Cerita pendek
Lelaki berwajah murung itu, sesekali memperhatikan penampilanku. Namanya Ling.
Kukira dia akan menyebut namaku. Tapi ternyata sama sekali tidak. Entah mengapa, aku berdiri. Mendekati lelaki berkacamata minus itu.
“Hai, kau kenapa terlihat murung?” tanyaku tiba-tiba.
Entah mulutku bisa bergerak. Aku merasa canggung telah mengeluarkan kalimat yang seharusnya tidak perlu aku ucapkan.
“Bukan urusanmu!” bocah lelaki itu menjawab ketus.
Wajahku mulai dikepung oleh rasa malu. Memerah. Ling mengeluarkan wajah tegasnya itu. Bukan main-main.
Dia menarik tanganku. Mencoba memberitahukan kepada-ku.
“Dinda, kau apa tidak sadar, kalau sebenarnya termenung itu salah satu penenang jiwa saat kau marah atau semacamnya,” jelasnya panjang.
“Aku sudah tahu, kan, kau sering mengatakan itu -membosankan-” ujarku.
Ling terdiam, melepaskan tanganku dari pegangan tangannya.
Dia kembali merenungkan hati. Sekian lama dia berdiam diri.
Dan itu wajah pertamanya. Selalu merenungi hati sendiri setiap saatnya. Aku kembali duduk, untunglah tidak ada siapa-siapa di kelas ini.
Aku kembali membuka buku dan membacanya. Dan akhirnya aku menemukan kalimat di buku itu. Menurutku itu berkesan. Dan kalimat itu aku ucapkan saat orang lain masih belum mengetahui tentang merenung.
1 jam berlalu. Pelajaran berikutnya di mulai. Sindiran tentang penyesalan masih menyelidiki di pikiranku. Serasa hidup ini tak berarti sama sekali.
Serena -teman yang sering bertemu denganku- itu mencoba mengalihkan pandanganku yang dari tadi berfokus ke arah buku.
“Dinda, kau dari tadi terlihat melamun, kenapa?” tanya Serena penasaran.
“Gak ada, cuma banyak pikiran,” ujarku sedikit mengeluh.
“Mikirin orang lain?” lanjut Serena.
“Nggak lah, kau ini jangan aneh-aneh deh,” jawabku pelan.
Serena menatapku ragu. Entah kenapa. Aku hanya bengong melihat sikap Serena.
“Hei, kalian berdua dari tadi ibu lihat, kalian ngobrol terus, cepat dipisah,” bu guru itu mengeluarkan suara tingginya itu.
Memang guru itu dibilang -tegas- oleh kebanyakan anak-anak.
Sebelum keluar dari gerbang sekolah. Semua anak selalu mengobrol dengan suara-suara kesenangan mereka. Sedangkan Ling, hanya dibiarkan sendiri.
Semua orang tidak pernah memedulikan Ling. Aku ingin mengetahui apa rahasia Ling yang membuat dirinya tidak dipedulikan sama sekali.
Kesenangan itu berakhir saat semua anak keluar dari gerbang sekolah. Karena mereka harus berpisah untuk beberapa saat.
Keseharian Ling, yang membuatku ingin berteman dengannya. Bukan kerena rasa kasihan, melainkan, ingin merasakan pertemanan dengan Ling.
Dia masih berada di warung makan itu. Lelaki itu duduk di pojok bagin warung itu. Aku masuk dan duduk berhadapan bersama Ling.
Pertemuan pertama ini akan menjadi kisah pertama.
Ling masih mendiamkan diri. Aku juga ikut mendiamkan diri. Rasanya kisah ini masih terasa hambar karena belum adanya dialog diantara kami terucap.
Semakin lama, kami duduk di meja ini. Sambil memakan sepiring mie ayam di warung itu.
Apa mungkin Ling tidak sadar? Hanya saja dia belum pernah melihat wajahku -saat disini-
“Hei, kau kenapa dari tadi diam terus?” tanyaku lembut.
Lelaki berkacamata bening itu tidak menjawab. Hanya melihat wajahku penuh kemurungan.
“Din, sebenarnya apa sih sifat yang membuatku tak dipedulikan sama sekali?” tanyanya serius.
“Aku juga belum tahu,” jawabku.
***
Sepulang dari percakapan antara aku dengan Ling, aku dihentikan oleh banyaknya orang yang menggerumbungi rumahku.
Aku terdesak oleh banyaknya orang yang mengelilingi rumah. Ternyata jualan ibu yang tadi pagi dibuka langsung serame itu.
Semua energi seperti terkuras semuanya. Hanya tersisa perenungan.
