Eps 1
Sudah hampir seminggu Jawir tinggal sendirian di sebuah rumah kontrakan kecil bersama dedek bayi yang baru berusia dua bulan.
Sejak istrinya pergi meninggalkan rumah setelah ketahuan berselingkuh dengan seorang brondong, hidup Jawir berubah total.
Dulu, tengah malam adalah waktunya tidur.
Sekarang?
Tengah malam adalah waktu paling menegangkan dalam hidupnya.
Jam dinding menunjukkan pukul dua dini hari.
"Ueee... ueee...!"
Tangisan dedek bayi kembali memenuhi kamar.
Jawir yang sedang setengah tertidur membuka mata dengan malas.
"Ya ampun..."
Dia duduk sambil mengucek wajah.
"Kenapa lagi, sih, Dek?"
Tangisan bukannya berhenti, malah semakin keras.
Jawir menghela napas panjang.
"Ya sudah. Ayah bikin susu lagi."
Selama hampir seminggu terakhir, Jawir sudah mulai belajar menjadi bapak sekaligus ibu rumah tangga dadakan.
Awalnya membuat susu saja dia bingung.
Sekarang dia sudah mulai hafal takarannya.
Dua sendok susu bubuk.
Air secukupnya.
Tidak terlalu panas.
Tidak terlalu dingin.
Setidaknya begitulah yang dia pahami dari hasil belajar sendiri.
Jawir berjalan menuju dapur kecil di ujung kontrakan.
Dia mengambil botol susu, memasukkan dua sendok susu bubuk, kemudian menuangkan sedikit air panas dari dispenser.
Setelah itu dia mengocok botol tersebut sampai berbusa.
Kemudian dicampurnya dengan air dingin.
Jawir mengangkat botol itu dan meneteskan sedikit susu ke punggung tangannya.
"Hmm..."
Dia mencicipinya.
"Manis."
Dia berpikir sebentar.
"Tapi hambar."
Jawir mengangkat bahu.
"Ya sudah, yang penting anak gue nggak komplain."
Dia kembali ke kamar.
Dedek bayi masih menangis.
"Sabar, Dek. Nih, susu."
Jawir memasukkan dot ke mulut dedek bayi.
Ajaib.
Tangisan langsung berhenti.
Jawir tersenyum lega.
"Nah, gitu dong."
Dia kemudian bersandar di dinding sambil memangku dedek bayi.
"Minum yang banyak, ya. Ayah juga sudah ngantuk."
Beberapa menit kemudian, Jawir mulai memejamkan mata.
Namun tiba-tiba...
"Ueee!"
Jawir terbangun.
"Lho?"
Ternyata dotnya terlepas.
"Aduh..."
Dia membetulkan posisi botol.
"Nih. Jangan dilepas lagi."
Dedek bayi kembali minum dengan tenang.
Jawir tersenyum.
"Aman."
Dia kembali menyandarkan kepalanya ke tembok.
Baru beberapa menit...
"Ueee!"
Jawir membuka mata lagi.
Dia melihat botol susu.
Kosong.
Jawir menatap langit-langit kamar.
Kemudian menatap jam.
"Jam dua lewat..."
Dia menghela napas.
"Kalau begini terus, kapan gue tidur?"
Besok pagi dia masih harus bekerja.
Jawir mengambil botol kosong itu.
"Ini anak minumnya kayak lagi balapan."
Dia menggaruk kepala.
Kemudian matanya menangkap sesuatu di atas meja.
Sebuah botol madu.
Jawir memandang botol itu beberapa saat.
Sebuah ide yang menurutnya brilian muncul begitu saja.
"Wah..."
Dia tersenyum.
"Kayaknya madu ini bisa gue pakai."
"Jawir mengoleskan madu ke bibir anaknya"
Lah kok diam..
Kemudian dia berpikir cara emak-emak menyusui.
Nah gue juga bisa kok kalau cuman jadi emak-emak.
Dia mengoleskan madu ke bagian dadanya
Nah kita coba gini ya dek.
Dia menempelkan bibir bayinya ke dadanya, dan bayi pun mulai merespon.
ternyata...
Cara itu berhasil.
Tangisan dedek bayi perlahan berhenti.
Jawir melongo.
"Lah..."
Dia menunggu beberapa detik.
Tidak ada tangisan.
"Lah, beneran berhasil?"
Jawir tersenyum puas.
