Berdiri si Bop terdiam sendiri di pojokan kamar. Tersudut buatnya gusar, meringis lutut bergetar. Dijebak situasi saling cela persepsi sepasang partner perfeksionis, sementara si Bop menikmati kesendirian.
"Ini tentang apa?". (Tanya si Bop kebingungan)
Sinis alien mendelik ucapkan sebuah guyonan tentang "jelang masa tenggang manusia", katanya. Si Bop dibawa berbasa-basi mencari alur setengah solusi. Seketika mereka hentak kamar sempit si Bop menjadi berdebu penuh benalu. Si Bop sesak. oksigennya membuyar serentak.
"Ya ampun!. Manusia macam apa yang tahan bersemayam ditempat sumpek seperti ini?". (Sambil menutup mulut dan hidungnya, si Bop sindir dirinya sendiri)
Sang astronot dan alien tampak berdebat meributkan sesuatu. Si Bop intip mereka menari entah berkelahi. Tak diduga, si Bop ikut dilibatkan dalam keributan itu. Silat lidah adu argumen, lantas dicekik si Bop dengan genggamnya berlendir. Padahal sudah jujur si Bop jelaskan, Dia hanyalah manusia. bukan menteri antariksa, apalagi pemerhati alam semesta. Tapi justru dituduhnya Bop si malapetaka. Spesies penyebar duka lewat kekejaman era informatika. Umatnya ciptakan bumi panas. masternya pengadu domba mesin dan tekhnologi. Merekalah manusia penghapus hijau. Seolah rekan karbondioksida, mereka hancurkan yang namanya udara. Ramai-ramai berseragam alunkan polusi.
"Global memanas, bergumamlah para pemalas!". (Kritikan keras si alien menampar kencang pipi si Bop)
"Hey, hey. . , janganlah salam paham dahulu!. Aku tak selamanya benar. Tapi bukan berarti hanya Aku yang harus disudutkan!". (Terdengar si Bop membantah, coba meluruskan permasalahan)
"Tundukkan kepala!. Kau memihak sisi yang Keliru!". (Kata si Alien yang merasa benar)
Si alien peringatkan si Bop tuk lekas menangis. Remas jemarinya singkirkan ke dasar bumi. Sempat terlalu lama diam, tiba-tiba si Astronot usang secara spontan ikut sinis tentang si Bop. Dianggapnya si Bop sang pengkhianat. Dicacinya Dia robot berkarat.
"Sudah dari dulu Aku tak suka Kau dan kaummu!. Itulah sebabnya kuputuskan tuk pisahkan diri dari komunitas". (Agak setengah mabuk, si astronot sampaikan isi hati terpendamnya kepada si Bop)
Menit demi menit dilewatinya begitu saja sehingga tiga serangkai tak sadar tengah dibingungkan realita. Terhenti nafas si Bop sesak dibuatnya. Belum lagi sempat si Bop putuskan harus ikut siapa.
"Arrggh, sial!. Aku benci perselisihan!". (Menggerutu si Bop. Rambutnya diacak-acak)
Tidak hanya mereka bertiga, pihak-pihak lain terpanggil hatinya untuk ikut campur perkeruh keributan tersebut. Gunung bersajak, lautan lantunkan syair. Daratan berpuisi lukai diri.
"Hancur. . .hancur. . .hancur!. Binasalah kami!". (Sajak sang gunung gambarkan kondisi ditempat ia berpijak)
Si Bop?. lantas bagaimana dengan si Bop?. masih saja Dia cumbu pojokan kamar. Berganti posisi jongkokkan diri. garuk-garuk kepala dan kembali berimaji. Entah pada siapa si Bop harus berpihak. Dimintanya Dia ikuti jejak. Terpaksa lelah pergi berkelana menuju destinasi yang bukan rencananya. Dibawanya si Bop terpukau lintas imaji. Menyelinap diantara pusaran bebatuan memutar tak berhenti.
"Dimana ini?. Jangan katakan bahwa ini adalah dunia fantasiku!. Ini terlalu indah!. Seingatku, Dunia fantasiku tidaklah seindah ini". (Kedua mata si Bop melotot tak berkedip. Pandangannya saat itu dibuat terpesona oleh indahnya dunia si alien)
Situasinya tertata rapih hingga membuat si Bop gigit jemari. Dia bahkan tak sangka nyatanya alien pun tak membual tentang negerinya. Bersih, asih, dihirupnya udara. Diam ternganga pelototi nuansa lalu bersua dengan mereka yang ramahnya melebihi manusia. Tak si Bop temukan hijau disana. Tak si Bop rasakan air bahkan tak mengalir. Tapi nyatanya segar!.
"Oh, terpujilah negerimu, kawan!". (Si Bop kumpulkan seluruh udara yang bisa digenggamnya. Lalu dihirupnya dalam-dalam udara itu)
Seketika si Bop lupa akan gusar. Si astronot itu benar adanya!. Katanya, dibumi takkan lagi temukan bahagia. Mungkin maksudnya disinilah tempatnya suka. Planet lama yang dicibir sudah tak bernyawa. Logis saja nampaknya bila alien-alien mulai kembali berseri. Mereka pintar tanpa tekhnologi. Mereka hanya bersabar ratusan juta tahun pelajari hidup penduduk bumi. Si Bop iri, si Bop gundah, si Bop sedih?. Takutkah si Bop?.
"Bukannya takut!. Aku mengkhawatirkan sesuatu. Entah khawatir tentang apa!". (Si Bop mendadak lemas. Dia lantas duduk untuk sejenak)
Nyatanya, nanti alien-alien itu yang akan menghuni bumi. Mereka paham gaya hidup manusia tak terorganisir. Mereka paham hati manusia lemah akan souvenir. Mereka paham kuat manusia saat mencibir.
"Nyatanya kamilah si lemah dimata kalian!". (Si Bop berteriak. Teriakannya membelah galaksi)
Dirangkulnya si Bop oleh si alien yang sudah tampak tenang jiwanya. Bercerita si alien itu tentang rencana kaumnya. Katanya, takkan bisa lari saat mereka pijakkan kaki di bumi nanti. Takkan bisa lagi manjakan diri saat mereka justru tak lagi berkedip. Dimintanya si Bop tuk lekas bersiap untuk takut. Tidak mau rugi sendiri, Si Bop tanyakan juga soal rasa takut itu kepada si astronot usang. Tapi respon si astronot datar-datar saja waktu itu. Dia hanya gelengkan kepalanya. Sambil tersenyum sedikit, si astronot jabat erat kedua tangan si Bop yang sudah membeku sedari tadi.
"Sudah lama Aku bukan lagi penduduk bumi!. Kau sendirian, Bung!". (Bibirnya bergetar tahan tangisan. Si astronot usang berusaha menjawab semampunya)