Malam itu, gemercik hujan di luar jendela kamar yang mulai melapuk terasa seperti simfoni duka yang tak kunjung usai. Di atas kasur busa yang tipis, Laras meringkuk pelan, menahan agar isaknya tidak terdengar oleh dua buah hatinya yang sedang lelap. Dada Laras sesak, menyimpan luka yang menganga hebat akibat kalimah yang baru saja terlontar dari mulut suaminya, Rendy.
Semua berawal dari hal sepele. Rendy yang belakangan kerap pulang larut malam marah besar hanya karena Laras bertanya pelan, "Mas, uang belanja bulan ini kurang sedikit untuk bayar SPP anak-anak. Apa ada rezeki lebih?"
Pertanyaan tulus yang diucapkan dengan sangat hati-hati itu justru memicu amarah Rendy. Tatapannya menajam, merendahkan. Dengan nada tinggi yang memecah keheningan malam, kata-kata berbisa itu meluncur begitu saja dari mulut orang yang paling dia percayai:
"Kamu tuh apa, sih?! Kamu dan keluargamu bisa bernapas lega dan hidup layak kayak begini tuh cuma karena diangkat derajatnya sama gue! Minta uang melulu, kayak enggak tahu diri!"
Laras tertegun. Detik itu, badannya bergetar hebat. Airmata merembes deras tanpa bisa ia tahan. Kata-kata itu menancap tepat di ulu hati, menghancurkan sisa-sisa harga dirinya sebagai seorang istri yang selama ini memilih bungkam demi keutuhan rumah tangga.
Di bawah remang lampu kamar, Laras memandangi telapak tangannya yang kasar akibat tumpukan pekerjaan rumah tangga yang tak pernah usai. Diangkat derajatnya? Suara itu terus bergema di kepalanya bagai kaset rusak.
Ingatan Laras seketika terlempar ke masa delapan tahun lalu, saat Rendy datang melamarnya. Saat itu, Rendy hanyalah seorang pemuda biasa tanpa pekerjaan tetap dan tanpa modal. Begitu besarnya rasa percaya dan cinta Laras, ia merelakan segalanya. Rendy menikahi Laras tanpa mampu memberikan mas kawin yang layak—bahkan mahar pernikahan mereka saat itu dibeli dari sisa tabungan Laras sendiri, sesuatu yang dirahasiakan Laras dari keluarganya demi menjaga kehormatan sang suami.
Bukan hanya itu. Usaha konveksi yang kelak membuat Rendy dipandang sukses dan kaya raya tidak pernah berdiri dari tanah kosong begitu saja. Usaha itu lahir dari tetes keringat Laras sewaktu masih gadis. Laras rela menggadaikan seluruh perhiasan emas hasil kerja kerasnya bertahun-tahun sebagai buruh pabrik—perhiasan yang dikumpulkan dengan menahan lapar dan dahaga—hanya agar Rendy memiliki modal awal untuk membuka jalan usahanya.
Namun, seperti kacang yang lupa pada kulitnya, kemudahan hidup yang perlahan datang membuat Rendy buta. Begitu usahanya maju pesat, memiliki beberapa mobil, sepeda motor besar, dan tabungan ratusan juta, Rendy berubah total. Dia lupa siapa yang memeluknya saat dia tidak memiliki apa-apa.
Laras yang memutuskan berhenti bekerja untuk fokus mengurus rumah tangga dan anak-anak justru dipandang sebelah mata. Di mata Rendy, Laras hanyalah "benalu" yang tidak berpenghasilan dan hanya bisa menumpang hidup. Bertahun-tahun rumah tangga mereka diwarnai pertengkaran. Rendy mulai berani main wanita di luar, memamerkan kekayaannya kepada wanita-wanita lain, membanggakan aset dan kendaraannya, sembari terus menorehkan luka teramat dalam di dada Laras. Laras sering kali menangis sendirian di sudut dapur, meratapi nasibnya yang dahulunya adalah seorang putri kesayangan ayah dan ibunya, namun kini diinjak-injak oleh lelaki yang berjanji melindunginya di hadapan Tuhan.
"Tuhan... jika memang aku tidak ada harganya lagi di matanya, beri aku kekuatan untuk bertahan demi anak-anak," bisik Laras malam itu dalam sujud malamnya yang panjang. Airmata menetes menembus kain mukena yang sudah mulai kusam.
Laras tidak pernah membalas makian suaminya dengan dendam. Dia tidak pernah mengutuk. Namun, langit mendengar bisikan jiwa-jiwa yang terzalimi.
Roda kehidupan berputar tanpa ada seorang pun yang bisa menahannya. Hanya dalam kurun waktu satu tahun setelah peristiwa malam kelam itu, takdir Tuhan bekerja dengan cara yang sangat tak terduga.
Dimulai dari satu keputusan bisnis Rendy yang ceroboh akibat kesombongannya. Dia ditipu oleh rekan bisnis yang paling dia percayai dalam sebuah proyek bernilai miliaran rupiah. Usaha konveksinya mendadak gulung tikar. Tagihan utang dari bank dan pemasok bahan datang bertubi-tubi seperti ombak yang menghantam karang.