Aku ke kamar dan mencoba beristirahat untuk menambah energi.
Zzzzz...
Tak terasa sore yang masih terlihat senjanya itu. Tiba-tiba digantikan gelapnya dunia.
Ibu memanggilku untuk makan malam bersama. Padahal aku masih mengenakan seragam sekolah.
Banyak obrolan yang aku tuangkan di meja makan. Bersama kedua orang tuaku. Hidup sudah terasa cukup bahagia.
Setelahnya, aku harus menghadapi tumpukan buku yang ternyata isinya adalah pekerjaan rumah.
Rasa kesalku semakin menambah. Ditambah lagi malam yang begitu dingin. Dan banyak pikiran yang masih kusimpan di luar otak ini.
Satu persatu tugas itu aku kerjakan. Semakin lama, semakin mengantuk.
Jam menunjukkan pukul 23:30. Sedangkan aku masih mengerjakan tumpukan tugas itu.
---
Keesokannya hari yang paling tidak kusangka-sangka terjadi. Semua energiku demi mengerjakan soal itu sangat sia-sia.
Ternyata sekarang hari Minggu. Dan kemarin hari Sabtu. Aku masih belum sadar sama sekali.
“DINDA!! DINDA!!” panggil ibu dari dapur.
“Iya!” jawabku.
“Nak, tolong belikan gula dan garam ya,” pesan ibu.
“Siap,” ujarku sedikit semangat.
Ditengah jalan. Sekali lagi, aku terhentikan oleh Ling. Bukan karena dia menyuruhku untuk berhenti. Melainkan dia pergi ke suatu tempat. Dan itu membuatku penasaran.
Aku mencoba mengikutinya dari belakang. Ternyata dia pergi ke toko sembako. Sama seperti aku yang ingin pergi ke sana.
Ling terkejut melihatku yang menyentuh bahunya.
“Ling, kenapa kau di sini?” tanyaku.
“Ini, dimana?” jawabnya singkat.
Sebenarnya aku memang mengetahui jika Ling akan beli sesuatu di toko ini. Tapi entah kenapa aku menanyakan tentang yang tak perlu diucapkan.
***
Pagi yang cerah menyapa hari Senin. Tak terasa hari sudah berganti-ganti. Aku bergegas pergi ke sekolah karena hari ini ada upacara.
Dan kali ini takdir mempertemukanku dengan Ling lagi.
Ling berjalan dengan melihat ke arah depan. Sedangkan aku tersenyum tipis di sampingnya.
Berapa kali aku sudah memanggilnya, tapi tak kunjung sadar. Ada batu agak besar di depannya. Dan Ling akhirnya tersandung lalu terjatuh.
Semua anak hanya menonton dan menertawakan Ling. Kupikir ada yang tidak beres dengan mereka. Bukannya ditolong malah ditertawakan.
Sesampainya di kelas, aku langsung pergi ke lapangan setelah menaruh tas itu. Sama. Saat upacara di mulai. Jarak antara Ling dengan teman lainnya begitu jauh. Hanya aku yang ada disampingnya.
Mengapa mereka menjauh? Ling memperhatikan wajah Serena.
“Hei, Serena, apa kau tidak malau jika topimu diletakkan terbalik?” ujar Ling tiba-tiba.
“Gapapa, ini, kan, bukan urusanmu!” Serena sedikit kesal.
Gadis itu mulai menunduk dan merenungkan semuanya. Benar kata orang lain. Ling memang memiliki dua wajah.
Satu yang selalu termenung sendiri. Yang satu membuat orang termenung.
Apakah semua perilaku Ling berguna untuk semuanya? Apa mungkin karena itu Ling tidak pernah dipedulikan?
Semuanya menjadi paket yang terbesit di pikiranku. Aku takut jika nantinya, Ling akan pindah sekolah gara-gara anak-anak lain.
Upacara selesai. Semua anak masuk ke kelas masing-masing. Semuanya berjalan seperti biasanya.
Aku masih memikirkan semua ini sejak kejadian itu. Kenapa aku harus terlibat?
“Hei, kau ingin tahu, kenapa Ling selalu tidak dipedulikan?” ucap Serena.
“Memangnya apa?” tanyaku kembali.
“Sebenarnya dia itu, kan, selalu termenung, jadi kami tidak pernah memedulikannya karena dia bisa merenungkan masalah,” jelas Serena.
Dan aku baru tahu ternyata selama ini. Ling dijauhkan oleh teman-temannya. Hanya karena Ling bisa merenungkan semua masalah.
◦•●◉✿𝘛𝘈𝘔𝘈𝘛✿◉●•◦