Mentari mulai memancarkan cahayanya dan menembus kaca ruang kamar Dimas. Dia tampak terbangun dari tidurnya dan mulai merenggangkan otot - ototnya sambil berjalan menuju ke arah jendela kamarnya. Dimas mulai menatap ke arah luar jendela dan menikmati pemandangan di luar.
"hah... sungguh cantik tempat ini, aku tidak salah pilih membeli rumah ini". gumam Dimas sambil tersenyum tipis.
Dia mulai turun dari tangga dan berjalan ke luar untuk melihat sekitar rumah barunya. Saat dia menikmati suasana di sekitar rumahnya itu, tiba - tiba terdengar suara seseorang terjatuh. Dia mulai mencari sumber suara itu dan menemukannya. Ternyata dia seorang gadis desa yang jatuh dari sepeda. Dimas segera menghampiri dan menolongnya.
"Apa kamu baik - baik saja?". tanya Dimas sembari membantu gadis itu berdiri.
" saya... maaf... ". ucap gadis itu menundukan kepalanya dengan pipi yang begitu merona merah. Gadis itu tidak melanjutkan ucapannya Dan Gadis itu malah segera mengambil sepeda miliknya lalu pergi meninggalkan Dimas begitu saja.
" Siapa Gadis itu ya...? Dia begitu cantik dan manis".Gumam Dimas sambil menggelengkan kepalanya karena sempat terpesona oleh gadis itu.
Malam hari tiba, Dimas tampak bingung saat lampu di rumahnya tiba - tiba padam. Dia mencoba mencari warung di sekitar rumahnya untuk membeli lilin. Tapi dia tidak menemukannya, sampai pada akhirnya dia tidak sengaja bertemu lagi dengan gadis itu. Gadis itu tampak malu dan menghindari Dimas lagi. Tapi Dimas menghentikannya dan menghadang nya.
"Tunggu... ". ucap Dimas yang merentangkan kedua tangannya untuk menghadang gadis itu.
" Akang, kenapa?"
"Ehh... Akang hanya ingin tahu nama eneng".
" emm, saya... nama saya Sinta". ucap gadis itu yang lalu pergi begitu saja.
Hati Dimas tambah gemetar saat melihat gadis itu untuk kedua kalinya, sampai akhirnya dia memutuskan untuk mulai membuntuti gadis itu sampai di rumahnya.
"Akang kenapa ikuti eneng?".
" se... sebenarnya akang suka dengan eneng dari awal kita bertemu".
"Sungguh...?".
" iya... Akang sungguh Suka dengan neng Sinta".
"Kalau begitu, malam ini tinggal disini saja dengan eneng kang".
" Boleh kah?".
"Tentu saja".
Akhirnya Dimas memutuskan untuk bermalam di rumah Sinta. tapi saat pagi tiba dia teramat terkejut saat melihat sekelilingnya. Di mana dia terbangun di tengah makam.
"Astaga... semalam saya... ".
" eh... dek kenapa tidur disini?". tanya salah seorang pejalan kaki.
"Emm semalam seingat saya, saya menginap di rumah Sinta, tapi kenapa sekarang ada disini".
" eh.. neng Sinta? Coba adek tengok batu nisan tuh. tulisan itu nama Sinta kan?".
Dimas yang terkejut hanya bisa diam membisu, ditambah lagi ternyata Sinta sudah lama meninggal dan sering meneror warga baru di desanya dengan wujudnya yang cantik.