"Ternyata gue juga punya bakat jadi bapak."
Dia kembali membaringkan tubuhnya.
Dedek bayi kemudian dia dekatkan ke tubuhnya.
Sambil mengelus kepala kecil itu, Jawir bersenandung pelan.
"Nina bobo..."
Dia menguap.
"Nina bobo..."
Kemudian dia mengubah liriknya sendiri.
"Kalau tidak bobo..."
Jawir tersenyum.
"Kita jalan-jalan aja, ya, Dek."
Dia tertawa sendiri.
"Ngapain juga ngajak bayi jalan-jalan jam dua pagi."
Akhirnya dedek bayi benar-benar tertidur.
Jawir tersenyum puas.
"Alhamdulillah."
Dia memejamkan mata.
"Besok gue ceritain ke teman-teman kantor. Gue berhasil menaklukkan bayi umur dua bulan."
Baru beberapa menit matanya terpejam...
Jawir merasakan sesuatu yang hangat di bagian perutnya.
Dia mengerutkan kening.
"Eh?"
Tangannya meraba bagian perut.
Basah.
Jawir langsung membuka mata.
"Aduh!"
Dia menatap langit-langit.
"Langitnya bocor?"
Dia mengernyit.
"Musim kemarau begini kok bisa hujan?"
Tangisan dedek bayi kembali terdengar.
Jawir menoleh.
Dia memeriksa tubuh kecil itu.
Kemudian memeriksa popoknya.
Matanya membesar.
"Ya ampun!"
Jawir menghela napas.
"Ternyata bukan langit yang bocor."
Dia mengangkat dedek bayi sambil tertawa getir.
"Dedek yang bocor!"
Jawir menggeleng.
"Padahal popoknya sudah gue bikin dobel."
Dia berpikir.
"Kalau dipasang tiga lapis, nanti anak gue malah nggak bisa jalan."
Dia terkekeh sendiri.
"Emangnya dia sudah bisa jalan?"
Tangisan dedek bayi semakin keras.
Jawir panik.
"Ya ampun, iya, iya! Ayah ganti!"
Dia baru hendak mencari popok ketika...
Tok! Tok! Tok!
Jawir membeku.
Tangisan dedek bayi berhenti sebentar.
Tok! Tok! Tok!
Ketukan terdengar lagi.
Kemudian sebuah suara perempuan dari luar.
"Jawir!"
Jawir langsung mengenali suara itu.
"Kenapa anak lu nangis terus?"
Jawir menelan ludah.
"Itu suara Fatima..."
Fatima adalah tetangga Jawir.
Seorang artis figuran yang beberapa kali muncul dalam film-film televisi dan belakangan mulai sering terlihat di layar karena salah satu FTV yang dibintanginya sedang viral.
"Jawir! Buka pintunya!"
Jawir melihat jam.
Pukul dua dini hari.
Dia kemudian melihat kalender yang tergantung di dinding.
Hari Jumat.
Jumat Kliwon.
Wajah Jawir berubah serius.
"Jangan-jangan..."
Dia menelan ludah.
"Ini bukan Fatima."
Jawir berjalan pelan menuju pintu.
Langkahnya dibuat selembut mungkin.
Dia mengintip melalui lubang kunci.
Di luar berdiri seorang perempuan.
Rambutnya agak berantakan.
Wajahnya juga terlihat seperti orang yang baru bangun tidur.
Jawir mempersempit mata.
"Tunggu dulu."
Dia menunduk sedikit.
"Kakinya."
Jawir memeriksa kaki perempuan itu.
Menyentuh tanah.
Dia mengangguk lega.
"Oh..."
"Berarti Fatima."
Dari luar terdengar suara kesal.
"Jawir! Lu lama banget sih?"
Tangisan dedek bayi kembali terdengar.
Fatima semakin keras mengetuk pintu.
"Anak lu nangis terus!"
"Iya, iya!"
Jawir buru-buru membuka pintu.
Begitu pintu terbuka, Fatima hendak masuk.
Namun tiba-tiba dia berhenti.
Matanya membesar.
Mulutnya sedikit terbuka.
Jawir bingung.
"Kumaha atuh, Neng? Cicing wae."
Fatima menunjuk tubuh Jawir.
"Lu..."
Jawir melihat dirinya sendiri.
Barulah dia sadar.
Dia belum memakai baju.
"Oh..."
Wajahnya langsung berubah.
"Punten, Neng!"