Satu per satu aset yang selama ini dibanggakan Rendy menguap. Mobil-mobil mewahnya disita. Sepeda motor besarnya dijual murah demi menutup gaji karyawan yang tertunggak. Tabungan ratusan juta di bank ludes tak tersisa untuk membayar sisa utang penalti. Wanita-wanita simpanan yang dahulu mendekatinya karena uang, lari berhamburan meninggalkan Rendy begitu tahu dompetnya telah kosong melompong.
Rendy di-NOL-kan oleh Allah. Sungguh-sungguh nol. Tanpa sisa, tanpa takhta, dan tanpa teman-teman yang dahulu mengerumuninya.
Suatu sore, Rendy duduk sendirian di teras rumah mereka yang kini tampak sepi dan lengang. Garasi yang biasanya diisi kendaraan mewah kini kosong melompong. Pria yang dahulu berdiri gagah dan berkata sombong itu kini menunduk dalam, menatap lantai dengan mata yang layu dan wajah yang tirus. Keangkuhannya telah runtuh tak berbekas.
Laras berjalan pelan keluar dari dalam rumah, membawa segelas teh hangat. Dia meletakkannya dengan lembut di atas meja kayu kecil di sebelah Rendy. Tidak ada tatapan benci, tidak ada senyum kemenangan, dan tidak ada kalimat *"Kan, apa aku bilang?"* dari bibir Laras. Yang ada hanyalah tatapan teduh seorang wanita yang telah selesai dengan lukanya.
Rendy mendongak, menatap Laras dengan mata yang berkaca-kaca. Rasa malu, bersalah, dan penyesalan menyeruak hebat di dadanya hingga membuatnya kesulitan bernapas.
"Laras..." suara Rendy bergetar hebat, pecah untuk pertama kalinya. "Kenapa... kenapa kamu masih di sini? Kenapa kamu enggak tinggalkan aku waktu aku jatuh? Aku... aku sudah jahat sama kamu. Aku sudah menghina kamu dan keluarga kamu..."
Rendy menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangan. Bahunya berguncang keras. Pria yang dahulu merasa sanggup " mengangkat derajat" orang lain itu kini terisak layaknya seorang anak kecil yang kehilangan arah.
Laras duduk di sampingnya, memandangi dedaunan yang gugur di halaman.
"Mas," ucap Laras dengan suara lembut namun teramat tegas. "Saat kamu menghina aku dan keluargaku malam itu, hatiku sudah hancur tak berwujud. Aku menangis bukan karena aku lemah, tapi karena aku sadar betapa kamu telah lupa pada proses dan perjuangan kita dari bawah."
Laras menghela napas panjang, menahan getaran di dadanya saat mengingat kembali masa-masa sulit itu.
"Emas hasil kerjaku saat gadis dulu yang kuikhlaskan untuk modal usahamu tidak pernah kusebut-sebut, Mas. Begitu juga mahar yang tak pernah kamu berikan secara layak. Aku menerima segalanya karena aku menghormatimu sebagai suamiku. Aku bertahan bukan karena aku butuh hartamu, tapi karena aku memegang teguh janjiku pada Allah dan anak-anak."
Rendy semakin tertunduk. Kata-kata Laras tidak diucapkan dengan nada marah, namun justru karena itulah terasa ratusan kali lebih menyayat dadanya daripada makian mana pun.
"Allah mengambil segalanya dari kamu bukan karena Dia benci, Mas," lanjut Laras pelan. "Tapi mungkin Allah rindu melihatmu menunduk dan berdoa dengan tulus, bukan dengan kesombongan."
Rendy berlutut di hadapan Laras, menggenggam erat jemari istrinya yang kasar—jemari yang dahulu pernah dipandang sebelah mata, namun kini menjadi satu-satunya tangan yang masih sudi menggenggamnya di titik terendah dalam hidupnya.
"Maafkan aku, Laras... Maafkan aku..." bisik Rendy di tengah isak tangisnya yang memilukan.
Laras memandangi suaminya dengan kepedihan yang mendalam, lalu mengangguk pelan. Dia memaafkan, sebab mendendam hanya akan mengotori jiwanya sendiri, meski bekas luka di hatinya akan selalu ada sebagai pengingat sebuah perjalanan panjang.
---
Pesan untuk para lelaki yang telah menikah:
Jangan pernah sekali-kali menyakiti wanita yang dahulu dibesarkan dengan penuh kasih sayang oleh kedua orang tuanya. Sebelum dia menjadi istrimu, ada seorang ayah yang menjaganya dengan nyawa dan seorang ibu yang mendoakannya di setiap sujud. Jangan pernah menganggap rendah seorang istri hanya karena dia tidak menghasilkan uang, sebab keringat dan pengorbanannya di rumah adalah fondasi utama dari setiap rezeki yang kamu nikmati.
Ingatlah, harta dan takhta adalah titipan yang bisa dicabut oleh-Nya dalam sekejap mata. Jangan sampai kesombonganmu membuat Tuhan menegurmu dengan cara di-NOL-kan, hingga kamu baru menyadari harga sebuah ketulusan saat segalanya telah terlambat.