Setelah selesai makan bersama Hikaru, Yoko kembali ke kamarnya.
Pintu ditutup perlahan.
Klik.
Yoko berdiri di belakang pintu.
Diam.
Tangannya masih memegang gagang pintu.
Entah kenapa, dia tidak langsung menuju kasur.
Pikirannya masih tertinggal di kamar sebelah.
Senyum Hikaru.
Suara tawanya.
Cara perempuan itu memberinya makan.
Yoko menoleh ke arah dinding.
“…”
Perlahan dia berjalan mendekati lubang kecil yang tadi dibuatnya.
Dia berjongkok.
Kemudian mengintip.
Hikaru masih berada di kamarnya.
Yoko diam-diam memperhatikannya.
Wajah Yoko yang biasanya kosong mulai menunjukkan sedikit ekspresi.
Matanya tidak lagi terlihat sepenuhnya mati.
Ada rasa penasaran di sana.
Hikaru berdiri di depan lemari.
Dia mulai berganti pakaian.
Satu per satu pakaian yang dikenakannya dilepas dan diganti dengan pakaian lain.
Yoko langsung membelalakkan mata.
“…”
Dia menutup mulut.
“Cantik banget…”
Tubuhnya bagus banget.
Kalo gue harus mati , mati ditangan nya, sepertinya keren
Hikaru sama sekali tidak menyadari bahwa dirinya sedang diperhatikan.
Dia mengambil pakaian balet dari dalam lemari.
Kemudian mengenakannya.
Yoko memperhatikan dengan serius.
“Balet?”
Hikaru berdiri di tengah kamar.
Kemudian mengangkat kedua tangannya.
Perlahan tubuhnya bergerak.
Satu langkah.
Dua langkah.
Kemudian berputar.
Hikaru mulai menari.
Gerakannya ringan.
Anggun.
Tidak seperti perempuan aneh yang tadi malam membuat Yoko ketakutan.
Sesekali Hikaru bersenandung.
“Lalalalala…”
Yoko tidak berkedip.
Matanya mengikuti setiap gerakan Hikaru.
Perlahan…
wajahnya berubah.
Alisnya sedikit terangkat.
Matanya terlihat kagum.
Sudut bibirnya naik sedikit.
Namun ekspresinya tetap kaku.
Dingin.
Seolah-olah wajahnya belum terbiasa menunjukkan perasaan.
Hikaru berputar sekali lagi.
Kemudian berhenti.
Dia menoleh ke arah dinding.
Tepat ke arah lubang.
Yoko membeku.
“…”
Mata mereka hampir bertemu.
Yoko langsung menjatuhkan tubuhnya.
BRUK!
Dia tiarap di lantai.
“Dia lihat gue!”
Yoko menutup mulut.
Jantungnya berdetak cepat.
Dia tidak bergerak.
Beberapa detik.
Sepuluh detik.
Tidak ada suara.
Yoko perlahan mengangkat kepalanya.
Dia merangkak mendekati lubang.
Mengintip.
Kosong.
“Hah?”
Yoko mengedip.
“Kemana dia?”
Dia menggeser tubuhnya.
Kepalanya bergerak ke kanan.
Kemudian ke kiri.
Kamar Hikaru kosong.
“Mana dia?”
Yoko semakin penasaran.
Dia bahkan lupa bahwa tadi dia sedang bersembunyi.
Tiba-tiba…
TOK.
TOK.
TOK.
Yoko langsung membeku.
Suara ketukan pintu.
Kemudian terdengar suara perempuan.
“Yoko!”
Mata Yoko membesar.
“Hikaru?”
“Yoko!”
Hikaru memanggil lagi.
Yoko berjalan mengendap-endap menuju pintu.
Tubuhnya membungkuk.
Tangannya terangkat perlahan.
Dia membuka pintu sedikit sekali.
Ceklek.
Hanya celah kecil.
Yoko mengintip keluar.
Hikaru berdiri di depan pintu.
Yoko langsung menarik kepalanya.
“Anjir!”
Dia menutup mulut.
“Dia tahu kalau gue ngintip.”
“Yoko.”
Suara Hikaru terdengar lagi.
Yoko diam.
“Yoko?”
Akhirnya Yoko membuka pintu.
Perlahan.
Sangat perlahan.
Dia keluar dan langsung menutup pintu di belakangnya.
“Hikaru.”
Hikaru tersenyum.
“Makan yuk.”
“Makan?”
“Iya.”
Mata Yoko langsung menatap wajah Hikaru.
“Lo belum makan?”
Yoko mengangguk.
Hikaru tersenyum.
“Kamar gue, ya.”
Yoko hanya mengangguk lagi.
Dia mengikuti Hikaru.
Langkahnya kaku.
Tubuhnya tegak sebentar, kemudian kembali membungkuk.
Matanya terus memperhatikan Hikaru yang berjalan di depannya.
Tubuh Yoko bergerak seperti robot.
Hikaru berhenti.
“Duduk.”
Yoko langsung duduk.
Matanya masih menatap Hikaru.
Hikaru mengambil makanan.
Kemudian duduk di depannya.
“Kenapa?”
Yoko diam.
Hikaru tersenyum.
“Lo dari tadi liatin gue terus.”
