Lembayung di atas langit Magic Academy selalu tampak berbeda dari belahan Land of Dawn mana pun. Cahaya magis berpendar menembus awan-awan tipis, menciptakan kilauan violet dan emas yang memantul di jendela-jendela kaca bangunan tua nan megah tersebut. Di akademi ini, sihir bukanlah sekadar ilmu pengetahuan, melainkan gaya hidup, kehormatan, sekaligus alasan utama mengapa ledakan bisa terjadi hampir setiap jam tanpa membuat siapa pun merasa heran lagi.
Pore, seekor mahluk kecil penyihir yang sedang duduk di ambang jendela menara perpustakaan, mengunyah kue keringnya dengan tenang. Namun, ketenangan itu runtuh hanya dalam hitungan detik ketika sebuah ledakan energi berwarna ungu pekat menghantam pilar batu di dekatnya.
BOOM!
Debu batu beterbangan, disertai kepulan asap beraroma manis yang khas. Dari balik asap tersebut, muncul sesosok gadis kecil dengan rambut terikat dua, mengapit bola sihir di tangannya dengan wajah bersungut-sungut. Dialah Lylia, penyihir cilik yang dikenal paling jahil dan tak bisa ditebak di seluruh penjuru Magic Academy.
"Harley! Jangan lari lo, pesulap tengil!" teriak Lylia dengan suara nyaring yang menggema di sepanjang koridor pelataran.
Di depan sana, melayang di atas kartu sihir raksasanya, berdiri Harley. Pemuda mungil itu tampil necis dengan setelan jas mini serta topi tingginya yang ikonis. Tangan kanannya memegang sebuah makhluk hitam kecil berkepala bulat yang terus mengeliat pasrah—Gloom, makhluk peliharaan sekaligus sumber kekuatan utama milik Lylia.
"Aduh, Lylia! Jangan galak-galak napa, nanti cepat tua!" sahut Harley sembari tertawa menggelegar. "Gue cuma mau pinjam Gloom sebentar buat jadi properti atraksi sulap terbaru gue di kelas Profesor Eudora nanti!"
"Siapa yang izinin lo pinjam, Ha?! Dia itu makhluk energi, bukan kelinci percobaan topi sulap kusam lo!" balas Lylia seraya menghentakkan kakinya ke tanah.
Lylia mengarahkan tangannya ke depan. Shadow Energy terkumpul di jemarinya, membentuk bola ungu pekat yang berkilat-kilat. Tanpa ragu, Lylia melempar proyektil sihir itu tepat ke arah kartu yang dikendarai Harley.
Harley yang menyadari bahaya langsung memutar tubuhnya di udara. Dengan gesit, ia melempar sebaris kartu sihir berwarna biru-emas ke udara, menciptakan ilusi teleportasi Space Magic yang membuatnya berpindah tempat secara instan beberapa meter ke depan. Bola sihir Lylia menghantam tanah kosong, menyisakan jejak luka bakar melingkar di rumput akademi.
"Meleset!" ejek Harley sambil menepuk-nepuk bagian belakang celananya. "Gini nih kalau penyihir cuma mengandalkan emosi, nggak pakai presisi!"
"Awas lo ya!" Lylia benar-benar naik pitam. Ia memanggil Alien Shadow dan mulai mengejar Harley mengelilingi pelataran akademi.
Bagi murid-murid lain yang sedang bersantai di taman, pemandangan ini sudah seperti rutinitas harian. Harley dan Lylia adalah dua sosok yang paling dihindari jika sedang berdekatan. Mereka bak minyak dan api. Harley dengan sifatnya yang sombong, mengandalkan trik sulap dan keturunan bangsawan Vance yang elegan, sementara Lylia adalah manifestasi dari kekacauan, kebebasan, dan energi kegelapan murni yang menggebu-gebu.
Namun, di balik semua pertengkaran itu, ada satu persamaan mencolok di antara keduanya: pendar warna sihir mereka. Ketika aura sihir Harley menyala bersamaan dengan mantra Lylia, langit di sekitar mereka selalu dipenuhi oleh benturan warna ungu pekat dan nila yang serupa—seolah alam semesta sengaja menakdirkan mereka untuk berbagi spektrum warna yang sama.
Pengejaran itu berlanjut hingga ke area menara latihan, tempat pilar-pilar batu tinggi berdiri kokoh sebagai rintangan. Harley dengan lincah meliuk-liuk di antara pilar, sementara Lylia terus menghujani jalur lari Harley dengan bom-bom sihir kecil.
"Tangkap ini, Harley!" Lylia melempar bom energi yang lebih besar.
Harley menengok ke belakang dan tersenyum remeh. "Terlalu lambat—"
Sret!
