Sore itu gerimis turun tipis, menyisakan aroma tanah basah yang menyelinap melalui celah jendela kamar Ardi.
Ia duduk di tepi kasur sambil memandangi sebuah foto polaroid usang yang warnanya mulai pudar. Di dalam bingkai kecil itu, ia dan Kirana tertawa kaku dengan latar belakang dinding perpustakaan sekolah yang catnya sudah mengelupas.
Foto itu diambil tepat enam tahun lalu, pada hari yang sama sekali tidak pernah ia duga akan mengubah cara pandangnya tentang cinta.
Usia mereka baru tujuh belas tahun saat itu. Belum ada istilah cinta yang rumit. Yang ada hanya rasa penasaran setengah mati, gengsi remaja yang menggunung, dan perasaan yang belum cukup mereka pahami untuk diberi nama.
Ardi masih ingat bagaimana telapak tangannya terasa dingin ketika Kirana tiba-tiba menarik ujung lengan seragamnya menuju balik rak buku perpustakaan yang sepi.
Penjaga perpustakaan sedang tertidur di meja depan, dikelilingi tumpukan majalah lama yang berdebu.
“Kamu serius mau ngomong di sini?” bisik Ardi waktu itu.
Kirana mengangguk. Matanya memantulkan cahaya lampu koridor yang remang-remang. Napasnya terdengar pendek-pendek.
“Aku cuma mau bilang sesuatu.”
“Apa?”
Kirana terdiam.
Beberapa detik berlalu tanpa suara selain dengung kipas angin tua di sudut ruangan.
“Aku... suka sama kamu, Di.”
Ardi membeku.
Jantungnya bergemuruh hebat. Ia ingin menjawab, tetapi kata-kata seolah menghilang begitu saja dari kepalanya.
Kirana tersenyum gugup.
“Jangan jawab sekarang.”
“Kenapa?”
Kirana menggigit bibir bawahnya sebelum menjawab pelan.
“Pokoknya.”
Saat itu Ardi belum tahu bahwa malamnya Kirana harus meninggalkan kota.
Tidak ada kesempatan untuk membicarakan perasaan mereka.
Tidak ada kesempatan untuk mengatakan bahwa sebenarnya ia juga menyukai Kirana.
Keesokan harinya, Kirana tidak masuk sekolah.
Dan sejak hari itu, gadis yang selama berbulan-bulan diam-diam memenuhi pikirannya benar-benar menghilang dari kehidupan Ardi.
Kini, enam tahun telah berlalu.
Kirana sudah lama pindah ke kota lain, sementara jalan hidup mereka bergeser ke arah yang berbeda. Namun, setiap kali gerimis turun dan aroma tanah basah memenuhi udara, Ardi selalu tersenyum sendiri.
Ia sadar, dari sekian banyak hal besar yang datang dan pergi dalam hidupnya, pengakuan singkat di balik rak buku tua itu selamanya menjadi satu memori yang tak tergantikan.
Gerimis sore itu belum juga usai ketika Ardi memutuskan untuk keluar mencari udara segar.
Ia melangkah masuk ke sebuah kedai kopi kecil di sudut jalan. Aroma biji kopi panggang bercampur dengan wangi tanah basah dari luar, menciptakan suasana yang terasa begitu akrab.
Saat Ardi sedang menunggu pesanannya di dekat meja kasir, pintu kedai berdenting.
Seseorang masuk dengan payung lipat yang basah kuyup.
Ardi menoleh.
Jantungnya seolah berhenti berdetak selama satu detik.
Perempuan itu sedang merapikan rambutnya yang sedikit basah. Struktur wajah itu, sepasang mata yang jernih itu—meski kini terlihat jauh lebih dewasa—Ardi tidak mungkin salah mengenalinya.
“Kirana?”
Perempuan itu menoleh.
Matanya membelalak tak percaya.
“Ardi? Kamu... kok bisa di sini?”
Ardi hanya mampu tersenyum.
“Harusnya aku yang nanya.”
Kirana tertawa kecil.
“Enam tahun, ya?”
“Enam tahun.”
Dua puluh menit kemudian, mereka sudah duduk berhadapan di dekat jendela yang berembun. Dua cangkir americano hangat menjadi saksi kecanggungan yang perlahan mencair.
Enam tahun terpisah membuat mereka harus meraba-raba kembali cara mengobrol yang pas.
