LEVEL TERAKHIR: Mimpi Tanpa Seragam
Hujan turun sejak sore.
Di sebuah rumah kecil di ujung gang, seorang pemuda berusia tujuh belas tahun duduk di depan komputer tua.
Cahaya monitor menjadi satu-satunya penerangan di kamar sempit itu.
Tangannya bergerak cepat di atas keyboard.
Matanya tidak berkedip.
Di layar, karakter yang ia kendalikan berdiri sendirian menghadapi lima pemain lawan.
MATCH POINT.
Satu kesalahan berarti kalah.
Suara dari luar kamar tiba-tiba terdengar.
“Rian...”
Tangan pemuda itu berhenti.
“Nenek?”
Tidak ada jawaban.
Rian langsung berdiri dan keluar kamar.
Di ruang tengah, seorang wanita tua terbaring di sofa sambil menahan sakit.
Namanya Nenek Sari.
Bukan nenek kandungnya.
Tetapi bagi Rian, wanita itu adalah satu-satunya keluarga yang tersisa.
“Nenek kenapa?”
“Tidak apa-apa.”
Rian berlutut di sampingnya.
“Obatnya sudah diminum?”
Nenek Sari mengangguk.
“Sudah.”
Rian melihat kotak obat yang hampir kosong.
Dia terdiam.
Kemudian mengambil dompetnya.
Isinya hanya beberapa lembar uang.
Tidak cukup untuk membeli obat berikutnya.
Rian menundukkan kepala.
“Besok Rian cari uang lagi.”
Nenek Sari tersenyum lemah.
“Kamu sekolah saja.”
Rian tidak menjawab.
Karena dia sudah tahu jawabannya.
Besok pagi—
dia tidak akan kembali ke sekolah.
---
Rian sebenarnya bukan anak yang bodoh.
Nilainya biasa saja, tetapi dia memiliki kemampuan luar biasa dalam memahami permainan strategi.
Sejak SD, dia sudah tinggal bersama Nenek Sari.
Orang tuanya meninggal dalam kecelakaan ketika Rian masih kecil.
Tidak ada saudara yang mampu merawatnya.
Nenek Sari, tetangga yang saat itu baru mengenal keluarganya, mengambil Rian dan membesarkannya seperti cucunya sendiri.
Nenek Sari bekerja apa saja.
Menjual makanan.
Mencuci pakaian tetangga.
Kadang membantu di warung.
Semua dilakukan agar Rian bisa sekolah.
Namun keadaan berubah ketika Nenek Sari mulai sakit.
Tabungan habis.
Biaya sekolah menjadi berat.
Dan Rian akhirnya mengambil keputusan yang paling tidak ingin dia lakukan.
Dia berhenti sekolah.
Bukan karena membenci pendidikan.
Bukan karena malas.
Tetapi karena ada seseorang di rumah yang lebih membutuhkan uang daripada dirinya membutuhkan seragam sekolah.
---
Hari terakhirnya di sekolah, Rian tidak mengatakan apa pun kepada teman-temannya.
Dia hanya mengembalikan buku perpustakaan.
Mengambil tasnya.
Lalu berjalan keluar gerbang.
Tidak ada perpisahan.
Tidak ada foto.
Tidak ada ucapan selamat tinggal.
Hanya suara bel sekolah yang perlahan menghilang di belakangnya.
Rian berhenti sebentar.
Menatap gedung sekolah.
“Suatu hari nanti...”
Dia mengepalkan tangan.
“Aku akan membuktikan kalau aku juga bisa punya masa depan.”
Kemudian dia pergi.
---
Awalnya Rian bekerja serabutan.
Mengangkat barang di pasar.
Membantu toko kelontong.
Mengantar pesanan.
Apa saja.
Namun uang yang didapat tetap tidak cukup.
Suatu malam, setelah pulang bekerja, Rian duduk di depan komputer tuanya.
Komputer itu sebenarnya pemberian teman lama ayahnya.
Spesifikasinya sudah ketinggalan zaman.
Tetapi masih mampu menjalankan satu game yang sangat dia sukai.
Aether War.
Game kompetitif lima lawan lima yang sedang populer di seluruh dunia.
Rian memainkannya hanya untuk hiburan.
Namun malam itu sesuatu berubah.
Dia memasuki pertandingan ranked.
Ratingnya tinggi.
Lawan-lawan yang muncul jauh lebih kuat.
Namun dalam waktu dua puluh menit—
Rian menang.
Lima kemenangan berturut-turut.
Sepuluh.
Dua puluh.
Lalu lima puluh.
Sistem mulai memasukkannya ke dalam pertandingan pemain papan atas.
Rian tidak menyadari bahwa salah satu lawannya adalah pemain profesional.
Dan malam itu—
Rian mengalahkannya.
---
Rekaman pertandingan tersebut tersebar di internet.
Seseorang mengunggah klip dengan judul:
“SIAPA PEMAIN INI?”
