Hujan turun perlahan di luar jendela perpustakaan sekolah. Aulia duduk sendirian di antara rak-rak buku, membuka sebuah buku sejarah yang sampulnya sudah mulai pudar.
Di halaman itu tertulis nama yang membuatnya berhenti membaca.
Tan Malaka.
Aulia pernah mendengar namanya dalam pelajaran sejarah. Seorang tokoh pergerakan nasional, pemikir, dan pejuang yang mengabdikan hidupnya untuk Indonesia. Namun, semakin ia membaca, semakin banyak pertanyaan muncul di kepalanya.
Seperti apa sebenarnya kehidupan seorang pejuang pada masa itu?
Ia membalik halaman berikutnya. Di antara lembaran buku, terselip secarik kertas tua dengan tulisan tangan:
«“Untuk memahami perjuangan, jangan hanya membaca sejarah. Ikutilah jejaknya.”»
Aulia mengerutkan kening.
“Jejaknya?”
Saat jarinya menyentuh tulisan itu, cahaya putih tiba-tiba memenuhi halaman buku. Angin berputar di dalam perpustakaan, membuat beberapa lembar kertas beterbangan.
Aulia berusaha berdiri, tetapi pandangannya mulai kabur.
Dalam sekejap, suara hujan menghilang.
Ketika membuka mata, ia tidak lagi berada di perpustakaan.
Di hadapannya terbentang jalan tanah, rumah-rumah sederhana, dan suasana yang jauh berbeda dari dunia yang ia kenal. Orang-orang berjalan dengan pakaian zaman dahulu. Dari kejauhan terdengar suara percakapan tentang perjuangan dan keadaan negeri.
Aulia menatap sekeliling dengan gugup.
“Ini… di mana?”
“Pertanyaan yang bagus.”
Suara seorang laki-laki terdengar dari belakangnya.
Aulia berbalik.
Seorang pria berdiri tidak jauh darinya. Wajahnya tenang, sorot matanya tajam, dan sikapnya menunjukkan seseorang yang terbiasa berpikir mendalam.
Aulia mengenali wajah itu dari foto-foto sejarah.
Tan Malaka.
“Tan… Tan Malaka?” ucapnya hampir tidak percaya.
Pria itu mengamati Aulia sejenak.
“Kau mengenalku?”
Aulia mengangguk cepat. “Saya… saya belajar tentang perjuangan Anda di sekolah.”
Tan Malaka tersenyum tipis.
“Kalau begitu, mungkin ada sesuatu yang ingin kau pelajari lebih dari sekadar nama dan tanggal.”
Aulia terdiam.
Di hadapannya berdiri seorang tokoh yang selama ini hanya ia kenal melalui buku. Kini, ia berada di tengah zaman perjuangan, menyaksikan sejarah bukan sebagai tulisan, melainkan sebagai kehidupan nyata.
Tan Malaka melangkah menyusuri jalan.
“Bangsa yang besar tidak hanya dibangun oleh mereka yang memegang senjata,” katanya. “Pikiran, pendidikan, dan keberanian juga memiliki peran.”
Aulia mengikuti langkahnya.
Untuk pertama kalinya, ia merasa bahwa perjalanan ini bukan sekadar perjalanan menembus waktu.
Ini adalah perjalanan untuk memahami arti perjuangan.
Dan tanpa ia sadari, jejak Tan Malaka akan mengubah cara pandangnya terhadap sejarah Indonesia selamanya.