Pada zaman ketika kerajaan-kerajaan Jawa masih berdiri megah di bawah bayang-bayang gunung, ketika jalan-jalan masih berupa tanah merah dan manusia percaya bahwa setiap alas memiliki penghuninya sendiri, terdapat sebuah dusun kecil bernama Dusun Wringin Kembar.
Dusun itu dikelilingi persawahan luas, sungai bening, dan hutan tua yang disebut Alas Candramuka.
Namun di balik hutan tersebut terdapat tempat yang bahkan para pemburu paling berani pun enggan datangi.
Tempat itu disebut oleh para sesepuh sebagai...
Hutan Pisang Raksasa.
Orang-orang tua di Dusun Wringin Kembar memiliki satu pantangan yang diwariskan turun-temurun.
"Aja mlebu Alas Candramuka nalika surya wis miring ing kulon."
Jangan memasuki Alas Candramuka ketika matahari telah condong ke barat.
Bukan karena harimau.
Bukan pula karena ular.
Melainkan karena sesuatu yang tumbuh memenuhi bagian terdalam hutan itu.
Pisang-pisang raksasa yang tingginya melampaui pepohonan dan daunnya sebesar pendopo.
Konon, dahulu kala hiduplah seorang perempuan bernama Nyi Rarasati.
Ia tinggal seorang diri di pinggir Alas Candramuka.
Nyi Rarasati dikenal sebagai perempuan yang mencintai tumbuh-tumbuhan. Setiap pagi ia merawat kebun kecil miliknya yang dipenuhi pisang, kelapa, pandan, kenanga, dan melati.
Namun suatu tahun, kemarau panjang melanda negeri.
Sungai mengering.
Sawah menjadi retak.
Sumur-sumur kehilangan air.
Bahkan burung-burung meninggalkan desa.
Nyi Rarasati kemudian membawa satu-satunya bibit pisang yang masih hidup ke dalam Alas Candramuka.
Ia menanamnya di dekat sebuah mata air yang oleh penduduk dianggap sendang keramat.
Tidak ada seorang pun yang tahu apa yang terjadi setelahnya.
Sebab tiga hari kemudian...
Nyi Rarasati menghilang.
Dan bibit pisang kecil yang ditanamnya tumbuh dengan kecepatan yang tidak masuk akal.
Dalam waktu beberapa bulan, seluruh bagian terdalam Alas Candramuka dipenuhi tanaman pisang.
Batangnya sebesar tiang rumah.
Daunnya selebar atap pendopo.
Akarnya menjalar di permukaan tanah seperti ular.
Buahnya sebesar tubuh bayi.
Tidak hanya satu atau dua pohon.
Melainkan ribuan.
Itulah awal mula munculnya Hutan Pisang Raksasa.
Namun ada satu hal yang lebih mengerikan.
Setiap kali buah-buah pisang itu matang...
terdengar suara perempuan menangis dari dalam hutan.
Bertahun-tahun kemudian, seorang pemuda bernama Raden Jayengrana tidak percaya pada kisah tersebut.
Ia adalah putra seorang petani miskin bernama Ki Jatmika.
Suatu sore, Jayengrana memasuki Alas Candramuka membawa sebilah kapak.
Sebelum berangkat, ayahnya telah memperingatkan.
"Jayengrana, yen srengenge wis miring, mulihlah. Aja nyedhak Hutan Pisang Raksasa."
"Jayengrana, jika matahari sudah condong, pulanglah. Jangan mendekati Hutan Pisang Raksasa."
Namun Jayengrana hanya tersenyum.
"Semua itu hanya cerita untuk menakut-nakuti anak kecil."
Ia terus berjalan.
Semakin dalam ia memasuki hutan, semakin sunyi suara burung.
Angin pun perlahan menghilang.
Kemudian...
duk... duk... duk...
Jayengrana mendengar suara seperti seseorang mengetuk batang pohon.
Ia berhenti.
"Siapa?"
Tidak ada jawaban.
Ia melangkah lagi.
Duk... duk... duk...
Suara itu kembali terdengar.
Jayengrana mengikuti suara tersebut.
Hingga akhirnya pepohonan di hadapannya terbuka.
Ia sampai di sebuah tanah lapang.
Dan di sanalah ia melihatnya.
Hutan Pisang Raksasa.
Ribuan batang pisang menjulang tinggi di hadapannya.
Daunnya bergerak perlahan meskipun tidak ada angin.
Tandan-tandan pisang bergelantungan seperti lampion hitam.
Jayengrana terdiam.
Tiba-tiba terdengar suara perempuan.
"Jayengrana..."
Pemuda itu membeku.
Ia tidak pernah menyebut namanya kepada siapa pun.
"Siapa?"
Suara itu kembali terdengar.
"Jayengrana..."
Kali ini suara tersebut berasal dari antara pepohonan pisang.
Jayengrana menggenggam kapaknya erat.
Ia berjalan perlahan ke dalam hutan.
