Aku bangun jam 10 pagi, lagi.
Bukan karena malas. Aku sudah terjaga dari jam 5, menatap plafon. Otakku sibuk menghitung lagi berapa lama aku begini.
Kuliahku tidak jadi. Bukan tidak mau, tapi memang tidak bisa. Lalu aku melamar. Satu, dua, sepuluh email terkirim. Balasannya cuma satu: "Terima kasih sudah melamar."
Sekalinya ada yang memanggil, di luar kota. Aku sudah senang sekali waktu itu. Sudah aku siapkan bajunya. Lalu ibu bilang, "Jangan ya, nak. Ibu takut. Berita di TV itu lho..."
Aku mengerti. Aku benar-benar mengerti rasa takutnya. Jadi aku batalkan lagi. Dan lagi. Dan lagi.
Di titik ini, aku bukan lagi sedih karena gagal. Aku lelah karena bahkan untuk mencoba pun, aku harus kalah dulu.
Teman-temanku sudah punya cerita masing-masing. Ada yang wisuda, ada yang sudah kerja. Aku? Aku masih di kamar yang sama, dengan mimpi-mimpi yang sama yang belum juga kucapai. Mau jadi ini, mau punya itu, mau membahagiakan orang tua. Daftarnya masih panjang di notes HP, tapi rasanya aku yang semakin pendek.
Kadang aku merasa seperti gelas yang retak pelan-pelan. Tidak pecah sekaligus. Hanya retak kecil setiap hari. Hari ini retak karena lowongan yang tutup. Besok retak karena umurku bertambah. Lama-lama air di dalamnya habis duluan sebelum gelasnya pecah.
Aku pernah bertanya pada diri sendiri, bisa ngga sih aku bertahan?
Malam ini, aku tidak punya jawaban besarnya. Aku tidak tiba-tiba sembuh dan semangat. Tidak.
Yang aku punya malam ini cuma satu hal kecil: Aku masih di sini. Nafasku masih ada. Dan impian-impian itu, walaupun belum tercapai, belum aku hapus dari notes.
Mungkin bertahan bukan berarti harus langsung menang. Mungkin bertahan itu cuma berarti: hari ini aku tidak menyerah dulu. Besok, kita lihat lagi.