New York City, 2027.
Satu bulan setelah kejadian Ricochet 2.
Leo Foster sedang mengantar makanan ke sebuah apartemen. Saat menekan bel, ia tiba-tiba merasa ada sesuatu yang aneh. Udara terasa berat. Seperti ada yang mengamati dari jauh.
Di sisi lain kota, Damian Sterling sedang istirahat di rumah sambil mendengarkan radio. Ia menghentikan siaran. Ada hawa yang tidak biasa. Sesuatu yang besar dan asing.
Sementara itu, Marcus Vance sedang berlatih MMA di ruang sempitnya. Gerakan tinjunya berhenti di udara. Ia merasakan hal yang sama—sesuatu yang sungguh aneh dan mengancam.
Di tengah kota, langit retak. Sebuah pesawat luar angkasa futuristik muncul. Dari dalamnya turun sosok humanoid tinggi besar dengan zirah bio-organik berwarna hitam-emas yang memancarkan energi kosmik. Wajahnya tertutup topeng holografik yang terus berubah mengikuti garis waktu multiverse yang ia amati.
Namanya Kronos. Berasal dari planet Xylar-9. Tujuannya sederhana dan mengerikan: menghapus semua alam semesta lain dan menyisakan satu alam semesta tunggal di bawah kendali mutlaknya.
Masa lalu Kronos.
Di planet asalnya, Xylar-9, para ilmuwan menciptakan mesin generator energi berbasis lubang hitam bernama The Nexus Anchor. Saat mesin itu meledak dan menghancurkan planetnya, kesadaran mental Kronos terlempar ke dalam inti ruang dan waktu—The Void. Di sana ia tidak hanya selamat. Otaknya mengalami evolusi kosmik. Ia bisa melihat The Multiverse Tree, jutaan realitas alternatif yang berjalan bersamaan. Ia menyadari setiap realitas memiliki energi kehidupan yang bisa dipanen.
Damian datang ke tempat latihan Marc. “Aku merasakan hawa yang aneh.”
Leo juga baru saja tiba. “Sama. Ada yang nggak beres.”
Awalnya Marc berbohong. “Tidak ada apa-apa.”
Tapi setelah didesak Damian, ia mengaku. Damian mengajaknya ke kota. Marc menolak. Lalu berpikir sebentar. Kalau ancaman ini benar-benar mengancam hidupnya, lebih baik ikut. Akhirnya ia pergi bersama mereka.
Sesampainya di tengah kota, tempat itu sudah dipenuhi alien yang menyerang. Leo sedikit mengejek sambil mengeluarkan katana. “Wah, alien juga masuk antrean ya hari ini.”
Mereka bertiga bertarung. Semuanya kesusahan. Kronos bergerak terlalu cepat dan terlalu kuat. Ia menangkap badan Marc, lalu memukul perutnya sampai bolong. Marcus Vance dari Earth-202 mati di tempat.
Damian tidak merasakan hawa Marc lagi. Ia sedih. Lalu menyerang Kronos membabi buta. Sayangnya gagal. Kepala Damian dihancurkan. Ia pun mati.
Leo masih berusaha. Kronos memukulnya sampai jatuh. Tapi karena kekuatan Kineti-Mesh, benturan pertama diserap. Leo selamat. Kronos memukul lagi, dan kali ini melemparnya masuk ke celah dimensi Nexus Anchor yang ditinggalkan saat menyerang.
Leo terbangun di dalam celah dimensi. Di tangannya ada sisa-sisa alat pelacak dimensi milik Kronos yang rusak. Ia mencoba menyalakannya. Layar holografik menyala. Di depannya terbentang pohon multiverse yang tak berujung.
Ia berasal dari Universe Earth-202—dunia utama.
Sekarang tujuannya jelas: mencari Marc dan Damian di multiverse lain.
Leo menekan tombol. Celah dimensi terbuka. Ia masuk.
Perjalanan dimulai.
Ia terus berpindah. Ada dunia yang dipenuhi sihir. Ada dunia yang dipenuhi zombie. Ada dunia yang sudah hancur total. Ia terus bergerak.
Akhirnya ia sampai di Universe Earth-321. Di sana ia bertemu Marcus Vance. Sifatnya sama—egois, sinis—tapi jauh lebih sinis lagi. Leo meminta bantuan. Awalnya Marc menolak. Setelah beberapa argumen dan ejekan, ia menerima. Leo membuka celah dimensi dan membawa Marc itu pergi.
Mereka tiba di Universe Earth-578. Di sana Leo bertemu Damian Sterling yang lebih serius, lumayan baik, dan memiliki rasa keadilan yang sangat tinggi. Awalnya Damian menolak. “Aku tidak punya hak ikut campur di urusan alam semesta lain.”
Leo marah. Ia mencekik Damian dari Earth itu. “Aku tidak punya waktu untuk ceramah!”
Akhirnya Damian menerima. Leo membuka celah dimensi kembali ke Earth-202.
Sesampainya di dunia utama, mereka bertiga bertarung bersama melawan Kronos. Awalnya kaku. Tapi sedikit demi sedikit kerja sama mereka semakin solid. Leo memanfaatkan pantulan energi, Marc menyerang dari sisi buta, Damian mengacaukan keseimbangan dengan tongkat taktisnya.
Di momen yang tepat, Leo menusukkan katana ke dada Kronos dan mendorongnya masuk ke Void—tempat yang dulu pernah membesarkannya.
Kronos jatuh ke dalam kehampaan.
Setelah semuanya selesai, Leo ingin mengembalikan Marc dari Earth-321 dan Damian dari Earth-578 ke dunia mereka masing-masing. Saat ia mencoba mengaktifkan alat pelacak dimensi itu, perangkat tersebut rusak total dan meledak di tangannya.
Leo mengangkat kedua tangan. “Uh… maaf?”
Marc dari Earth-321 dan Damian dari Earth-578 terpaksa tinggal di dunia utama—Earth-202.
Keduanya menatap Leo dengan ekspresi yang tidak senang. Lalu mereka mulai mengejarnya.
Tamat.