Yoko menjawab tanpa berpikir.
“Lo cantik.”
Hikaru berhenti bergerak.
“Gue?”
“Iya.”
“Cantik?”
“Iya.”
Hikaru tersenyum.
“Udah makan dulu.”
Yoko mengangguk.
“Iya.”
Dia mulai makan.
Hikaru memperhatikannya.
“Enak nggak?”
“Sangat enak.”
Yoko kembali menatap wajah Hikaru.
Hikaru mengerutkan kening.
“Apa?”
Yoko diam sebentar.
Kemudian bertanya.
“Kenapa lo baik sama gue?”
Hikaru berpikir sebentar.
“Karena gue nggak punya banyak teman.”
Yoko terdiam.
“Lo kenapa takut sama gue?”
“Takut?”
“Iya.”
Yoko mengangguk.
“Sama lo?”
“Iya.”
Hikaru tersenyum kecil.
Yoko menunduk.
“Tapi sekarang gue nggak takut.”
“Kenapa?”
Yoko mengangkat wajahnya.
“Gue suka elo.”
Hikaru berkedip.
“Apa?”
“Suka.”
“Sama gue?”
“Iya.”
Hikaru menatapnya beberapa detik.
“Aneh.”
Yoko mengangguk.
“Iya.”
Hikaru tertawa kecil.
“Lo mau temenan sama gue?”
Yoko mengangguk.
Hikaru menatap Yoko cukup lama.
“Boleh dicoba.”
Yoko terlihat sedikit lega.
“Tapi…”
“Apa?”
“Lo kasih makan gue tiap hari.”
“Gak papa.”
Yoko berhenti makan.
“Tapi…”
“Tapi apa?”
“Suatu saat pasti lo ungkit.”
Hikaru mengangkat alis.
“Lo mikir gitu?”
“Pastinya.”
Hikaru mengusap dagunya.
“Hmmm…”
Dia memiringkan kepala.
“Bisa jadi.”
Yoko menatapnya.
“Lo tetap mau temenan sama gue?”
Hikaru diam sebentar.
Kemudian tersenyum.
“Gue rasa…”
Dia berhenti.
“…kalau kita tetap bisa terhubung dengan indah, semua akan baik-baik saja.”
Yoko mengerutkan kening.
“Maksud lo?”
Hikaru tidak langsung menjawab.
Dia justru menoleh ke arah dinding.
Tepat ke arah lubang kecil yang menghubungkan kamar mereka.
Yoko ikut menoleh.
Matanya langsung membesar.
Lubang itu ternyata terlihat jelas dari kamar Hikaru.
Yoko menelan ludah.
“…”
Hikaru tersenyum.
“Jadi selama ini…”
Yoko langsung menunduk.
Jangan jangan dia tau
“Gue…”
ngintip
Yoko diam.
“Yoko.”
“Iya.”
“Kenapa?”
Yoko menggaruk kepala.
“Penasaran.”
Hikaru tertawa.
“Hahaha…”
Yoko ikut tersenyum kecil.
Hikaru kemudian kembali menatapnya.
“Kita bisa berteman dengan baik.”
Yoko mengangguk.
“Tapi gue rasa…”
Dia menunduk.
“Gue nggak pantas jadi teman lo.”
“Kenapa?”
Yoko mulai menghitung dengan jarinya.
“Gue nggak kerja.”
Hikaru menjawab santai.
“Gue punya uang.”
Yoko mengangkat jari kedua.
“Gue nggak punya teman.”
Hikaru mengangkat bahu.
“Gue juga.”
Jari ketiga.
“Gue orang aneh.”
Hikaru tersenyum.
“Gue juga.”
Yoko terdiam.
Kemudian menatap Hikaru.
“Jadi…”
“Jadi apa?”
“Lo tetap mau temenan sama gue?”
“Iya.”
“Kenapa?”
Hikaru berpikir sebentar.
Kemudian tersenyum.
“Lo lucu.”
Yoko mengerutkan kening.
“Itu doang?”
“asik"
Yoko langsung diam.
“asik ?”
“Iya.”
Yoko menunjuk dirinya sendiri.
“Gue?”
“Iya.”
Yoko menggeleng.
“Nah, ini aneh.”
“Aneh kenapa?”
“Ya…”
Yoko berpikir.
“Lucu.”
Hikaru tertawa.
“Bego.”
Yoko menatapnya datar.
“Terus?”
Hikaru tersenyum.
“Bego tapi lucu.”
Yoko terdiam.
Kemudian tanpa sadar…
dia tersenyum.
Senyumnya masih kaku.
Masih aneh.
Seperti seseorang yang sudah terlalu lama lupa bagaimana caranya tersenyum.
Namun Hikaru melihatnya.
Dan untuk beberapa saat, perempuan itu hanya diam.
Mungkin karena baru kali ini dia melihat wajah Yoko berubah.
Tidak lagi sepenuhnya kosong.
Tidak lagi sepenuhnya dingin.
Ada sesuatu yang perlahan tumbuh di sana.
Sesuatu yang bahkan Yoko sendiri belum mengerti.
Sebuah rasa nyaman.
Sebuah rasa penasaran.
Dan mungkin…
sesuatu yang jauh lebih berbahaya daripada keduanya.