“Aku baru balik ke kota ini minggu lalu,” kata Kirana. Jemarinya memainkan pinggiran cangkir. “Ada proyek kerjaan yang harus diurus di sini.”
Ardi tersenyum, mencoba menyembunyikan debar yang tiba-tiba kembali hadir.
“Kamu banyak berubah.”
“Berubah jadi jelek?”
Ardi terkekeh.
“Bukan. Makin dewasa.”
Kirana tertawa kecil. Pipinya sedikit merona.
“Kamu juga. Gak sekaku dulu.”
“Dulu aku sekaku itu?”
“Banget.”
Mereka kembali tertawa.
Namun ketika percakapan mereka menyentuh masa sekolah, keheningan perlahan menyusup di antara keduanya.
Ardi menarik napas dalam-dalam.
Ada satu pertanyaan yang selama enam tahun tidak pernah benar-benar hilang dari kepalanya.
“Kirana, boleh aku tanya satu hal?”
“Apa?”
“Waktu hari itu... di balik rak buku. Kenapa kamu tiba-tiba narik aku ke sana?”
Kirana terdiam.
Ardi melanjutkan, lebih pelan.
“Besoknya kamu pindah sekolah tanpa pamit.”
Kirana memandangi keluar jendela. Titik-titik air bergerak perlahan di kaca.
Senyum tipis yang agak getir muncul di sudut bibirnya.
“Hari itu aku tahu kalau keluargaku harus pindah ke luar kota malamnya.”
Ardi tertegun.
“Karena bangkrut?”
Kirana mengangguk.
“Aku takut banget, Di. Rasanya duniaku runtuh. Aku harus meninggalkan sekolah, teman-teman, rumah...” Ia berhenti sejenak. “Termasuk kamu.”
Ardi tidak menyela.
“Aku tahu kita berdua sama-sama gengsi dan gak pernah berani jujur.”
Kirana kini menatapnya.
“Jadi, hari itu aku mutusin buat nekat.”
“Kamu nekat apa?”
“Aku bilang kalau aku suka sama kamu.”
Ardi tersenyum kecil.
“Aku ingat.”
“Tapi kamu gak pernah jawab.”
“Kamu sendiri yang bilang jangan jawab.”
Kirana terkekeh.
“Iya juga.”
Suasana di antara mereka mencair lagi.
Namun mata Kirana tampak berkaca-kaca ketika ia melanjutkan.
“Besoknya aku pergi. Aku bahkan gak sempat pamit.”
Ardi menundukkan pandangan.
“Aku kira kamu sengaja ninggalin aku.”
“Aku juga pernah berpikir begitu,” kata Kirana pelan. “Selama bertahun-tahun aku bertanya-tanya apakah seharusnya waktu itu aku lebih berani.”
Ardi menatapnya.
“Lebih berani bagaimana?”
Kirana tersenyum tipis.
“Mengatakan semuanya.”
Keduanya terdiam.
Enam tahun ternyata tidak menghapus apa yang pernah mereka rasakan. Waktu hanya membuat perasaan itu terkubur lebih dalam.
Kirana melihat jam tangannya.
“Aku harus balik ke kantor sekarang, Di. Senang banget bisa ketemu kamu lagi.”
Ia berdiri dan merapikan tasnya.
Ardi ikut berdiri.
“Senang ketemu kamu juga.”
Kirana tersenyum sebelum berjalan menuju pintu.
Namun ketika melihat punggung perempuan itu mulai menjauh, Ardi menyadari satu hal.
Kesempatan kedua jarang datang dua kali.
Ia tidak ingin kembali menjadi anak tujuh belas tahun yang hanya diam ketika kesempatan berada tepat di depan mata.
Ardi menyambar jaketnya dan bergegas mengejar Kirana.
“Na! Kirana, tunggu!”
Kirana menghentikan langkahnya di trotoar.
Ia berbalik. Payung lipatnya sudah terkembang, menghalau sisa gerimis yang tinggal rintik-rintik tipis.
Matanya menatap Ardi dengan raut terkejut sekaligus bingung.
Ardi berdiri dua langkah di depannya, napasnya sedikit memburu.
“Enam tahun lalu kita pisah karena keadaan, Na.”
Kirana terdiam.
“Dan hari ini kita ketemu lagi secara gak sengaja di tempat ini.” Ardi tersenyum tipis. “Aku gak tahu ini kebetulan atau bukan.”
Kirana menunggu.
