Keluarga Aska Pramana adalah keluarga kaya raya dan terpandang. Askara Anastasya Pramana putri adalah anak bungsu dari 4 bersaudara. Ia adalah anak yang lembut dan penyayang, dia di sayangi oleh ketiga kakak laki lakinya bahkan orang tuanya menyayangi nya juga, namun itu hanya terlihat di depan umum. Nyatanya suasana di dalamnya sangat berbeda. Orang orang berpikir bahwa keluarga tersebut harmonis bahkan punya banyak harta. Sungguh beruntung Askara bisa lahir di keluarga ini. Mereka iri,tanpa mereka ketahui tekanan apa yang dialami anak bungsu tersebut.
Didalam sebuah mobil ada seorang anak yang sedang asik mendengarkan musik yang begitu menyayat hati saat didengarkan,musik pemberi sebuah kode apa yang sedang dirasakan. Dia adalah Askara yang memiliki banyak segudang prestasi sekaligus luka yang membekas didalam dirinya.
"Apa yang kamu lakukan? "ucap seorang laki laki.
" kamu membuat seni puitis lagi?" lanjut orang tersebut.
"Terserah apa yang aku kerjakan itu bukan menjadi urusan kamu sama sekali" ucap Askara.
Tiba-tiba Mahardika langsung mengambil buku bertulisan seni puitis yang sedang ditulis oleh Askara.
"Hidup-hidup kata Mahardika, hidup itu terus dijalani tapi apa hidup itu harus berjalan di tempat yang sama, ditumbuhi sebuah luka yang amat dalam rasanya?"ucap Mahardika yang membaca tulisan itu.
" MAHARDIKA PUTRA PRAMANA ASKARA!!! apa kamu tidak bisa tidak mengganggu hidup saya sekali saja?"ucap Askara dengan nada marah yang berkecambuk didalam pikirannya.
Mahardika anak ketiga dari keluarga Pramana Askara,yang memiliki banyak prestasi dan diidolakan oleh banyak perempuan, karena sifat dan sikapnya yang membuat orang nyaman tapi dipenuhi oleh banyak misteri yang dijalani. Tidak ada yang mengetahui luka apa yang selama ini ia pendam sendirian.
"Bisa asal kamu, tidak menulis kata puitis yang menyebalkan itu " ucap Mahardika.
"Aku sangat mendukung Askara dalam menulis seni puitis, tapi seni puitis dalam gambaran itu jauh berbeda Askara" ucap didalam hati Mahardika.
"Apa kalian bisa berhenti ribut?" ucap Nafis.
"Ekhm,syukurin udah keluar suara macan"ucap Christi.
"Diam Christi, jangan ikut campur" ucap Mahardika.
Christi Shaquille Putra Pramana Askara anak ke dua yang memiliki sifat yang paling menyebalkan diantara saudaranya. Namanya saja yang christi dikenal tidak acuh,dingin dan tidak peduli tapi berbeda apabila sudah berkumpul bersama saudaranya sifat itu seketika berubah menjadi menyebalkan bagi saudaranya.
"kan Christi bilang benar.coba saja Mahardika lihat wajah datar,tidak acuh,dingin dan bervalue seperti itu dibayangkan marahnya saja sudah lebih dari kata cukup"ucap Christi.
" Ekhm apa yang kamu bilang?"ucap seseorng itu yang menghadap kepadanya.
"Tidak, tidak ad nafis"
Nafis Zefa Askara putra Pratama Pramana. Dilihat dari namanya aja sudah kelihatan bagaimana sifatnya, ia memiliki sifat berbeda dari yang lain dan mempunyai banyak hobi yang dimiliki. Menjadi primadona dikalangan perempuan itu menambah keterkenalannya. Memiliki sifat yang jauh berbeda dibanding saudaranya,sifat datar, cuek, dingin, tidak peduli itu yang membuat kaum hawa mengejar dia terus-menerus.