Jawir berlari masuk kamar.
Fatima hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala.
Beberapa saat kemudian Jawir keluar lagi dengan kaus seadanya.
Fatima masih berdiri di depan pintu.
"Lu ngapain tidur nggak pakai baju?"
"Gue lagi ngurus bayi."
Fatima mengerutkan kening.
"Ngurus bayi?"
"Iya."
"Terus kenapa nggak pakai baju?"
Jawir berpikir sebentar.
"Gerah."
Fatima memejamkan mata.
"Ya Allah..."
Dia menghela napas.
"Sudah, mana bayinya?"
Jawir menyerahkan dedek bayi.
Begitu berada dalam pelukan Fatima, tangisan dedek bayi perlahan berhenti.
Jawir melongo.
Dia menatap Fatima.
Kemudian menatap dedek bayi.
Kemudian kembali menatap Fatima.
"Anjir..."
Fatima tersenyum bangga.
"Kenapa?"
"Gue sudah keliling kamar tujuh ratus kali."
Fatima tertawa.
"Terus?"
"Anak gue tetap nangis."
Fatima mengusap punggung dedek bayi pelan.
"Terus sekarang?"
"Lu cuma gendong sama puk-puk pantatnya..."
Jawir menggeleng tak percaya.
"Langsung diem."
Fatima mengangkat dagu.
"Makanya. Jangan remehkan kehebatan seorang perempuan."
Jawir mengangguk serius.
"Gue baru tahu."
"Lu harus lebih banyak bergaul."
"Gue pengen bergaul."
Jawir menunjuk dedek bayi.
"Tapi bayi gue nggak mau diajak."
Fatima tertawa.
"Besok gue ajak jalan."
Jawir langsung menggeleng.
"Ogah."
"Kenapa?"
"Gue mending di rumah nemenin bayi."
"Ya ajak bayi lu jalan-jalan."
"Pamali."
"Pamali apaan?"
"Baru dua bulan."
Fatima menatapnya bingung.
"Memangnya bayi dua bulan nggak boleh keluar rumah?"
Jawir terdiam.
"Pokoknya... pamali."
Fatima tersenyum.
"Ya sudah. Besok gue temenin."
Jawir menatapnya.
"Lu temenin gue?"
"Iya."
"Terus kata dunia apa?"
Fatima tersenyum tipis.
"Biarkanlah dunia berkata apa."
Jawir langsung mengangguk.
"Iya, iya."
Dia menghela napas.
"Gue kalau ngomong sama perempuan memang nggak pernah menang."
"Memang sudah semestinya."
Fatima tersenyum.
"Kalau cowok sama cewek, cowok harus ngalah."
Jawir menatapnya.
"Lah, kok jadi gue yang dihakimin?"
Fatima tertawa kecil.
"Hehehe... sori. Kebawa emosi."
Jawir ikut tersenyum.
"Ya sudah."
Fatima kemudian menunjuk tempat tidur.
"Kalau lu ngantuk, tiduran aja."
Jawir mengerutkan kening.
"Terus bayi gue?"
"Biar gue gendong sebentar."
Jawir langsung menggeleng keras.
"Jangan!"
Fatima heran.
"Kenapa?"
"Pamali."
"Pamali lagi?"
Jawir menunjuk kalender.
Fatima mengikuti arah jarinya.
Jumat Kliwon.
Fatima langsung menatap Jawir.
"Lu takut gue hantu?"
Jawir tersenyum kaku.
"Enggak."
Fatima menyipitkan mata.
"Lu tadi lihat kaki gue, kan?"
Jawir langsung diam.
Fatima tertawa.
"Dasar aneh."
Jawir jongkok.
Matanya kembali mengarah ke kaki Fatima.
Fatima langsung melotot.
"Lu ngapain?"
"Nyari koin."
"Koin apaan?"
"Jatuh."
Fatima melipat tangan di dada.
"Lu pikir gue Kunti emak emak?"
Jawir menggeleng.
"Bukan Kunti emak-emak."
"Terus?"
"Kuntilanak."
Fatima terdiam.
Jawir menambahkan polos.
"Kalau Kunti kan emak-emak."
Fatima menatapnya tajam.
"Jawir..."
"Iya?"
"Gue nggak akan pernah ngerti isi kepala lu."
Jawir tersenyum.
"Makanya jangan dipikirin."
Fatima menghela napas.
"Sudahlah."
