“Guk! Guk!” Aku berlari mengejar mobil merah Ayah yang terus menjauh. Dari kaca belakang yang terbuka sedikit, aku masih bisa mencium bau Ibu dan Ayah, juga aroma sabun stroberi Leo.
“Jalu!” Leo memanggilku dari balik kaca. Aku mempercepat langkahku. Aku harus mengikuti mereka.
Aku menerobos celah pagar kayu depan rumah yang sudah patah dan melompati serpihan kaca di jalanan. Keempat kakiku terus berlari mengejar mobil merah itu. Angin malam menerpa wajahku. Aku melewati tetangga-tetangga yang berlarian panik dan rumah-rumah yang dipenuhi asap. Tenggorokanku mulai kering, napasku semakin berat, tapi aku tetap mengejar.
Namun, mobil itu terlalu cepat. Di tikungan jalan raya luar kompleks, lampu belakangnya menghilang ditelan kegelapan. Aku terpaksa melambat, napasku tersengal-sengal keras dengan lidah menjulur. Aku menundukkan moncongku dekat ke tanah. Bau ban mobil Ayah dan jejak sabun Leo masih menempel tipis di atas aspal. Selama bau itu masih ada, aku tidak boleh berhenti.
Hari berganti, tetapi dunia di sekitarku semakin asing. Manusia-manusia tidak lagi berjalan tegak seperti biasanya. Mereka menyeret kaki, bergerak sempoyongan dengan mata putih keruh. Dari mulut mereka keluar suara berat dan basah. Dan bau mereka... busuk. Sangat busuk. Bau daging yang sudah lama mati.
Sejak saat itu, setiap kali mencium bau busuk mereka, aku segera mencari tempat untuk bersembunyi di balik semak atau di bawah kolong mobil.
Memasuki hari kedua, perutku melilit hebat karena lapar dan haus. Kakiku gemetar di sebuah gang sempit di tengah kota. Di sudut gang itu, aku melihat seorang manusia hidup. Bau keringat dan ketakutan melekat pada tubuhnya, tapi dia tidak mengusirku. Dia duduk merosot di balik tempat sampah besar, memegang kaleng kecil.
Saat melihatku mendekat dengan ragu, matanya yang lelah menatapku hangat. Dia merogoh isi kaleng itu dan melempar sepotong daging basah ke dekat kakiku.
"Makanlah, jagoan... kamu pasti lapar," bisiknya dengan suara gemetar.
Aku menyambar daging itu dan menelannya bulat-bulat. Tubuhku sedikit lebih segar. Aku melangkah mendekat dan mengulurkan moncongku untuk menjilat tangannya. Namun, sebelum lidahku menyentuh kulitnya, dua bangkai berjalan muncul dari balik tikungan gang.
Manusia baik itu terlambat bereaksi. Kedua bangkai itu menindih tubuhnya ke tanah. Kulihat gigitan-gigitan tajam merobek leher dan lengannya. Jeritan sakitnya memecah keheningan gang. Aku menggonggong sekeras-kerasnya, berusaha menakut-nakuti mereka, tapi kedua bangkai itu tidak peduli. Darah mengalir deras di atas lantai semen.
Jeritannya akhirnya terhenti. Tubuhnya mengejang di atas lantai. Untuk beberapa saat dia hanya terbaring diam. Lalu dia bangkit dan menoleh ke arahku. Matanya sudah putih keruh. Bau keringat dan manusia yang tadi kukenal telah hilang, digantikan bau busuk yang sama dengan kedua penyerangnya. Aku tahu dia bukan lagi manusia yang memberiku makan. Aku berbalik dan berlari secepat yang kubisa keluar dari gang itu.
Pada hari keempat, aroma keluargaku membawaku mendekati pinggiran kota. Namun, langkahku terhenti oleh suara ledakan yang menggetarkan tanah. Suara letusan berulang kali terdengar dari jalan utama. Setiap suara membuat telingaku menegak.