Tiba-tidak terdengar suara bentakan dari dalam mobil karena mendengar Askara masih menulis seni puitis.
"ASKARA,SUDAH DIBILANGIN BERHENTI MEMBUAT SENI SEPERTI ITU TAPI KENAPA KAMU TIDAK MAU MENDENGARKAN,TINGKATKAN LAGI PRESTASI KAMU BIAR SAMA SEPERTI SAUDARAMU YANG LAIN " ucap seseorng itu kepada askara
Askara hanya bisa menghela nafas dalam-dalam,karena baginya melawan itu tidak ada gunanya. Kesabaran adalah kunci akan kemenangan yang sudah di janjikan tuhan kepadanya.
Dia adalah Askara Pramana pengusaha sukses yang memiliki begitu banyak saham dimana-mana. Tidak salah lagi kenapa mereka selalu berpindah-pindah tempat. Dan dia juga adalah penerus marga perusahaan Askara yang terkenal.
Mereka yang mendengar marahan itu seketika hanya bisa diam dan memperhatikan adiknya dalam tatapan yang begitu dalam. Mereka mengetahui kalau ikut campur hanya akan menambah permasalahan saja, bagi ketiga saudaranya marah ayah sudah cukup menyakitkan bagi Askara. Anak satu-satunya perempuan tapi diperlakukan berbeda dari yang lain.
Terlihat rumah yang begitu megah dengan nuansa biru laut bercampur warna gradasi. Rumah bertingkat yang sangat indah dan dipenuhi lingkungan yang asri.
"Hem aku langsung mau ke kamar saja"ucapnya.
"Tunggu Askara, aku juga ingin ikut" ucap Mahardika.
" iya sudah, oh iya kamu sudah punya teman atau belum?" Tanya Mahardika
"Belum"Askara membalas dengan nada tidak acuh.
"kamu adik yang kuat, kamu harus bisa bersosialisasi mancari teman"ucap Mahardika.
"Katanya teman hanya datang di waktu ia membutuhkan kita saja tapi disaat kita membutuhkannya teman itu menghilang seperti ditelan malam"ucap askara.
"Teman itu biasanya ada disaat kamu membutuhkannya dan tidak semua teman seperti itu.Senyuman yang kamu berikan ke orang orang-orang itu menambah ketertarikan mereka ke kamu sama seperti teman, berteman lah mancari kenyaman dan berikan senyuman bermakna positif kamu kepada temanmu. Mahardika, Christi dan Nafis mengetahui kalau dulu Askara memiliki satu-satunya teman pria yang selalu menemanimu disaat kami tidak ada, ia yang selalu ada dan terus menjaga Askara tapi teman pria itu secara tiba tiba menghilang dan mengubah sifat serta sikapnya ke Askara bukan?.Tidak apa apa, kami tau kalau kamu sudah mengalami trauma yang diakibatkan oleh keluargamu sendiri Askara"ucap Mahardika
"Eeh bang Mahardika jangan dibahas terus masalah itu. Askara tidak apa-apa, selalu percaya akan takdir tuhan yang baik untuk Askara. Ia yang sudah pergi dan begitu banyak meninggalkan kenangan yang ada itu pertanda akan datang kebahagiaan yang lain" ucap Askara.
Ternyata benar apa yang dikatakan oleh Askara, sebuah cerita ungkapan akan ada saat dimana ungkapan itu tersampaikan dengan cara yang tidak pernah terduga.
Kata yang selalu dikatakan Askara " Saya akan menikmati setiap hidup perjalanan yang saya lalui. Tidak peduli apa yang dikatakan oleh dunia yang begitu kejam terhadapku yang penting akan aku lalui dengan sabar yang telah diberikan kepadaku. Aku akan menunggu waktu dimana ungkapan itu akan diungkapkan".
Sekolah bernuansa putih dan dipenuhi oleh siswa siswi yang berlarian masuk ke dalam kelasnya.Terlihat seorang anak perempuan sedang menuju kelas bersama guru, ia memperkenalkan dirinya dan membuat seluruh teman sekelasnya kaget karena mengetahui marganya.