Perhatian Harley yang teralih membuat fokusnya pecah. Kartu sihir yang ditungganginya menyenggol salah satu genangan air licin di dekat saluran pembuangan sihir. Dalam kecepatan tinggi, keseimbangan Harley hilang total.
"Woaah!"
Topi mewahnya terlepas dan melayang di udara. Harley jatuh terjerembab ke atas tanah berbatu dengan suara hantaman yang cukup keras. Gloom yang tadinya berada di dalam genggamannya langsung terlepas, melayang kegirangan, dan segera terbang balik ke dalam pelukan hangat Lylia.
"Gloom! Lo gak apa-apa, kan?" tanya Lylia sembari memeluk makhluk kecil itu. Gloom hanya mengeluarkan suara gumaman gembira.
Lylia kemudian berjalan mendekati Harley yang masih terkapar di tanah. Rencananya, ia ingin menertawakan musuh bebuyutannya itu setinggi langit, berkacak pinggang, lalu mengejeknya sampai Harley menangis. Namun, begitu Lylia berdiri tepat di depan Harley, kalimat ejekan yang sudah disiapkannya mendadak tertahan di tenggorokan.
Harley terduduk sambil meringis kesakitan. Wajahnya yang biasanya dipenuhi rasa percaya diri kini pucat. Tangan kanannya memegang erat pergelangan kaki kirinya yang mulai membengkak dan memar. Matanya berkaca-kaca menahan rasa sakit yang luar biasa.
"Aduh... aduh, sakit banget..." gumam Harley pelan, berusaha tidak berteriak agar gengsinya tidak runtuh sepenuhnya di hadapan Lylia.
Lylia berdiri mematung. Hatinya yang semula panas mendadak mendingin, digantikan oleh rasa bersalah yang aneh. Ia melihat topi Harley yang kotor terkena lumpur tak jauh dari sana.
"Yeh... dasar lebay lo. Jatuh gitu doang masa mau nangis?" kata Lylia dengan nada suara yang sengaja dibuat ketus, meski keraguan terdengar jelas di antaranya.
"Gue gak nangis!" sahut Harley cepat, walau suara seraknya tak bisa berbohong. Ia mencoba berdiri, tetapi baru mengangkat badannya sedikit, rasa nyeri hebat langsung menjalar ke seluruh kakinya, membuatnya kembali terduduk pasrah.
Lylia menghela napas panjang. Ia berjalan mendekat, mengambil topi Harley, lalu menepuk-nepuknya hingga bersih dari debu. Setelah itu, ia berlutut di samping Harley.
"Mana yang sakit?" tanya Lylia pendek.
Harley menatap Lylia dengan dahi berkerut, merasa curiga. "Lo... lo mau ngapain? Mau nendang kaki gue yang sakit?"
"Gue jahil, tapi bukan monster, ya!" bentak Lylia kesal. Tanpa menunggu persetujuan Harley, ia meraih kaki Harley yang terkilir.
Harley meringis, tetapi Lylia menggerakkan tangannya dengan sangat lembut. Ia memberi sinyal pada Gloom. Makhluk kecil itu melayang di atas kaki Harley dan menyebarkan aura sihir ungu yang hangat dan menenangkan. Energi tersebut perlahan meresap ke dalam kulit Harley, meredakan peradangan dan rasa nyeri yang menyiksa.
Harley terpaku. Dari jarak sedekat ini, ia baru menyadari bahwa aura sihir Lylia—yang biasanya terlihat menakutkan dan merusak—ternyata terasa sangat hangat dan lembut saat digunakan untuk menyembuhkan. Mata ungu Lylia terlihat begitu fokus, dan helai rambutnya yang beraroma seperti bunga magis terurai indah.
"Lo... kenal sihir pemulih?" tanya Harley pelan, suaranya melemah.
"Gue cuma mengalihkan energi kinetik cedera lo ke Gloom, terus dibuang jadi energi netral. Jangan banyak tanya, diam aja," jawab Lylia tanpa menatap Harley. Pipi gadis kecil itu mendadak merona merah, entah karena kelelahan atau rasa canggung yang tiba-tiba menyerang.
Harley yang menyadari perubahan sikap Lylia hanya bisa tersenyum tipis. Rasa sakit di kakinya perlahan menghilang, digantikan oleh perasaan aneh yang bergetar di dadanya.
"Nanti kalau kaki lo pincang, nggak ada lagi yang bisa gue ajak ribut di sekolah," tambah Lylia cepat-cepat, berusaha menutupi perhatiannya.
Harley terkekeh pelan. Ia menjangkau saku jasnya, mengambil satu lembar kartu sihir berwarna putih polos. Dengan sebuah jentikan jari yang lincah dan sedikit riak Space Magic, kartu itu berputar di udara, terbakar oleh percikan cahaya nila, dan berubah menjadi seekor bunga mawar kecil berwarna ungu pekat.