“Tapi aku gak mau kehilangan jejak kamu lagi.”
Ardi menghela napas.
“Dulu kita sama-sama gengsi buat jujur. Sekarang kita bukan anak SMA lagi.”
Ia menatap mata Kirana.
“Aku pengen punya kesempatan buat kenal kamu lagi. Bukan sebagai memori masa lalu, tapi sebagai kita yang sekarang.”
Keheningan merayap di antara mereka.
Suara klakson kendaraan terdengar dari jalan raya.
Kirana menunduk kecil, menyembunyikan senyum yang perlahan terbit di wajahnya.
“Terus?”
Ardi menggaruk tengkuknya.
“Boleh aku minta nomor telepon kamu?”
Kirana mengangkat wajah.
“Siniin HP kamu.”
Dengan cepat Ardi merogoh saku celana dan menyerahkan ponselnya yang sudah membuka menu kontak baru.
Jemari Kirana mengetikkan nomor teleponnya, menekan tombol simpan, lalu mengembalikan ponsel tersebut.
“Jangan cuma disimpan, ya, Di.”
“Aku hubungi.”
“Awas kalau gak dihubungi.”
Ardi tertawa.
Kirana mengangkat alis.
“Aku duluan, ya. Beneran bisa telat.”
Kirana berbalik dan berjalan cepat menuju halte bus di ujung jalan.
Kali ini, langkahnya terasa lebih ringan.
Ardi berdiri di bawah sisa gerimis sambil menatap layar ponselnya.
Nama itu kini kembali tersimpan di sana.
Kirana.
Bukan lagi sekadar nama dari masa lalu.
Malam harinya, kamar Ardi kembali sepi.
Di luar, hujan deras mengguyur kota, menciptakan suara ritmis di atas atap.
Ardi berbaring di kasurnya sambil memandangi langit-langit kamar. Di tangan kanannya, ponselnya menyala, menampilkan ruang obrolan kosong dengan satu kontak baru yang ia dapatkan sore tadi.
Kirana.
Ardi mengetik sebuah pesan.
Ardi: Hai, Na. Ini Ardi. Sudah sampai rumah?
Ia menghapusnya.
Terlalu kaku.
Ia mencoba lagi.
Ardi: Na, makasih ya buat kopi dan ceritanya tadi sore.
Dihapus lagi.
Terlalu formal.
Ardi mengacak rambutnya frustrasi.
Lucu sekali bagaimana seorang pria dewasa bisa mendadak mati kutu hanya karena bingung menyusun pesan singkat untuk cinta pertamanya.
Tepat saat Ardi sedang mengetik ulang kalimat ketiga, sebuah notifikasi masuk di bagian atas layarnya.
Jantung Ardi mencelos.
Kirana: Belum tidur, Di? Jangan bilang kamu lagi bingung mau nge-chat aku apa dari tadi. Hahaha.
Ardi terbelalak.
Bagaimana perempuan itu bisa tahu?
Ia segera mengetik balasan.
Ardi: Kok tahu? Kamu pasang CCTV ya di kamarku?
Kirana: Gak perlu CCTV. Aku tahu kamu dari dulu. Kalau lagi bingung, polanya kelihatan.
Ardi tersenyum.
Sebuah pesan kembali masuk.
Kirana: Oh ya, makasih ya buat payung penyelamatnya tadi sore.
Kirana: Eh, maksudku makasih udah ngejar aku.
Ardi tersenyum semakin lebar.
Ardi: Sama-sama, Na. Aku cuma gak mau nyesel dua kali. Enam tahun itu lama banget buat nyimpen pertanyaan.
Beberapa saat kemudian, balasan Kirana muncul.
Kirana: Iya, lama banget ya...
Kirana: Banyak yang mau aku ceritain ke kamu tentang kota tempat aku tinggal dulu. Banyak hal yang berubah.
Ardi mengubah posisi duduknya menjadi bersandar di kepala ranjang.
Ia menimbang-nimbang sejenak sebelum memberanikan diri melangkah lebih jauh.
Ardi: Kalau gitu, gimana kalau kita lanjutin ceritanya akhir pekan ini?
Ardi: Ada pameran buku tua di dekat alun-alun hari Sabtu nanti. Mau pergi bareng?
Layar ponsel Ardi menunjukkan status typing... yang cukup lama.
Detik-detik itu membuat Ardi kembali menahan napas.
Sebuah balasan akhirnya muncul.
