Kesalahan terbesar dalam hidupku mungkin hanya berlangsung tiga detik.
Aku salah mengirim foto.
Hari itu aku sedang bersama teman-teman setelah latihan.
Kami mengambil beberapa foto untuk dokumentasi.
Aku membuka galeri dan memilih salah satu foto.
Rencananya ingin kukirim ke grup.
Tetapi karena terlalu terburu-buru, jariku salah menekan nama.
Foto itu terkirim kepada Astri.
Aku membeku.
"Ya ampun."
Aku melihat layar.
Pesan sudah terkirim.
Aku langsung menariknya.
Namun terlambat.
Astri sudah melihatnya.
Beberapa detik kemudian muncul pesan:
"Ini buat aku?"
Aku menutup wajah.
Aku ingin menghilang.
Aku mengetik:
"Maaf, salah kirim."
Dia membalas:
"Wkwk."
Aku semakin malu.
"Jangan diketawain."
"Kenapa? Lucu."
Aku membaca pesan itu sambil tersenyum.
Percakapan yang selama ini sulit kumulai justru dimulai karena kesalahan.
Kami kemudian membicarakan foto tersebut.
Dia bertanya siapa saja yang ada di sana.
Aku menjelaskan.
Kemudian dia bertanya tentang latihan.
Aku menjawab.
Entah bagaimana, percakapan berlangsung cukup lama.
Malamnya kami masih bertukar pesan.
Tidak romantis.
Tidak berlebihan.
Hanya percakapan biasa.
Tetapi aku merasa senang.
Keesokan harinya, aku datang latihan.
Aku melihat Astri.
Dia tersenyum ketika melihatku.
"Masih malu gara-gara foto kemarin?"
Aku tertawa.
"Iya."
Dia kembali tertawa.
"Padahal biasa saja."
Aku mengangguk.
"Menurut kamu biasa."
Dia menatapku sebentar.
Kemudian berkata,
"Ya sudah, jangan dipikirin."
Aku tersenyum.
Hari itu kami lebih sering berbicara.
Aku mulai mengenalnya bukan dari apa yang kulihat, tetapi dari apa yang dia ceritakan.
Aku mengetahui bahwa dia menyukai beberapa jenis makanan.
Aku mengetahui lagu yang sering dia dengarkan.
Aku mengetahui bahwa ketika gugup, dia juga bisa menjadi pendiam.
Ternyata kami memiliki kesamaan.
Kami sama-sama sering berpikir terlalu banyak sebelum mengatakan sesuatu.
Aku tertawa ketika mengetahuinya.
"Berarti bukan cuma aku."
Dia menjawab,
"Memangnya kamu kenapa?"
"Kalau mau ngomong sama kamu suka mikir dulu."
Dia terdiam.
Kemudian tersenyum.
"Kenapa harus mikir?"
Aku mengangkat bahu.
"Takut salah."
Dia tertawa kecil.
"Ngobrol biasa saja."
Kalimat itu terus kuingat.
Ngobrol biasa saja.
Mungkin selama ini aku terlalu menjadikan Astri seseorang yang sempurna dalam pikiranku.
Akibatnya aku takut melakukan kesalahan.
Padahal dia juga manusia.
Dia juga bisa tertawa.
Dia juga bisa salah.
Dia juga bisa gugup.
Sejak hari itu, aku berhenti terlalu banyak berpikir.
Kalau ingin menyapa, aku menyapa.
Kalau ingin bertanya, aku bertanya.
Kalau ingin bercanda, aku bercanda sewajarnya.
Hubungan kami perlahan menjadi lebih nyaman.
Kami masih belum tahu akan menjadi apa.
Namun setidaknya sekarang tidak ada lagi jarak sebesar sebelumnya.
Beberapa minggu kemudian, kami mengambil foto bersama seluruh kelompok.
Setelah foto selesai, Astri melihat hasilnya.
"Bagus."
Aku ikut melihat.
Kemudian dia berkata,
"Kirim ke aku ya."
Aku mengangguk.
Kali ini aku tidak salah kirim.
Aku memilih fotonya dengan hati-hati.
Aku mengirim.
Dia membalas:
"Makasih."
Aku tersenyum.
Lucu sekali.
Sebuah kesalahan yang awalnya membuatku malu justru menjadi awal percakapan yang tidak pernah berani kumulai.
Aku akhirnya memahami bahwa tidak semua kesalahan harus disesali.
Beberapa kesalahan justru membuka pintu yang selama ini tertutup.
Tetapi aku juga belajar untuk tidak menganggap setiap kejadian sebagai tanda bahwa seseorang pasti memiliki perasaan yang sama.
Astri mungkin hanya nyaman berbicara denganku.
Mungkin dia menganggapku teman.
Mungkin ada kemungkinan lain.
Aku tidak tahu.
Dan aku tidak perlu memaksakan jawaban.
Aku cukup mengenalnya perlahan.
Jika suatu hari perasaan kami ternyata berjalan ke arah yang sama, aku akan bersyukur.
Jika tidak, aku tetap memiliki sebuah kenangan.
Kenangan tentang satu foto yang salah kirim.
Tentang rasa malu yang berubah menjadi tawa.
Tentang dua orang yang awalnya hanya saling melihat dari jauh, lalu akhirnya belajar berbicara.
Dan sampai sekarang, setiap kali aku membuka galeri dan melihat foto itu, aku selalu tersenyum.
Bukan karena fotonya istimewa.
Tetapi karena dari sebuah kesalahan kecil, aku menemukan keberanian yang selama ini tidak kusadari ada dalam diriku.
Kadang hidup memang begitu.
Kita merencanakan sesuatu dengan hati-hati.
Namun justru kesalahan kecil yang membawa kita menuju cerita baru.
Dan mungkin, kalau waktu bisa diulang, aku tidak akan menghapus pesan itu.
Aku akan membiarkannya terkirim.
Karena mungkin memang begitulah cara cerita kami dimulai