Aku menyelinap di bawah kolong truk rongsok, meringkuk rendah. Di depan sana, sekumpulan manusia berseragam hijau sedang menembakkan tongkat api mereka ke arah sebuah makhluk mengerikan. Itu bukan manusia biasa, juga bukan bangkai berjalan biasa. Tubuhnya jauh lebih besar daripada manusia-manusia lain. Otot-otot abu-abu menonjol di sekujur tubuhnya. Lengan kanannya membengkak hingga hampir sebesar tubuh manusia, dengan daging keras yang menonjol seperti batu.
Peluru-peluru dari senjata mereka menembus kulitnya, tetapi makhluk besar itu tidak berhenti. Ia mengaum dan menerjang maju. Dengan satu kibasan lengan raksasanya, tiga manusia berseragam hijau terpental sekaligus hingga menghantam dinding beton.
Bau darah dan daging busuk menusuk hidungku. Suara tulang patah dan jeritan manusia membuat tubuhku gemetar. Aku menekan perutku ke tanah dan diam-diam menahan napas. Jangan bergerak. Jangan sampai mereka melihatku.
Setelah semua suara tembakan meredup dan makhluk bengkak itu menyeret tubuh besarnya menjauh mencari mangsa lain, aku perlahan merayap keluar dari bawah truk. Aku melompati genangan darah di jalan, tidak menoleh lagi ke arah manusia-manusia berseragam yang sudah tak bernyawa, dan kembali mengikuti aroma keluargaku.
Di sebuah jalan raya antar kota yang sepi dan dipenuhi mobil-mobil terlantar, aku bertemu dengan anjing lain. Dia adalah anjing gembala berbulu cokelat dengan satu telinga yang terkulai patah.
Kami tidak saling menggonggong atau menunjukkan gigi. Kami perlahan mendekat, saling mengendus moncong dan bagian belakang tubuh untuk saling mengenal. Dia berbau debu, jalanan, dan kesendirian, sama seperti diriku. Setelah beberapa saat, dia mulai berjalan di sampingku. Aku tidak mengusirnya, dan dia tidak pergi. Sejak hari itu, kami selalu berjalan bersama.
Selama dua hari, kami berjalan berdampingan. Dia mengajariku cara menangkap tikus di semak-semak untuk mengganjal perut, dan aku berbagi tempat berteduh di bawah atap seng bekas saat gerimis turun. Malam hari, kami tidur saling menempelkan punggung, membagi kehangatan tubuh di tengah dinginnya malam. Kehadirannya membuat rasa takut di dadaku sedikit berkurang.
Pada hari keenam, kami sampai di sebuah persimpangan dekat pertokoan yang hancur. Saat kami sedang menyeberang, suara letusan dari tongkat api terdengar dari kejauhan.
Tiba-tiba sesuatu menghantam perut kawan baruku. Suara puk yang keras terdengar bersamaan dengan tubuhnya yang terlempar ke samping.
Dia roboh di atas tanah. Aku langsung berlari menghampirinya, mendorong-dorong tubuhnya dengan moncongku. Dia hanya mampu merengek sangat pelan, napasnya berdesis pendek-pendek dari mulutnya yang mulai mengeluarkan cairan merah. Darah hangat membasahi bulu cokelatnya. Aku menjilat telinganya berulang kali, memohonnya untuk bangkit. Perlahan, matanya terpejam. Dadanya tidak lagi bergerak.
Aku melolong pelan. Suara itu menggema sebentar di jalan yang kosong. Tidak ada waktu untuk meratap. Suara langkah kaki bangkai-bangkai berjalan mulai terdengar mendekat karena suara tembakan tadi. Dengan berat hati, aku menjilat moncong kawan baruku untuk terakhir kalinya, lalu kembali melangkah sendirian.
Keesokan harinya, hari ketujuh sejak aku meninggalkan rumah, hujan turun sangat deras. Air hujan menyapu debu dan membuat bau-bau di tanah semakin samar. Hidungku harus bekerja lebih keras untuk menemukan jejak keluargaku. Hingga akhirnya, aku mencium bau yang sangat kukenal dari sebuah tempat berpagar kawat di pinggir hutan. Di balik pagar itu berdiri banyak tenda besar. Aku tidak tahu tempat apa itu, tetapi aroma keluargaku datang dari sana.