"Disekolah yang baru,harus memiliki teman tapi tatapan mereka sama seperti orang terdahulu membuat ku takut akan dikucilkan lagi" ucap Askara sambil bermain handphone nya.
Dia sedang asik berkomunikasi bersama teman,yang belum sempat ia temui tapi sudah dulu ia kenal. Teman virtual yang membuat ia senang karena pada akhirnya Askara memiliki teman setelah sekian lama.Nata Stellatus anak perempuan yang menjadi teman virtual Askara.Mereka selalu bertanya "bagaimana hari mereka?" dan bercerita banyak hal mengenai luka yang tidak pernah tersirat dalam ucapan namun selalu menebarkan sejuta senyuman positif. Banyak yang mereka ceritakan dari seseorng yang mereka sukai dan pernah dekat sama mereka sampai cerita mengenai lelucon yang mengundang seribu tawa di antara mereka. Sampai pada akhirnya Askara bercerita mengenai penyakit yang membuat ia harus dioperasi dan harus meminum obat setiap saatnya.
"Chico,kamu harus kuat dan aku yakin kamu pasti sembuh" ucap Nata.
"Kalau aku ad disana pasti aku akan langsung memberikan mu sebuah pelukan hangat" ucapnya lagi.
"Tenang saya sudah terbiasa, saya berharap kematian datang lebih cepat dari perkiraan mereka" ucap Askara.
"Saya sudah tidak sanggup lagi la,dunia seakan-akan kejam terhadap saya.Saya dipaksa untuk terus kuat dan tersenyum menebarkan kebaikan.Saya capek sangat capek la" ucap Askara.
"Kamu sudah kuat,sampai saat ini masih bisa menahan semuanya"ucap Nata.
" Terima Kasih banyak, see you Assalamu'alaikum"ucap Askara.
Malam yang begitu sunyi hanya ditemani suara hujan disertai kilat yang begitu dahsyat.Terdengar suara panggilan yang begitu kuat sehingga membuat ke empat saudara itu terbangun dari tidur nyenyaknya.
"ASKARAAAA!!!.KESINI KAMU SEKARANG" bentakan dari Pramana.
" APA TIDAK BISA SEKALI SAJA KAMU TIDAK BIKIN MALU KELUARGA!KAMU TERLALU SIBUK DENGAN SENI YANG TIDAK JELAS ITU.KENAPA KAMU TIDAK BISA MENDENGARKAN PERKATAAN AYAH SEKALI SAJA" ucapnya dengan keras.
"Mak-Maksud ayah apa?" ucap Askara dengan nada gemetar.
"TIDAK PERLU BERPURA-PURA ASKARA.NILAI KAMU SANGAT BURUK SEKALI DI SEKOLAH SEBELUMNYA.KENAPA KAMU TIDAK BISA MENCONTOH SAUDARAMU YANG LAIN?.KAMU TERLALU SULIT DIBANGGAKAN DIDEPAN BANYAK ORANG DAN SELALU MEMBUAT MALU MARGA ASKARA PRAMANA" Ucap Pramana dengan nada membentak.
Askara hanya bisa menangis dalam diam tanpa berkata sekata patah pun.Tapi tiba-tiba terdengar suara tamparan yang membuatnya syok seketika.Saudaranya yang melihat sangat kaget karena perlakuan itu.Mereka mau menghampirinya tapi Askara sudah lebih dulu pergi keluar dari rumah disaat hujan yang begitu lebat.
"Sakit kata pertama yang aku katakan.Sakit mendengar perkataan dari orang yang disayang,yang diharap tidak pernah mengatakan itu.Sungguh dunia begitu kejam kepadaku,aku yang tidak bisa berdiri sendiri harus dipaksa untuk berdiri menjadi lebih kuat.Jujur menjadi anak perempuan satu-satunya dan memiliki marga itu tidak menyenangkan hanya diberi sebuah ungkapan kata luka tidak kasih sayang" ucap Askara.