Di tanah, ia melihat sesuatu.
Jejak kaki perempuan.
Ia mengikuti jejak tersebut.
Satu langkah.
Dua langkah.
Tiga langkah.
Kemudian ia menyadari sesuatu yang membuat tubuhnya menggigil.
Jejak itu tidak memiliki telapak kaki.
Hanya terdapat bekas jari-jari panjang yang menancap ke tanah.
Seolah seseorang berjalan hanya menggunakan ujung jarinya.
Matahari semakin tenggelam.
Jayengrana segera berbalik.
Namun jalan pulang telah menghilang.
Tempat yang sebelumnya merupakan jalan setapak kini dipenuhi pohon pisang.
Batang-batang raksasa berdiri rapat.
Daun-daunnya bergesekan.
Srek... srek... srek...
Lalu terdengar suara.
"Jayengrana..."
"Jayengrana..."
"Jayengrana..."
Bukan satu suara.
Melainkan puluhan.
Ia berlari.
Namun suara-suara tersebut semakin dekat.
Sampai akhirnya Jayengrana tersandung akar dan jatuh.
Ketika membuka mata...
seorang perempuan berdiri di hadapannya.
Rambutnya panjang hingga menyentuh tanah.
Kulitnya pucat.
Matanya hitam seluruhnya.
Tubuhnya kurus seperti ranting kering.
Namun yang paling mengerikan adalah kakinya.
Tidak ada telapak.
Hanya jari-jari kaki yang panjang dan hitam.
Perempuan itu tersenyum.
"Kau mengambil sesuatu dari hutanku?"
Jayengrana gemetar.
"Aku tidak mengambil apa-apa."
Perempuan itu menunjuk ke belakangnya.
Jayengrana menoleh.
Kapaknya telah menancap pada salah satu batang pisang raksasa.
Dari luka bekas kapak...
mengalir cairan merah tua.
Menetes ke tanah.
Setetes.
Dua tetes.
Kemudian semakin deras.
Jayengrana mencoba mencabut kapaknya.
Namun tiba-tiba tanah bergetar.
GROOOOK...
Akar-akar pisang keluar dari tanah.
Melingkari kedua kakinya.
Jayengrana berteriak dan berusaha melepaskan diri.
Namun akar tersebut semakin erat.
Perempuan itu tertawa pelan.
"Dahulu aku menanamnya untuk memberi kehidupan."
"Manusia mengambil buahnya."
"Manusia mengambil kayunya."
"Manusia mengambil air dari sendangnya."
Senyumnya melebar.
"Maka sekarang... hutan ini mengambil manusia."
Keesokan paginya, warga Dusun Wringin Kembar menemukan kapak Jayengrana di pinggir Alas Candramuka.
Tidak ada tubuhnya.
Tidak ada darah.
Tidak ada jejak.
Hanya sepotong kain miliknya yang tersangkut pada daun pisang.
Para sesepuh segera mengetahui apa yang terjadi.
Jayengrana telah menjadi bagian dari Hutan Pisang Raksasa.
Sejak hari itu, tidak seorang pun berani memasuki Alas Candramuka.
Namun beberapa tahun kemudian...
sesuatu yang jauh lebih mengerikan terjadi.
Hutan Pisang Raksasa mulai meluas.
Satu pohon tumbuh di batas dusun.
Kemudian dua.
Lalu sepuluh.
Puluhan.
Pohon-pohon itu mulai muncul di belakang rumah penduduk.
Di tepi sawah.
Di dekat sumur.
Bahkan di sekitar makam leluhur.
Setiap malam bulan purnama, warga mulai mendengar suara seorang pemuda dari dalam hutan.
"Rama..."
"Aku mulih..."
"Bukak lawang..."
"Aku wis bali..."
Ayah...
Aku sudah pulang...
Tetapi suara itu tidak pernah datang dari jalan.
Suara tersebut selalu terdengar...
dari tengah Hutan Pisang Raksasa.
Dan sejak saat itu, para sesepuh Dusun Wringin Kembar mengajarkan satu pantangan kepada setiap anak.
"Yen krungu swara wong kang wis seda saka njero alas, aja pisan-pisan mangsuli."
Jika mendengar suara orang yang telah meninggal dari dalam hutan, jangan pernah menjawab.
Sebab mereka percaya...
yang memanggil bukanlah arwah orang yang telah mati.
Melainkan Hutan Pisang Raksasa yang sedang mencari manusia berikutnya.
Dan konon, hingga sekarang...
jika malam terlalu sunyi dan angin berhenti berembus, dari tengah Alas Candramuka terkadang terdengar suara seorang pemuda berbisik:
"Rama..."
"Bukak lawang..."
"Aku mulih..."
Lalu daun-daun pisang raksasa akan bergerak bersamaan.
SRAAAAKKK...
Seolah seluruh hutan sedang menoleh...
mencari siapa yang berani mendengar.
Tamat.