terdiam sebentar.
Kemudian berkata pelan,
"Kalau begitu, mulai hari ini jangan cuma kenal aku lewat layar."
Nara tersenyum.
Untuk pertama kalinya, ia menyadari bahwa nomor tidak dikenal yang dulu ingin ia blokir ternyata telah menjadi seseorang yang paling ia tunggu pesannya setiap hari.
Dan sebuah hubungan yang awalnya hanya terdiri dari teks, emoji, dan suara dari balik telepon...
akhirnya memiliki kesempatan untuk menjadi nyata.