Hari Terakhir Kita Berseragam
Di kelas XII IPA 2, ada dua hal yang hampir semua orang tahu.
Pertama, ujian kelulusan tinggal beberapa bulan lagi.
Kedua, ada seorang gadis bernama Alya Maheswari yang menjadi primadona kelas.
Alya memiliki hampir semua hal yang membuat seseorang mudah disukai.
Wajah cantik, rambut panjang yang selalu terawat, nilai yang cukup bagus, ramah kepada siapa saja, dan senyum yang membuat suasana kelas terasa sedikit lebih cerah.
Banyak siswa dari kelas lain mengenalnya.
Banyak yang diam-diam menyukainya.
Bahkan beberapa kali ada surat yang diselipkan di dalam laci mejanya.
Namun Alya tidak pernah benar-benar memperhatikan semua itu.
Sebab, sejak kecil, ada satu orang yang selalu memenuhi tempat paling besar di pikirannya.
Namanya Raka Adinata.
Teman sebangkunya.
Teman bermainnya sejak SD.
Teman yang rumahnya hanya berjarak tiga rumah dari rumah Alya.
Dan, yang paling menyebalkan—
Raka sama sekali tidak sadar bahwa Alya menyukainya.
---
“Rak.”
“Hm?”
“Menurut kamu, aku cantik nggak?”
Raka tetap menatap buku latihan matematika.
“Lumayan.”
Senyum Alya langsung menghilang.
“Lumayan?”
“Iya.”
“Cuma lumayan?”
Raka mengangguk santai.
“Kalau dibandingkan waktu SD, sekarang jauh lebih cantik.”
Alya terdiam.
Wajahnya memerah.
“...Dasar bodoh.”
“Hah?”
“Nggak ada.”
Raka kembali mengerjakan soal.
Sementara Alya menopang dagunya dan menatap wajah Raka dari samping.
Bagaimana bisa seseorang sebodoh ini?
Padahal sejak kelas X, Alya sudah memberikan banyak sekali tanda.
Dia sering mengajak Raka pulang bersama.
Sering membawakan makanan.
Sering meminta Raka menemaninya membeli sesuatu.
Bahkan ketika ada siswa laki-laki lain yang mendekatinya, Alya sengaja memperlihatkan kedekatannya dengan Raka.
Tetapi Raka selalu memiliki kesimpulan yang sama.
“Kita kan teman masa kecil.”
Teman.
Hanya teman.
Bagi Raka, hubungan mereka sesederhana itu.
Bagi Alya, hubungan itu sudah berubah sejak bertahun-tahun lalu.
---
Awalnya Alya mengira semuanya akan berjalan dengan sendirinya.
Mereka sudah bersama sejak kecil.
Mereka tahu kebiasaan masing-masing.
Mereka tahu makanan kesukaan masing-masing.
Bahkan keluarga mereka sudah saling mengenal.
Alya yakin suatu hari nanti Raka akan menyadari perasaannya.
Namun semakin lama, Alya semakin sadar bahwa menunggu Raka sadar mungkin adalah keputusan paling bodoh yang pernah dia buat.
Terutama ketika suatu hari—
“Rak, kamu sudah punya pacar?”
Pertanyaan itu datang dari teman mereka, Dimas.
Raka menggeleng.
“Belum.”
“Serius? Padahal banyak yang suka sama kamu.”
“Siapa?”
Dimas menunjuk beberapa siswi di luar kelas.
Raka melihat sekilas.
“Oh.”
“Cuma 'oh'?”
“Terus aku harus bagaimana?”
“Pilih salah satu.”
Raka menggaruk kepala.
“Nggak tertarik.”
Alya yang mendengar percakapan itu dari mejanya diam-diam tersenyum.
Setidaknya Raka belum punya pacar.
Namun senyum itu menghilang ketika Raka melanjutkan.
“Lagipula, aku sudah punya seseorang yang selalu ada di dekatku.”
Alya langsung menoleh.
Jantungnya berdegup.
“Siapa?”
Dimas penasaran.
Raka menunjuk Alya.
“Dia.”
Kelas langsung gaduh.
Alya membeku.
Dimas tertawa.
“HAHA! Aku kira kamu serius!”
Raka ikut tertawa.
“Ya memang dia. Teman masa kecilku.”
Alya menunduk.
Pipinya merah.
Untuk beberapa detik, dia sempat berharap.
Hanya untuk beberapa detik.
---
Sejak hari itu, Alya mengambil keputusan.
Dia tidak akan menunggu lagi.
Kalau Raka tidak bisa membaca perasaannya—
maka dia akan membuat Raka menyadarinya.
Cara pertama adalah mengurangi jarak.
“Aku pulang sama kamu.”
“Kenapa?”
“Kenapa memangnya?”
“Biasanya kamu naik ojek.”
“Hari ini aku malas.”
“Ya sudah.”
Alya berjalan di samping Raka.
Jarak mereka hanya beberapa sentimeter.
Tangannya hampir menyentuh tangan Raka.
Alya sengaja memperlambat langkah.
Raka juga memperlambat langkah.
