Derasnya rintik hujan masih sangat terdengar di luar. Aku duduk menatap kaca yang berembun. Menikmati hujan turun yang akan lama redanya. "Tuhan, aku sangat merindukannya. " Hari demi hari ku lewati tanpa mu. Tidak ada lagi bayanganmu di setiap hari ku. Ntah, apa yang membuat mu pergi. Tanpa ada kata kau hilang seperi di telan bumi. Aku berusaha mencarimu kemana-mana. Aku menelpon mu setiap saat. Aku selalu menunggu kabar dari mu. Namun, semuanya sia-sia tak pernah ada balasan dari mu.
Berkali-kali aku mencoba melupakan mu. Tapi hatiku selalu ingin menunggu mu untuk datang kembali. Memulai kehidupan dan menua bersama mu. Alan Wandika nama pria yang selalu ada di setiap doaku.
"Hay... Sa!! Uda lama nunggu ya?? "
Tiba-tiba saja suara wanita mengagetkan ku dan duduk di depan ku. Sahabat ku Adinda.
"Hay... Din."(Sambil menikamati minuman kesukaanku).
" Oh iya, ini minuman buat mu. "
"Makasih.. tau aja kalo aku uda haus. "
"Iya, sama-sama. Tumben banget ngajak ketemuan di sini?? " (Dengan wajah penasaran).
"Sebenarnya ada hal penting yang mau aku sampaikan. Semalam Al nelpon aku. Katanya dia mau menemui mu di kafe tempat biasa jam 8 malam nanti. "
"Kenapa dia gak langsung hubungi aku, din?? (Dengan wajah yang makin penasaran).
" Ntah lah, dia bilang dia bakalan menemui mu di sana. "
"Kenapa dia datang lagi di saat aku berusaha melupakannya?? Aku harus bagaimana?? "
"Temuilah dia Sa, mungkin ada hal penting yang ingin dia katakan. Ini kesempatan buat mu untuk bertanya apa yang ingin kau tanyak. Aku yakin banyak pertanyaan yg ingin kau tau jawabannya. Sudah berbulan-bulan dia pergi tanpa kabar. Setidaknya, kau bisa tau hubungan mu baik atau berakhir. Ku harap kau memilih keputusan yang tepat."
"Makasih ya, Din."
"Iya sama-sama Lisa. Aku pergi dulu ya msih ada urusan. " (Sambil berdiri dan mulai melangkah keluar kafe).
"Oke, hati-hati ya!! "
Aku hanya terdiam menatap kaca yang berembun . Yang hujannya mulai reda. Aku beranjak pergi meninggalkan kafe. Hari semakin malam sebentar lagi jam menunjukkan pukul 20:00 WIB.
Aku mulai gugup dan gelisah. Keadaan hati ku menjadi ragu.
Di depan kafe aku sudah melihatnya duduk dari kejauhan. Aku mulai melangkah masuk menuju tempat yang sudah dia siapkan.
"Hay... " (Dengan suara lembut dan tampak gelisah).
"Hay... silahkan duduk. Aku juga uda pesan makanan kesukaan mu. " (jawabnya dengan lembut).
Aku hanya tersenyum tipis saat dia mengatakan itu. Rasanya hati ku ingin meronta-ronta bahagia atau kecewa.
"Sebenarnya ada yang ingin aku beritahu. Aku harap kamu datang. " (Sambil mengeluarkan sebuah undangan yang akan dia berikan pada ku).
(Aku membaca namanya) "Ini undangan pernikahan mu?? "
"Apa semua ini Al?? Apa salah ku?? kemana diri mu selama ini?? apa yang membuat mu berubah?? kenapa kau tega melakukan inj?? kau bilang kau sangat mencintaiku?? Tapi, hari ini kau hancurkan hati ku!! (Air mata yang sudah tidak bisa aku tahan lagi mengalir begitu saja).
"Maaf kan aku Lisa. Aku pernah sangat mencintai mu. Bertahun-tahun kita bersama bukan mudah melakukan ini. Tapi takdir kita berkata lain. Aku hanyalah tempat persinggahan di hati mu.
Hanya kata maaf yang bisa aku katakan. Maaf untuk semua ini . "
"Kenapa Al?? Kenapa Al?? "
" Maaf Sa" (Jawabnya dengan lembut).
"Makasih buat semuanya Al. Makasih kau pernah ada di kehidupan ku. Semoga aku bisa melupakan mu dengan mudah. Dan, kau hidup bahagia dengan pilihan mu. Aku mendoakan yang terbaik untuk mu. Maaf aku harus pergi. "
Aku pergi begitu saja tanpa memperdulikannya. Hatiku benar-benar hancur sekarang. Rasanya sakit sekali melihat kenyataan yang tak pernah aku bayangkan. Bertahun-tahun kita bersama menjalani hubungan ini. Sekarang aku harus benar-benar merelakan mu. Melihat mu bahagia bersama wanita yang kau pilih.
Menghapus nama mu di hatiku. Membuang kenangan yang begitu indah.Tapi, melupakanmu tak pernah semudah itu.Kupikir kita akan kembali bersama. Namun, aku keliru ternyata takdir kita tak bersama. Kau hanya tamu di hidup ku. Semoga kau bahagia dengannya. Selamat menempuh hidup baru kekasih masa lalu ku.