Dalam video itu, seorang pemain tanpa nama terkenal berhasil mengalahkan pemain profesional menggunakan strategi yang belum pernah terlihat sebelumnya.
Komentar bermunculan.
«“Dia membaca map seperti monster.”»
«“Refleksnya gila.”»
«“Ini smurf?”»
«“Cari identitas pemain ini!”»
Nama akun Rian hanyalah:
NOVA_17
Tidak ada foto.
Tidak ada identitas.
Tidak ada klub.
Tidak ada sponsor.
Hanya sebuah akun anonim.
Tetapi dalam waktu dua minggu—
namanya menjadi pembicaraan komunitas Aether War.
---
Rian mulai bermain lebih serius.
Dia menyadari sesuatu.
Game bukan lagi sekadar hiburan.
Game mungkin bisa menjadi jalan keluar.
Dia mulai mengikuti turnamen online kecil.
Hadiah pertamanya hanya beberapa ratus ribu rupiah.
Rian menatap uang itu lama.
Kemudian tersenyum.
“Nenek.”
Dia pulang membawa obat.
“Nenek, Rian dapat uang.”
Nenek Sari menatapnya.
“Dari mana?”
“Main game.”
Nenek tertawa kecil.
“Game bisa menghasilkan uang?”
“Sekarang bisa.”
Rian tersenyum.
“Rian akan coba.”
---
Hari-hari berikutnya menjadi lebih berat.
Pagi bekerja.
Siang merawat nenek.
Malam berlatih.
Kadang Rian tidur hanya empat jam.
Tangannya sering pegal.
Matanya merah.
Namun dia tidak berhenti.
Dia mulai mempelajari pertandingan profesional.
Menganalisis strategi.
Mempelajari pola permainan.
Merekam pertandingan.
Menonton ulang kesalahannya sendiri.
Dia bahkan membuat catatan di buku bekas.
Rotasi.
Timing.
Vision.
Counter.
Mental.
Di halaman terakhir, dia menulis:
«Aku tidak punya sekolah untuk mengajariku menjadi pemain profesional.
Jadi aku akan menjadikan dunia sebagai guruku.»
---
Enam bulan kemudian—
nama NOVA_17 berada di peringkat satu leaderboard nasional.
Kemudian peringkat tiga dunia.
Lalu—
peringkat satu dunia.
Internet meledak.
Media esports mulai mencari identitasnya.
Klub-klub profesional mulai mengirim pesan.
Titan Wolves.
Red Eclipse.
Phoenix Gaming.
Orion Esports.
Semuanya menginginkannya.
Namun Rian tidak langsung menerima.
Dia punya satu masalah.
Nenek Sari.
“Aku tidak bisa pergi terlalu jauh.”
Manajer salah satu klub bertanya,
“Kenapa?”
“Saya harus merawat nenek saya.”
Ruangan menjadi hening.
“Kami bisa membantu biaya pengobatan.”
Rian menggeleng.
“Saya tidak ingin dikasihani.”
Manajer itu tersenyum.
“Kami bukan mengasihani kamu.”
“Lalu?”
“Kami ingin merekrut pemain terbaik dunia.”
Rian terdiam.
Untuk pertama kalinya, seseorang mengatakan bahwa dirinya berharga bukan karena merasa kasihan.
Tetapi karena kemampuannya.
---
Akhirnya Rian memilih Orion Esports.
Kontrak profesional pertamanya membuatnya mendapatkan gaji yang bahkan tidak pernah dia bayangkan.
Tetapi hal pertama yang dia lakukan bukan membeli mobil.
Bukan membeli rumah.
Bukan membeli komputer baru.
Dia membawa Nenek Sari ke rumah sakit terbaik.
“Nenek tidak perlu bekerja lagi.”
Nenek Sari menatapnya.
“Kamu yakin?”
Rian mengangguk.
“Sekarang giliran Rian.”
Air mata Nenek Sari jatuh.
“Kalau saja kamu tetap sekolah...”
Rian tersenyum.
“Nenek menyesal?”
“Tidak.”
“Kalau begitu jangan menangis.”
Nenek Sari memeluknya.
“Kamu sudah menjadi anak yang baik.”
Rian menahan air mata.
“Aku belum berhasil.”
“Kamu sudah berhasil.”
“Belum.”
Rian memandang neneknya.
“Aku ingin membuktikan sesuatu.”
---
Turnamen dunia tiba.
Puluhan ribu penonton memenuhi arena.
Jutaan orang menonton secara online.
Di layar besar—
ORION ESPORTS vs TITAN WOLVES.
Final kejuaraan dunia.
Skor 2–2.
Game terakhir.
Pemenang menjadi juara dunia.
Rian duduk di depan komputer.
Headset terpasang.
Tangannya dingin.
Pelatih berbicara melalui voice chat.
“Rian, jangan terburu-buru.”