Alya tersenyum.
“Mungkin berhasil.”
Tiba-tiba Raka berkata,
“Jangan terlalu dekat.”
Alya terkejut.
“Kenapa?”
“Sepatumu menginjak sepatuku.”
Alya melihat ke bawah.
Benar.
Dia memang menginjak sepatu Raka.
“...”
“Kenapa diam?”
“Raka.”
“Hm?”
“Kamu benar-benar nggak peka, ya?”
“Kenapa?”
“Tidak ada.”
---
Cara kedua.
Memberikan perhatian lebih.
Besok paginya Alya membawa dua roti.
“Ini buat kamu.”
Raka menerimanya.
“Terima kasih.”
“Aku membuatnya sendiri.”
“Oh.”
“Rasanya enak, lho.”
Raka membuka bungkusnya.
Menggigit sedikit.
“Enak.”
Mata Alya berbinar.
“Serius?”
“Iya.”
“Kalau begitu besok aku buat lagi.”
“Jangan.”
Alya terkejut.
“Kenapa?”
“Repot.”
“Tidak repot.”
“Nanti kamu capek.”
Alya terdiam.
Raka kemudian menambahkan,
“Aku bisa beli sendiri.”
Entah kenapa, kalimat itu justru membuat Alya kesal.
“Raka.”
“Hm?”
“Aku memberikan ini bukan karena kamu tidak bisa membeli.”
“Terus?”
“Karena aku mau memberikan.”
Raka menatap Alya.
Beberapa detik.
Lalu tersenyum.
“Baiklah. Terima kasih.”
Alya menghela napas.
Masih belum.
---
Cara ketiga.
Membuat Raka cemburu.
Alya tahu cara ini berbahaya.
Tetapi dia sudah mulai kehabisan kesabaran.
Saat jam istirahat, seorang siswa dari kelas sebelah datang.
Namanya Fajar.
Dia sudah beberapa kali mendekati Alya.
“Alya, nanti pulang bareng, yuk?”
Alya sengaja melihat ke arah Raka.
Raka sedang membaca buku.
“Boleh.”
Raka berhenti membaca.
Fajar tersenyum.
“Serius?”
“Iya.”
“Kalau begitu nanti aku tunggu di gerbang.”
Fajar pergi.
Alya menunggu.
Lima detik.
Sepuluh detik.
Raka tidak mengatakan apa-apa.
Alya akhirnya tidak tahan.
“Kamu nggak mau tanya?”
Raka mengangkat kepala.
“Tanya apa?”
“Kenapa aku pulang sama Fajar.”
“Kenapa?”
“Ya karena—”
Alya berhenti.
Raka menatapnya polos.
“Bukannya kamu memang sering diajak pulang sama dia?”
“Terus kamu nggak keberatan?”
“Kenapa harus keberatan?”
Alya menggigit bibir.
“...Tidak ada.”
Hari itu Alya benar-benar kecewa.
Sepulang sekolah, dia membatalkan rencana dengan Fajar.
Dia berjalan sendirian.
Untuk pertama kalinya, Alya bertanya kepada dirinya sendiri.
Apa Raka benar-benar tidak pernah melihatku sebagai seorang perempuan?
---
Waktu terus berjalan.
Ujian semakin dekat.
Teman-teman mereka mulai sibuk menentukan universitas.
Ada yang ingin kuliah di luar kota.
Ada yang ingin langsung bekerja.
Ada pula yang sudah diterima di kampus impian.
Sementara Alya dan Raka masih seperti biasanya.
Duduk berdampingan.
Belajar bersama.
Pulang bersama.
Bertengkar karena hal-hal kecil.
Lalu berbaikan lima menit kemudian.
Seolah-olah dunia mereka tidak berubah.
Padahal Alya tahu—
waktu mereka sebagai siswa SMA hampir habis.
Suatu sore, mereka duduk di balkon lantai tiga sekolah.
Langit berwarna jingga.
Alya memandang lapangan.
“Rak.”
“Hm?”
“Kalau kita lulus nanti, kamu mau kuliah di mana?”
“Belum tahu.”
“Kalau aku kuliah di luar kota?”
Raka menoleh.
“Ya, bagus.”
“Kalau jauh?”
“Memangnya kenapa?”
Alya tersenyum pahit.
“Tidak apa-apa.”
Raka diam.
Beberapa saat kemudian dia berkata,
“Kamu mau kuliah jauh?”
“Mungkin.”
“Jangan.”
Alya terkejut.
“Kenapa?”
Raka menatap lapangan.
“Karena nanti tidak ada yang bisa mengingatkanku membawa bekal.”
Alya tertawa kecil.
“Kamu menyebalkan.”
“Tapi benar, kan?”
Alya mengangguk.
“Iya.”
Lalu matanya mulai berkaca-kaca.
Raka tidak melihatnya.
“Aku sebenarnya takut.”
“Takut apa?”
“Takut setelah lulus kita berubah.”
Raka berpikir sebentar.
“Kita tidak akan berubah.”
“Bagaimana kamu bisa yakin?”
