Pagi itu, Zeline masih berselimut di tempat tidur ketika suara dering HP memecah suasana kamar.
Tut... tut...
Tangannya meraba meja di samping tempat tidur, lalu mengambil HP tanpa banyak melihat. Namun begitu layar menyala dan nama yang muncul terbaca jelas, kantuk yang sejak tadi masih menggantung di matanya seketika menghilang.
Hah ..Azzel..!!
Sudut bibirnya terangkat.
"Halo, Jawir. Tumben pagi-pagi udah telepon?"
Dia kembali merebahkan tubuh sambil memainkan ujung rambutnya. Dari seberang, suara Azzel terdengar sedikit berat, seperti seseorang yang baru selesai menempuh perjalanan panjang.
"Piye toh, Tuan Putri? Katanya lo nyuruh gue datang ke Jakarta."
Zeline mengernyit.
"Iya. Terus?"
"Gue udah sampai."
Zeline masih belum menangkap maksudnya.
"Sampai mana?"
"Stasiun Senen."
Senyum di wajah Zeline langsung menghilang.
"Stasiun... Senen?"
"Iyo."
Zeline bangkit perlahan. Matanya kemudian jatuh pada kalender yang tergantung di dinding.
Beberapa detik dia hanya menatapnya.
Lalu wajahnya berubah panik.
"Oh, God!"
Dia hampir menjatuhkan HP dari tangannya.
"Jawir, gue lupa!"
Dari seberang terdengar helaan napas panjang.
"Walah... cah gemblung. Gue wis tekan Jakarta, malah dilalekke."
"Ya ampun, gue beneran lupa kalau hari ini lo datang!"
"Terus piye Iki..?"
Zeline sudah turun dari tempat tidur dan mulai mencari-cari sesuatu di atas meja.
"Lo tunggu di stasiun. Jangan ke mana-mana. Gue pesenin ojol."
"Suwi ora?"
"Enggak. Tunggu aja."
Zeline berhenti mencari dan tersenyum sendiri.
"Jawir ganteng."
Klik.
Telepon terputus sebelum Azzel sempat menyelesaikan kalimatnya.
Zeline menatap layar HP sambil menahan senyum.
"Jawir ganteng..."
"idiiihh..ganteng..??? Culun iya.. —"
Dia sendiri tidak tahu kenapa panggilan itu keluar begitu saja.
Mungkin karena sudah terlalu lama tidak melihat wajah sahabat masa kecilnya. Atau mungkin karena sejak tadi, hanya mendengar suara Azzel saja sudah cukup membuat pagi yang biasa terasa sedikit berbeda.
Beberapa jam kemudian, HP Zeline kembali berdering.
Kali ini dia langsung mengangkatnya.
"Halo?"
"Lo di mana?"
Zeline yang sedang duduk di ruang tamu langsung berdiri.
"Gue di apartemen."
"Gue udah nang parkiran."
Mata Zeline membesar.
"Serius?"
"Iyo. Apartemen Mediterania."
Zeline bahkan tidak sempat bertanya bagaimana Azzel bisa sampai secepat itu.
"Ya udah, tunggu di situ. Gue turun."
Telepon ditutup.
Barulah Zeline menyadari satu masalah lain.
Dia belum siap menemui Azzel.
Perempuan yang setiap hari bisa berdiri di depan puluhan karyawan dengan wajah tanpa ekspresi itu kini malah berdiri di depan lemari pakaian sambil kebingungan.
Satu gaun dikeluarkan.
Dipandanginya.
"Ini terlalu biasa."
Dia mengambil yang lain.
"Ini malah kayak gue mau kondangan."
Pakaian berikutnya ikut keluar.
Zeline mendesah.
"Ngapain juga gue mikirin beginian?"
Dia sendiri tidak punya jawaban.
Akhirnya dia mengambil satu pakaian yang menurutnya paling masuk akal, lalu buru-buru mengenakannya.
Begitu selesai, dia kembali berdiri di depan cermin.
Menatap pantulan dirinya.