Askara melihat dari kejauhan ada seorang nenek yang sedang membutuhkan pertolongannya untuk mengangkat barang dagangannya.
"Nek mari saya bantu" ucap askara dengan nada lembut disertai senyuman yang manis dibibirnya.
"Tidak usah nak,nenek bisa mengangkatnya sendiri.Jangan merepotkan dirimu diderasnya hujan seperti ini" ucap nenek.
"Tidak apa-apa nenek, saya ikhlas menolong nenek. Ayo saya bantu membawakannya ketempat yang teduh nek" ucap Askara.
"Baik,Terima Kasih banyak ya nak sudah membantu nenek" ucap nenek.
"Iyaaa sama-sama nek" ucap askara dengan nada lembut.
"Senyuman kamu sangat manis, sehingga orang yang melihat senyuman mu itu terlihat sangat bahagia karena senyuman yang kamu berikan bermakna positif bagi mereka yang melihatnya nak" ucap nenek.
"Hehehehe nenek bisa saja,banyak yang bilang seperti itu nek tapi baru pertama kalinya saya merasakan kenyamanan akan ucapan nenek" ucap Askara.
"Nak kamu cantik,manis,suka menolong orang-orang.Tapi coba sekali saja kamu perlihatkan rasa sakit itu.Nenek mengetahui dibalik senyuman kamu itu tersimpan luka yang sangat dalam bagi kamu nak" ucap nenek.
"Tidak-tidak seperti itu nek.Terkadang saya sulit mengatakan apa yang sedang saya rasakan karena saya tidak suka orang lain mengetahui rasa sakit saya.Saya lebih suka seperti ini nek,tentram,dibilang baik Alhamdulillah,dibilang punya masalah punya tapi lebih baik disimpan nek" ucap Askara.
"Baiklah nak,perlihatkan senyuman sejuta positif kamu itu iyaa nak.Nenek percaya kamu anak yang kuat dan bisa melawan rasa sakit itu nak." ucap nenek.
"Hujannya sudah berhenti nek,kalau gitu saya pulang duluan iyaa nek,Assalamu'alaikum"ucap Askara.
"Iyaa nak,Wa'alaikumsalam.Anak yang baik semoga suatu hari nanti dia kembali ketemu sama laki-laki yang ia sukai itu" ucap nenek dengan nada sedikit ketawa.
Sesampainya didepan rumah,Askara sudah disambut marahan ke dua orang tuanya.
"ASKARA KAMU DARI MANA SAJA?" ucap Pramana.
Askara hanya diam tanpa sepatah kata yang terucap,ia langsung menuju kamarnya.Tapi terdengar suara hempasan barang yang mengenai Askara karena marahan dari orang tuanya.
"ASKARA JAWAB DULU SEBELUM PERGI" ucap Pramana.
"Tolong ayah tolong,biarkan Askara bebas menentukan pilihan Askara.Selama ini Askara selalu mengikuti kemauan ayah agar ayah bisa melihat ke arah Askara sekali saja. Tapi ayah tidak pernah melihat ke arah askara.Ayah selalu marah kepada Askara sampai apa yang bukan salah Askara ayah marah.Yah anak perempuan mu ini capek yah capek ayah selalu menilai sesuatu tanpa mendengarkan Askara terlebih dulu.Terkadang Askara berpikir kenapa ayah begitu benci kepada Askara kapan ayah akan membuka hati ayah untk askara,kapan askara bisa mendapatkan kasih sayang dari kedua orang tuanya.Apa ayah bisa jawab kapan itu semua bisa dirasakan.Askara iri sangat iri kepada saudara Askara sendiri.Askara sudah capek dengan semuanya" ucap Askara dengan nada tangisan di kedua matanya
Tiba-tiba Askara jatuh pingsan dan langsung dilarikan ke rumah sakit oleh keluarganya.Dokter memvonis Askara tidak akan bertahan lama dikarenakan penyakit yang sedang ia derita.Dan dokter meminta persetujuan untuk mengoperasi Askara setelah sadar nanti.Keluarga yang mendengar hanya bisa diam seribu bahasa tanpa ada kata yang terucap mereka tidak percaya Askara mengidap penyakit.