Rian mengangguk.
Namun sebelum pertandingan dimulai, sebuah pesan masuk.
Dari Nenek Sari.
«Menang atau kalah, Nenek tetap bangga.»
Rian tersenyum.
Dia membalas singkat.
«Rian akan pulang membawa sesuatu.»
Pertandingan dimulai.
Lima menit.
Sepuluh menit.
Dua puluh menit.
Orion tertinggal.
Penonton mulai berteriak.
Komentator berkata,
“Orion berada di ujung kekalahan!”
Rian menatap layar.
Dia mengingat semua yang telah dilaluinya.
Hari ketika dia meninggalkan sekolah.
Pasar.
Pekerjaan kasar.
Komputer tua.
Malam-malam tanpa tidur.
Obat untuk nenek.
Semua ejekan.
Semua keraguan.
Dan satu kalimat yang pernah dia ucapkan di depan sekolah.
Suatu hari nanti aku akan membuktikan kalau aku juga bisa punya masa depan.
Rian menarik napas.
“Sekarang.”
Karakter miliknya bergerak.
Satu lawan dua.
Dua lawan tiga.
Rian berhasil membalikkan keadaan.
Penonton berdiri.
Komentator berteriak.
“APA YANG DIA LAKUKAN?!”
Serangan terakhir berhasil.
Markas lawan hancur.
VICTORY.
Orion Esports menjadi juara dunia.
Rian melepas headset.
Dia tidak langsung berdiri.
Dia hanya menatap layar.
Kemudian tersenyum.
Air matanya jatuh.
---
Di atas panggung, Rian menerima trofi.
Kamera menyorot wajahnya.
Seorang reporter bertanya,
“Rian, kamu masih sangat muda. Apa yang membuatmu bisa mencapai titik ini?”
Rian terdiam.
Dia memegang trofi dengan kedua tangannya.
“Karena saya punya alasan untuk menang.”
“Apa alasanmu?”
Rian menatap kamera.
“Seorang nenek.”
Penonton terdiam.
“Dia bukan nenek kandung saya.”
“Dia hanya tetangga yang merawat saya sejak kecil.”
“Saya berhenti sekolah karena ingin membantu biaya hidup dan pengobatannya.”
Rian menarik napas.
“Saya tahu keputusan saya bukan sesuatu yang harus ditiru.”
“Sekolah itu penting.”
“Tapi saya ingin mengatakan kepada orang-orang yang merasa hidup mereka sudah berakhir karena keadaan...”
Dia tersenyum.
“Jangan menyerah pada mimpi kalian.”
“Saya tidak punya jalan yang mudah.”
“Saya hanya terus berjalan di jalan yang saya punya.”
---
Malam itu, Rian pulang.
Bukan ke hotel mewah.
Bukan ke apartemen klub.
Tetapi ke rumah kecil di ujung gang.
Nenek Sari sudah menunggunya.
Rian meletakkan trofi di atas meja.
“Nenek.”
“Hm?”
“Rian pulang.”
Nenek Sari melihat trofi itu.
Kemudian melihat Rian.
“Kamu menang?”
Rian mengangguk.
“Juara dunia.”
Nenek Sari tersenyum.
“Bagus.”
Rian tertawa.
“Hanya itu?”
“Memangnya Nenek harus bilang apa?”
“Entahlah. Harusnya seperti di film-film.”
Nenek Sari tertawa.
“Kamu tetap cucu Nenek.”
Rian memeluknya.
“Terima kasih.”
“Untuk apa?”
“Sudah percaya sama Rian.”
Nenek Sari mengusap rambutnya.
“Bukan Nenek yang membuatmu hebat.”
“Lalu siapa?”
“Kamu sendiri.”
Rian menatapnya.
Nenek Sari tersenyum.
“Nenek hanya memberimu tempat untuk pulang.”
Rian menundukkan kepala.
Air matanya kembali jatuh.
Di luar, hujan turun perlahan.
Komputer tua yang dulu menjadi awal perjalanan Rian masih berada di kamarnya.
Sudah usang.
Layarnya bahkan memiliki beberapa garis.
Namun Rian tidak pernah membuangnya.
Karena dari benda sederhana itulah—
seorang anak yatim piatu menemukan sebuah jalan.
Bukan jalan yang mudah.
Bukan jalan yang sempurna.
Tetapi jalan yang membuatnya percaya bahwa dirinya mampu bermimpi.
Dan bertahun-tahun kemudian, nama NOVA_17 dikenal di seluruh dunia.
Namun bagi seorang nenek tua di sebuah rumah kecil—
dia tetap hanya Rian.
Anak yang dulu pulang sekolah sambil membawa tas terlalu besar untuk tubuh kecilnya.
Anak yang pernah berkata,
"Suatu hari nanti, Rian akan membuat Nenek bangga."
Dan akhirnya—
dia menepati janjinya.
TAMAT