"Ya udah cantik kok gue...
"eeehhh.. Tapi kan emang gue cantik..
Zeline tersenyum puas menatap wajahnya dalam cermin.
kemudian Dia mengambil tas kecil yang tergeletak diatas tempat tidur.
"Lagian cuma ketemu Jawir doang, ngapain harus perfect"
Namun langkahnya menuju pintu justru jauh lebih cepat daripada biasanya.
Azzel sudah berdiri di area parkiran ketika suara yang sangat dikenalnya terdengar dari kejauhan.
"HALO, JAWIR!"
Dia menoleh.
Seorang perempuan berlari kecil ke arahnya.
Azzel sempat mengernyit, memastikan bahwa perempuan yang datang itu benar-benar Zeline. Penampilannya jauh lebih rapi dibanding bayangan yang selama perjalanan tadi ada di kepalanya.
Belum sempat dia mengatakan apa-apa, Zeline sudah sampai di depannya dan langsung memeluknya.
"PLUK"
Azzel diam membisu, badanya membeku.
Untuk beberapa detik, dia bahkan tidak tahu harus melakukan apa.
Pelukan itu terasa begitu spontan, seolah jarak bertahun-tahun di antara mereka tidak pernah ada.
Namun setelah menyadari beberapa pasang mata mulai mengarah kepada mereka, Azzel menelan berbisik di telinga Zeline.
"Zeline..."
"apa jawir..?"
"Aku isin Lho.."
Zeline masih belum mengerti.
"Malu Kenapa?"
Azzel menggerakkan matanya ke sekeliling.
"Akeh wong."
Zeline mengikuti pandangannya dan azzel mengulangi kalimatnya.
" tuh banyak orang ngeliatin"
Barulah dia sadar mereka sedang berdiri di tengah parkiran apartemen, sementara beberapa orang memang terlihat memperhatikan.
Pelukan itu langsung terlepas.
"Oh...anu"..itu..eh biarin ajalah..
Zeline merapikan rambutnya dengan gerakan kikuk, lalu membetulkan pakaian seolah sedang berusaha mengembalikan wibawa yang tadi hilang begitu saja.
"Ehem."panas ya wir disini"
Azzel menahan senyum cupunya, namun Zeline sempat meliriknya.
"Jangan ketawa Jawa Ireng", Jawir"
"Aku ora ketawa kok"
"Bohong."
"Raiku Iki WIS gini dari lahir tuang putri"
Azzel akhirnya tertawa kecil.
Zeline mendengus, tetapi sudut bibirnya ikut terangkat.
"Udah. Ayo naik."
Dia meraih tangan Azzel dan menariknya menuju lift.
Kali ini Azzel tidak protes.
Dia hanya berjalan mengikuti Zeline, sementara perempuan itu terus tersenyum sepanjang perjalanan.
Begitu pintu apartemen terbuka, Azzel masuk lebih dulu. Pandangannya langsung berkeliling.
"Zeline..."
"apa Jawir..?"
"Iki omahmu uduk..?"
Zeline menutup pintu.
"Bukan. Ini kos-kosan."
Azzel menoleh dengan wajah tidak percaya.
"Yang bohong aja lo."
Zeline tertawa.
"Kenapa emang..?"
"Kos-kosan kok koyo studio Poto..?, Ombo sekali..."
"Namanya juga kos-kosan orang kaya."
Azzel terkekeh.
"Ngaku aja rumah Lo."
"Udah, jangan banyak bacot."
" kalo rumah Lo mau tak jual.."
" jangan lancang,.. Entar gue tinggal dimana..?
" Di hatiku.."
" Dasar Gila Lo"
Azzel tertawa tanpa suara, memamerkan barusan gigi kelincinya.
Zeline berjalan menuju ruang tengah. Azzel mengikutinya sambil masih memperhatikan isi apartemen.
Ada sesuatu yang terasa aneh.
Mereka baru beberapa menit bersama, tetapi percakapan mereka sudah kembali seperti dulu.