Warna mawar itu benar-benar sempurna—persis sama dengan warna sihir mereka berdua.
Dengan perlahan, Harley mengulurkan tangannya dan menyelipkan tangkai mawar itu di antara helai rambut Lylia, tepat di samping telinganya.
Lylia tertegun. Gerakan tangannya pada kaki Harley terhenti. Ia menyentuh mawar ungu di rambutnya dengan jari-jarinya yang mungil.
"Nih, hadiah buat dokter dadakan," ucap Harley pelan. Muka anak laki-laki itu kini tak kalah merah dari buah stroberi. "Soalnya... gue pikir, warna kita sama."
Lylia menatap Harley, lalu menatap mawar di tangannya. Senyuman tipis yang sangat jarang—bahkan hampir tak pernah—dilihat oleh siapa pun di Magic Academy perlahan terukir di bibirnya.
"Bagus juga selera lo," bisik Lylia pelan.
Sore itu, di bawah naungan langit Magic Academy yang mulai menggepuk gelap, dua bocah yang biasanya membuat pusing seluruh isi sekolah duduk berdampingan di atas rumput. Di antara kepulan sihir dan ingar-bingar kekacauan yang selalu mereka ciptakan, ada sebuah warna senada yang perlahan mengikat mereka dalam diam.
***
Beberapa minggu telah berlalu sejak insiden di pelataran latihan, namun atmosfer di antara Harley dan Lylia tidak pernah benar-benar sama lagi. Tentu saja, mereka masih sering bertengkar. Harley masih suka mengejek cara Lylia mengendalikan Gloom, dan Lylia masih sering melemparkan bom sihir ke arah topi kesayangan Harley. Namun, murid-murid lain mulai menyadari satu hal: bertengkar bagi mereka berdua kini hanyalah cara lain untuk menghabiskan waktu bersama.
Suatu sore, sebuah tugas lapangan diberikan oleh akademi. Para murid tingkat menengah diminta untuk menjelajahi perbatasan Dark Forest, wilayah hutan di luar benteng akademi yang terkadang menjadi tempat melintasnya makhluk-makhluk kegelapan minor dari Abyss.
Harley dan Lylia secara tidak mengejutkan ditempatkan dalam satu tim.
"Jangan bikin malu gue ya, pesulap. Kalau ketemu monster, jangan cuma lari pakai kartu lo," ledek Lylia saat mereka berjalan menyusuri pepohonan rindang yang gelap. Pepohonan di hutan ini memiliki dahan-dahan bengkok yang menyeramkan, membuat suasana terasa mencekam.
"Tolong ya, Lylia. Gue ini bangsawan keluarga Vance. Estetika dan keberanian gue itu seimbang," balas Harley sambil memutar-mutar tongkat sulap kecilnya di jari-jarinya. "Justru lo yang harus hati-hati, jangan sampai Gloom lo dimakan monster hutan."
Gloom yang melayang di samping Lylia mengeluarkan suara "Hmph!" kecil seolah tersinggung.
Namun, gurauan mereka tidak bertahan lama. Semakin jauh mereka melangkah ke dalam hutan, keheningan yang tak wajar mulai menyelimuti sekeliling. Burung-burung sihir yang biasanya berkicau mendadak bungkam. Bau busuk belerang dan kegelapan mulai tercium di udara.
"Harley... tunggu," bisik Lylia tiba-tiba. Wajahnya berubah serius. Sebagai pengguna energi kegelapan murni, inderanya jauh lebih peka terhadap ancaman dari Abyss. "Ada yang nggak beres."
Belum sempat Harley merespons, tanah di bawah kaki mereka bergetar hebat.
ROAARRR!
Dari balik semak-semak hitam, meloncat tiga ekor Abyssal Demon bermata merah menyala. Makhluk-makhluk itu memiliki cakar tajam sebesar pedang dan kulit yang dilapisi armor tebal. Ini bukan lagi latihan simulasi akademi—ini adalah ancaman nyata.
"Awas!" teriak Harley.
Dengan refleks cepat, Harley membuang kartu sihirnya ke tanah. Poker Trick! Efek sihirnya langsung memindahkan dirinya dan Lylia beberapa meter ke belakang tepat sebelum cakar raksasa monster pertama menghantam tempat mereka berdiri tadi.
"Ada tiga! Mereka terlalu kuat buat ukuran tugas latihan!" seru Harley, peluh dingin mulai membasahi dahinya.
"Nggak ada waktu buat takut! Kita lawan!" balas Lylia tegas.