Jawir kemudian mengambil sebuah bangku kecil dan menyerahkannya kepada Fatima.
"Udah, lu duduk."
Fatima duduk.
"Daripada capek. Nanti disangkain gue eksploitasi lu lagi."
Fatima mengangkat alis.
"Emangnya lu sudah eksploitasi gue?"
"Hus!"
Jawir langsung membela diri.
"Lu sendiri yang datang ke rumah gue."
Fatima tertawa.
"Habisnya lu dari tadi ribut banget."
"Ribut?"
"Iya."
Fatima menunjuk dinding sebelah.
"Gue tinggal di sebelah. Dari tadi kedebak-gedebuk, gedebak-gedebuk."
Jawir langsung menunduk.
"Oh..."
"Anak lu nangis, lu panik, lu lari-lari..."
Fatima menggeleng.
"Gue kira ada maling."
Jawir tertawa kecil.
"Maaf."
"Besok-besok kalau dedek bayi rewel, panggil gue."
Jawir langsung menatapnya.
"Tapi gue nggak punya duit buat bayar lu."
Fatima tertawa.
"Lu pikir gue butuh duit lu?"
"Ya nggak-nggak..."
Jawir garuk kepala.
"Masa gue nggak kasih penghargaan."
Fatima mengibaskan tangan.
"Bayaran syuting gue kemarin aja belum habis."
Jawir mengangguk.
"Iya, iya. Gue tahu."
Fatima berdiri.
"Sudah. Bikin susu lagi sana."
"Kenapa?"
"Dedek bayinya sudah tenang."
Fatima menunjuk botol kosong.
"Nanti kalau bangun lagi, lu panik lagi."
Jawir menghela napas.
"Benar juga."
Dia mengambil botol susu.
Dicucinya dengan hati-hati, lalu mulai membuat susu.
Fatima memperhatikan dari belakang.
Senyum kecil muncul di wajahnya.
"Lucu juga."
Jawir menoleh.
"Apa?"
"Kalau cowok jadi ibu rumah tangga."
Jawir langsung mengernyit.
"Ngomong apaan lu? Gue dengar."
Fatima tertawa.
"Serius."
Dia memperhatikan Jawir yang sibuk menyiapkan susu.
"Kayaknya dunia ini bisa nggak berjalan kalau semua cowok jadi ibu rumah tangga."
Jawir menoleh.
"Ngaco lu."
Fatima tersenyum misterius.
"Nanti gue ceritain."
"Ya sudah."
Jawir menyerahkan botol susu.
"Nih."
Fatima menerima botol itu.
"Sudah?"
"Sudah."
Fatima kemudian meletakkan dedek bayi perlahan ke atas tempat tidur.
Dia membetulkan selimutnya.
"Jangan bangun lagi, ya, Dek."
Setelah itu Fatima berdiri dan berjalan menuju pintu.
Jawir duduk di belakangnya.
Namun baru beberapa langkah...
"Eh!"
Kaki Fatima tersandung sesuatu.
"Woi!"
Tubuhnya kehilangan keseimbangan.
"Awas, Jawir!"
Bruk!
Fatima jatuh tepat menimpa Jawir.
Jawir telentang.
Fatima berada tepat di atas tubuhnya.
Keduanya membeku.
Tidak ada yang bicara.
Tidak ada yang bergerak.
Mata mereka bertemu.
Untuk beberapa detik, suara dunia seakan menghilang.
Jawir menatap wajah Fatima yang begitu dekat.
Fatima juga menatapnya.
Wajah mereka perlahan memerah.
Jantung Jawir berdetak lebih cepat.
Entah karena kaget...
Atau karena untuk pertama kalinya setelah ditinggalkan istrinya, ada seorang perempuan yang begitu dekat dengannya.
Fatima membuka mulut.
Namun sebelum sempat berkata apa-apa...
"Ueee...!"
Tangisan dedek bayi kembali terdengar.
Keduanya langsung menoleh bersamaan.
Jawir menghela napas.
"Kayaknya..."
Fatima menatapnya.
"Apa?"
Jawir tersenyum pasrah.
"Dia nggak suka kita berduaan."
Fatima langsung tertawa.
"Dasar Jawir!"
Dan malam yang seharusnya menjadi malam paling melelahkan bagi seorang ayah tunggal itu...
Justru menjadi malam pertama ketika Jawir kembali tertawa setelah sekian lama.