“Karena kamu Alya.”
Alya menatapnya.
“Dan kamu Raka.”
Raka tersenyum.
“Sesederhana itu.”
Alya menunduk.
Buatmu mungkin sesederhana itu.
---
Hari kelulusan akhirnya tiba.
Sekolah dipenuhi suara tawa, tangis, dan kamera.
Seragam putih abu-abu dicoret-coret.
Teman-teman saling berpelukan.
Ada yang menangis karena harus berpisah.
Ada yang tertawa karena merasa bebas.
Alya berdiri di depan kelas.
Seragamnya sudah penuh tanda tangan.
Raka menghampirinya.
“Sudah selesai?”
“Sudah.”
“Foto?”
“Boleh.”
Mereka berdiri berdampingan.
Senyum.
Klik.
Satu foto terakhir.
Alya memandang foto itu.
Lalu berkata,
“Raka.”
“Hm?”
“Aku punya sesuatu untukmu.”
Alya mengeluarkan sebuah amplop kecil.
Raka menerimanya.
“Apa ini?”
“Buka nanti.”
“Kenapa nanti?”
“Karena aku malu.”
Raka memasukkannya ke dalam tas.
“Baik.”
Alya menarik napas panjang.
Hari ini atau tidak sama sekali.
“Raka.”
“Hm?”
“Aku suka kamu.”
Suara riuh di sekitar mereka seolah menghilang.
Raka membeku.
Alya menatapnya.
Tidak ada senyum.
Tidak ada candaan.
Untuk pertama kalinya, dia mengatakan semuanya dengan serius.
“Aku bukan suka sebagai teman masa kecil.”
Raka tidak berkata apa-apa.
“Aku suka kamu sebagai laki-laki.”
Alya mengepalkan tangannya.
“Aku suka sejak lama.”
Matanya mulai berkaca-kaca.
“Aku sengaja pulang bersamamu.”
“Aku sengaja membuatkan makanan.”
“Aku sengaja duduk di sebelahmu.”
“Aku bahkan pernah mencoba membuatmu cemburu.”
Raka menunduk.
“Kenapa kamu tidak pernah sadar?”
Alya tertawa kecil sambil menghapus air matanya.
“Padahal aku sudah memberikan banyak sekali tanda.”
Raka akhirnya berkata,
“Maaf.”
Alya tersenyum.
“Aku tidak butuh maaf.”
“Lalu?”
“Aku cuma ingin kamu tahu.”
Raka terdiam lama.
Kemudian dia membuka tasnya.
Mengambil amplop yang tadi diberikan Alya.
“Kalau begitu... aku juga punya sesuatu.”
Raka menyerahkan sebuah foto lama.
Foto dua anak kecil.
Seorang anak laki-laki dan seorang anak perempuan berdiri berdampingan.
Alya kecil sedang tersenyum lebar.
Raka kecil terlihat cemberut.
Di belakang foto itu terdapat tulisan tangan.
Alya adalah orang yang paling ingin aku temui setiap hari.
Alya membacanya.
Matanya membesar.
“Ini...”
“Aku menulisnya waktu kelas enam.”
“Kenapa tidak pernah kamu bilang?”
Raka tersenyum malu.
“Karena waktu itu aku tidak tahu kalau itu namanya suka.”
Alya terdiam.
“Lalu sekarang?”
Raka menatapnya.
“Sekarang aku tahu.”
Jantung Alya berdegup kencang.
“Jadi?”
Raka menarik napas.
“Aku juga suka kamu.”
Alya langsung menunduk.
Air matanya jatuh.
Bukan karena sedih.
Tapi karena selama bertahun-tahun, jawaban itu akhirnya datang.
Raka kemudian tertawa kecil.
“Berarti selama ini kita sama-sama bodoh.”
Alya memukul lengannya.
“Yang bodoh cuma kamu!”
“Kenapa aku?”
“Karena aku sudah jelas-jelas mengejarmu!”
Raka tertawa.
Alya ikut tertawa.
Di tengah halaman sekolah yang penuh suara perpisahan, mereka berdiri berdua.
Tidak ada janji berlebihan.
Tidak ada kata-kata seperti selamanya.
Mereka hanya tahu satu hal.
Hari itu adalah hari terakhir mereka mengenakan seragam SMA.
Hari terakhir mereka duduk di kelas yang sama.
Hari terakhir mereka berjalan melewati koridor yang setiap hari mereka lewati selama tiga tahun.
Namun bukan hari terakhir mereka bersama.
Raka mengulurkan tangannya.
“Ayo.”
“Ke mana?”
“Pulang.”
Alya tersenyum.
“Sebagai teman?”
Raka menggeleng.
“Sebagai orang yang aku suka.”
Alya tersenyum lebih lebar.
Kemudian menggenggam tangannya.
Mereka berjalan meninggalkan sekolah.
Di belakang mereka, bel sekolah berbunyi untuk terakhir kalinya.
Dan untuk pertama kalinya—
Alya tidak perlu lagi mengejar Raka.
Karena akhirnya, Raka memilih berjalan di sampingnya.
TAMAT