Lylia mengarahkan tangannya ke depan, memanggil seluruh potensi sihirnya. Shadow Energy! Tiga bola energi ungu terlontar, menghantam dada monster terdepan. Monster itu meraung kesakitan, tetapi serangannya tidak cukup untuk menghentikan langkah mereka. Monster kedua menerjang maju dengan kecepatan tinggi, mengincar Lylia yang sedang berada dalam posisi terbuka.
"Lylia, awas!"
Tanpa berpikir panjang, Harley berlari menyeberangi jalur tembak. Ia melempar seluruh kartu sihir terbaiknya ke udara, menciptakan lingkaran energi bertajuk Magic Masterpiece. Puluhan kartu sihir mengitari monster tersebut, menebas kulit kerasnya dan memperlambat pergerakannya secara signifikan.
"Lylia! Sekarang!" teriak Harley.
Lylia mengangguk mantap. Ia memejamkan mata sejenak, menyatukan frekuensi energinya dengan Gloom. "Gloom! Makan energi gue dan membesar!"
Gloom menyerap aura ungu yang memancar deras dari tubuh Lylia. Tubuh kecil makhluk itu menggelembung menjadi raksasa energi hitam-ungu yang mengerikan. Dengan raungan yang bergema di seluruh hutan, Gloom melompat dan menghantamkan tubuhnya ke tanah tepat di tengah-tengah ketiga monster tersebut.
BOOOOOMMM!
Ledakan energi kegelapan yang luar biasa dahsyat meratakan pepohonan di sekitarnya. Ketiga monster Abyss itu melengking kesakitan sebelum akhirnya hancur menjadi abu hitam dan sirnah ditelan energi milik Lylia.
Gloom kembali berkurang ukurannya dan terbang loyo ke dalam pelukan Lylia. Lylia sendiri terduduk lelah di atas tanah, kehabisan mana setelah mengeluarkan jurus terbesarnya.
Harley berjalan mendekat dengan napas terengah-engah. Setelan jas mewahnya kini terkoyak sedikit di bagian lengan, dan topinya miring. Namun, ia menyunggingkan senyum lebar yang sangat tulus.
"Hebat juga lo, bocah monster," puji Harley sambil mengulurkan tangannya pada Lylia.
Lylia mendongak, menatap uluran tangan Harley. Untuk pertama kalinya, Lylia tidak menolaknya. Ia meraih tangan Harley dan membiarkan pesulap cilik itu membantunya berdiri.
"Lo juga... nggak payah-payah amat buat seorang pesulap," balas Lylia pelan, menyembunyikan rasa kagumnya atas aksi cepat Harley yang menyelamatkannya tadi.
Saat mereka berdiri berdekatan di tengah puing-puing pertempuran, sisa-sisa energi sihir dari ledakan tadi masih melayang-layang di udara. Bintik-bintik cahaya berwarna ungu pekat dan nila menari-nari mengelilingi mereka berdua, menciptakan pemandangan yang sangat indah di tengah kegelapan Dark Forest.
Harley menatap wajah Lylia yang tersapu cahaya ungu tersebut. Mawar ungu yang ia berikan beberapa minggu lalu kini sudah ia ubah menjadi mawar sihir abadi yang tersimpan aman di dalam loket kecil yang tergantung di leher Lylia.
"Lylia," panggil Harley pelan.
"Apa?"
"Sepertinya... dunia ini luas banget ya," ujar Harley sambil menatap langit malam yang mulai dihiasi bintang-bintang. "Tapi anehnya, dari semua penyihir hebat di Land of Dawn, cuma lo yang punya warna sihir yang paling pas kalau disandingkan sama sihir gue."
Lylia tertegun mendengar ucapan jujur yang keluar dari mulut Harley—sesuatu yang sangat langka dari seorang bangsawan Vance yang biasanya dipenuhi kesombongan.
Lylia memegang loket di lehernya, lalu menyunggingkan senyum hangat. Ia melangkah sedikit lebih dekat ke samping Harley, membuat bahu kecil mereka saling bersentuhan.
"Ya... lo benar," bisik Lylia lembut. "Dua bocah, dalam satu warna. Jangan berani-berani lo ubah warna sihir lo, Harley."
Harley tertawa pelan, lalu merangkul bahu Lylia dengan canggung namun penuh kehangatan. "Nggak akan pernah, Lylia. Nggak akan pernah."
Di bawah pendar cahaya ungu yang menaungi mereka, dua penyihir cilik itu berjalan berdampingan kembali menuju Magic Academy. Mereka tahu, besok hari pertengkaran dan kekacauan baru akan kembali dimulai. Namun malam ini, di tengah riuh dan bahayanya dunia, mereka telah menemukan satu warna abadi yang akan selalu menyatukan langkah mereka.
◦•●◉✿𝘌𝘕𝘋✿◉●•◦