Kirana: Boleh. Kebetulan hari Sabtu aku kosong.
Kirana: Tapi ada satu syarat.
Ardi: Apa syaratnya?
Kirana: Jangan ajak aku ke bagian rak buku yang sepi.
Kirana: Aku gak tanggung jawab kalau memorinya keulang lagi. Hahaha.
Ardi tertawa lepas sendirian di kamarnya.
Ardi: Deal. Kita cari tempat yang paling ramai kalau begitu.
Malam itu, Ardi menutup ponselnya dengan senyum yang tidak luntur.
Hujan di luar masih deras.
Namun bagi Ardi, penantian enam tahun itu akhirnya memiliki arah.
Hari Sabtu tiba.
Pameran buku tua di dekat alun-alun dipadati pengunjung. Gerimis tipis kembali turun, membuat suasana sore terasa dingin.
Ardi berdiri di dekat pintu masuk sambil memegang sebuah payung hitam besar.
Tak lama, siluet yang ia tunggu muncul dari kejauhan.
Kirana berjalan tergesa-gesa dengan sweter rajut berwarna krem. Rambutnya dikuncir kuda, menyisakan beberapa helai yang membingkai wajah dewasanya.
“Maaf ya agak telat. Tadi macet banget,” ucap Kirana agak terengah-engah begitu sampai di bawah payung Ardi.
“Gak apa-apa, Na. Yuk masuk.”
Ardi menggeser posisi payungnya agar Kirana tidak kehujanan.
Mereka menghabiskan waktu hampir dua jam berkeliling.
Mengobrol tentang buku, pekerjaan, kehidupan di kota lain, hingga kelucuan masa lalu.
Tidak ada lagi kecanggungan remaja.
Tidak ada lagi kata-kata yang harus disembunyikan.
Semua mengalir begitu saja.
Dewasa dan menyenangkan.
Saat mereka keluar dari pameran, langit sudah gelap dan hujan turun semakin deras.
Jalanan di sekitar alun-alun mulai sepi karena orang-orang berteduh.
Ardi merangkul bahu Kirana agar perempuan itu tetap terlindungi di bawah payung mereka yang sempit.
Jarak mereka begitu dekat hingga Ardi bisa mencium aroma parfum vanila yang lembut.
Tidak ada yang mengatakan apa-apa.
Namun Kirana juga tidak menjauh.
Mereka berhenti di bawah naungan pohon besar di pinggir jalan, menunggu hujan sedikit mereda.
Keheningan yang intens mendadak menyergap.
Suara bising air hujan seolah meredam dunia di sekitar mereka.
Kirana mendongak.
Menatap Ardi.
Tatapannya tidak lagi bimbang seperti enam tahun lalu.
Ada kedewasaan dan ketegasan di sepasang mata jernih itu.
“Makasih ya buat hari ini, Di,” bisik Kirana.
Suaranya terdengar lembut di antara deru hujan.
Ardi menatapnya beberapa detik.
Lalu perlahan mengangkat tangannya dan menyentuh sisi wajah Kirana.
Kirana tidak menghindar.
Ia justru menatap Ardi seolah memberikan jawaban tanpa kata.
Ardi mendekat.
Kirana memejamkan mata.
Dan akhirnya, bibir mereka bertemu.
Ciuman itu tidak lagi seperti sesuatu yang harus dikejar karena takut kehilangan.
Tidak tergesa-gesa.
Tidak canggung.
Hanya sebuah kepastian yang telah menunggu selama enam tahun.
Kirana mencengkeram ujung jaket Ardi, sementara Ardi menariknya sedikit lebih dekat.
Dingin hujan yang menyentuh kulit mereka seakan tidak lagi berarti.
Ketika mereka berpisah, Ardi tidak langsung menjauh.
Ia menempelkan keningnya pada kening Kirana.
Keduanya mengatur napas sambil tersenyum kecil.
“Kali ini, jangan hilang lagi, ya,” bisik Ardi.
Kirana menggenggam tangan Ardi yang masih berada di sisi wajahnya.
Ia mengangguk mantap.
“Nggak akan, Di.”
Kirana tersenyum.
“Aku menetap di sini.”
Ardi membalas senyum itu.
Di luar naungan pohon, hujan masih turun.
Namun untuk pertama kalinya setelah enam tahun, mereka tidak perlu takut pada perpisahan.
Karena kali ini, mereka memilih untuk tetap tinggal.