Askara tersadar dan mengucapkan "Bang Mahardika to-tolong a-ambilkan handphone Askara,Askara ingin meng-hubungi seseorng".
"Assalamu'alaikum, rencananya saya ingin menghapus akun ini.Jaga dirimu baik-baik iyaa .Saya disini tidak apa-apa dan semoga nanti kita bisa bertemu lagi iyaa"ucap Askara.
" Wa'alaikumsalam,kamu serius ingin menghapus akun ini Chi?.iyaa Chi jaga dirimu baik-baik juga"ucap neta.
"Iyaa laa,Selamat Tinggal dan Terima Kasih atas semuanya" ucap Askara.
"Iya sama-sama chi dan selamat tinggal juga" ucap neta.
Maafkan saya tidak bisa jujur,pada akhirnya saya sudah tidak sanggup lagi.Saya pergi ke tempat jauh dimana saya merasakan kebahagian bukan rasa sakit lagi"batin Askara sambil meneteskan air matanya.
"Haiii,Hallooo Assalamu'alaikum Askara,apa adik abang sudah siap melakukan operasi?" ucap Christi.
"Jangan nangis Mahardika,kita harus kelihatan kuat dan tegar didepan Askara" ucap Nafis yang tidak disangka sudah meneteskan air matanya.
Hanya anggukan yang bisa Askara berikan sebagai jawaban dari saudaranya.
Diruang operasi Askara mengalami drop yang cukup parah dan membuat operasi mengalami sedikit kegagalan.Dokter tidak bisa berkata selain menggelengkan kepalanya dengan memberi sebuah pertanda kemungkinan Askara bisa sadar hanya berapa persen saja.
Tidak disangka senyuman sejuta positif itu telah pergi kepelukan pencipta yang lebih menyayanginya.Hanya kenangan dan seni puitis yang tersisa.Senyuman itu telah pergi selamanya dengan membawa kebahagian yang melekat didalam dirinya.Askara Anatasya Pramana Putri pergi membawa senyuman sejuta positif yang telah ia perlihatkan kepada orang-orang.
"Malam menyembunyikan rasa sakitku,tapi hujan menyamarkan tangisanku.Hidup mereka akan berjalan sedangkan hidupku akan berhenti disini dengan membawa sebuah kata perpisahan dan rasa sakit semata.Air mataku jatuh digelapnya malam,tapi angin membawanya pergi begitu saja" seseorng yang sedang membaca seni puitis yang sudah dirangkai kata-kata manis.
Tidak disangka seseorng itu menangis mengingat kembali akan senyuman itu yang sudah pergi.Dan tiba-tiba ada seorang anak yang memanggil ibunya.
"Bundaaaa,ini buku apa?kenapa Askara harus pergi?" ucap anak itu
"Kamu sudah membacanya iyaa,itu buku sudah lama sekali" ucap ibunya
"Dan kenapa namanya sama seperti bunda?" ucap anak itu
"Bundaaaa jawabb jangan diam ajaa" ucapnya lagi
"Hahahahaha,sudah-sudah sebentar lagi ayah dan paman pulang.Mari kita siapkan makanannya" ucap ibunya
"Baiklah bunda,apa jangan-jangan bunda adalah orang yg aku baca ceritanya dan paman serta ayah itu ikut dalam cerita ini juga?" lanjut anak itu
"Sudah-sudah jangan dipikirkan lagi.Itu adalah cerita dimana ayah kamu abadi didalamnya bersama paman dan kakek kamu nak. Ayah adalah orang yang dulu pernah dekat dengan bunda" ucap ibunya.