Tempat itu sudah hancur total. Pagar kawatnya jebol, tenda-tenda besar robek tercakar, dan mayat-mayat berserakan di mana-mana. Namun di tengah aroma kematian yang pekat itu, hidungku menangkapnya secara jelas.
Bau keringat Ayah yang tajam. Bau parfum bunga milik Ibu. Dan yang paling kukenal di antara semuanya... aroma sabun stroberi Leo.
Jantungku berdegup kencang. Aku kembali berlari meski kakiku sudah lelah. Ekorku yang selama berhari-hari terkulai mulai bergoyang. Mereka ada di sini. Keluargaku ada di sini.
Aku berlari menyelinap di antara tenda-tenda yang roboh, mengikuti aroma manis itu menuju sebuah tenda hijau besar di sudut area. Pintu kain tenda itu melambai-lambai tertiup angin malam. Bau keluargaku paling pekat menguar dari dalam sana.
Aku menyelinap masuk.
"Guk!"
Aku menggonggong kecil dan melangkah lebih cepat. Mereka pasti ada di sini!
Di bagian belakang tenda yang remang-remang, aku melihat sosok Ayah. Dia sedang berlutut menunduk di atas lantai tanah, memunggungi arah kedatanganku. Tubuh besarnya naik turun tidak teratur.
Aku melangkah maju dengan gembira, hendak melompat ke arahnya. Tapi semakin dekat jalanku, hidungku mencium sesuatu yang membuat seluruh bulu di tubuhku berdiri kaku. Bau sabun stroberi Leo bercampur dengan bau darah dan sesuatu yang busuk. Sangat busuk. Bau bangkai.
Ayah berhenti bergerak. Dia perlahan memutar tubuhnya ke arahku.
Langkah kakiku terhenti seketika. Ekorku mati rasa dan terkulai lemas.
Wajah Ayah berlumuran darah dan serpihan daging. Matanya yang dulu hangat kini putih keruh. Ia hanya menatapku tanpa mengenaliku. Dan di lantai tanah di depannya, tergeletak tubuh Ibu dan Leo yang sudah tidak utuh. Bajunya robek-robek, dadanya terkoyak.
Ayah sedang membungkuk di atas tubuh mereka. Mulutnya penuh darah. Rahangnya bergerak perlahan, mengunyah daging yang baru saja ia cabik dari lengan Leo.
Bau busuk bangkai itu terpancar dari tubuh Ayah, dari tubuh Ibu, dan dari tubuh Leo.
Ayah menatapku, lalu membuka mulutnya yang bersimbah darah. Ayah tidak memanggil namaku. Ia hanya menggeram. Suaranya rendah dan basah. Giginya terlihat di balik bibir yang penuh darah.
Aku mundur selangkah.
Aku berdiri terpaku di tengah tenda. Mataku menatap wajah Leo yang pucat dan tak bernyawa di tanah. Tidak ada lagi suara tawa Leo. Tidak ada lagi tangannya yang mengusap kepalaku sebelum tidur. Tidak ada lagi aroma sabun stroberi yang selalu tercium darinya. Anak manusiaku sudah tidak ada. Keluargaku sudah musnah.
Aku tidak menggonggong. Aku tidak membalas geramannya. Aku bahkan tidak merengek kesakitan.
Aku tahu bau Ayah, tetapi sosok di depanku bukan lagi Ayah yang kukenal.
Aku tidak punya rumah lagi.
Aku mundur perlahan dan keluar dari tenda hijau itu.
Di luar, hujan masih turun. Tubuhku menggigil karena dingin, tetapi aku tidak kembali ke dalam.
Aku berjalan menjauh dari tempat itu.
Kali ini, tidak ada aroma yang harus kuikuti.
Tidak ada suara yang memanggil namaku.
Aku hanya terus berjalan sendirian.