Tidak ada basa-basi panjang. Tidak ada kecanggungan yang seharusnya muncul setelah bertahun-tahun tidak bertemu.
Zeline meletakkan tas di sofa, lalu baru teringat sesuatu.
"Jawir."
"dalem ndoro putri?"
Azzel melipat telapak tanganya ke depan dada seperti orang menyembah
"Lo udah makan?"
"Udah, sampun ndoro..."
"Makan apa?"
Azzel menjawab santai.
"Pop Mie."
Zeline menoleh cepat.
"Pop Mie?"
"Iyo."
"Lo jauh-jauh dari Kroya sampai Jakarta cuma buat makan Pop Mie?"
"Lha terus aku kudu makan opo, makan ati takut asem urat..?"
Zeline menatapnya beberapa saat, lalu menggeleng.
"Udah. Sekarang Makan lagi ya."
Azzel mengerutkan kening.
"Lho, tadi aku wis mangan."
"Yang lo makan itu cuma Pop Mie, bukan Nasi."
"Sama aja."
"Beda."
"Bedanya apa?"
"Bedanya gue sekarang yang masakin."
Azzel masih terdiam saat, Zeline berjalan menuju dapur.
"e..eh.. Aja repot-repot, Tuan Putri."
Zeline berhenti sebentar, kemudian menoleh kearah Azzel.
"Masih manggil gue Tuan Putri aja.."
"Lha dari kecil aku manggilnya begitu."
"Padahal dulu gue udah bilang jangan."
"Terus kenapa sekarang lo masih nyuruh gue?"
Zeline tersenyum.
"Karena lo dari dulu nggak pernah bisa nolak kalau gue yang minta."
" Iyo.. Itu kutukan Seko wong ayu kan"
" Gombal "
Zeline sudah kembali membelakanginya dan mulai membuka lemari dapur.
"Emang Lo udah bisa masak..?" tanya Azzel.
"jangan songong ya"
"Masakin aku berarti Yo?
Zeline meliriknya.dan menjentikan jaringan kelingkingnya.
"Emang gue ngajak lo jauh-jauh ke Jakarta buat apa?"
Azzel tertawa kecil.
"Iyo juga, akukan jadi tamu ,Saiki.."
Dia kemudian duduk di kursi dekat meja makan, memperhatikan Zeline yang mulai menyiapkan bahan makanan.
Gerakan perempuan itu terlihat biasa saja, bahkan aneh untuk seorang wanita yang ingin memasak.
Namun bagi Azzel, ada sesuatu yang terasa akrab.
Dulu, ketika mereka masih kecil, Zeline tidak pernah memasak, karena memang semua pekerjaan rumahnya dikerjakan oleh ART, bahkan Azzel lebih sering memasak untuk Zeline.
Sekarang Mereka sudah tumbuh dewasa.
Zeline mengelola perusahaannya sendiri, dan Azzel seorang desain grafis freelance.
Tapi anehnya, ketika berada di ruangan yang sama seperti ini, semua itu seolah tidak terlalu penting.
"Jawir."
Azzel mengangkat kepala.
"apa...?"
Zeline masih sibuk menyiapkan masakan.
"Besok jangan ke mana-mana."
Azzel mengernyit.
"Kenapa?"
"Gue mau ngajak lo ke suatu tempat."
"Ke mana?"
"Rahasia."
Azzel tersenyum.
"Jangan aneh-aneh, Tuan Putri."
Zeline menoleh sebentar.
"Tenang aja. Gue nggak bakal makan lo."
Azzel tertawa.
"Siapa tahu."
Zeline ikut tertawa.
Namun beberapa saat kemudian Zeline terlihat mulai bingung melanjutkan proses memasaknya, dia menoleh kearah Azzel, dengan ekspresi penuh harapan.
"kenapa ndoro putri..?
" Tolongin gue Jawir.."
"WIS tak ramal sebelum nya, pasti aku Kon masak..
" Maaf, gue lupa..
"lupa apa"
"kulkas gue kosong"
zeline tersenyum sambil mengedip-ngedipkan matanya..