Khey, cowok ganteng dan populer disekolah. Tidak banyak yang tahu latar belakang dirinya. Teman-temannya hanya tahu dia anak orang kaya yang terkenal.
Rahasia? Dia hanya menyembunyikan satu yang rahasia. Identitas dirinya yang sebenarnya. Seorang makhluk yang konon bisa hidup abadi. Menghisap darah dengan taring panjangnya. Ya, dia seorang vampir.
🦇🦇🦇
Pagi, disekolah.
"Irene!" Sapa Khey, pada gadis cantik yang masih berdiri didepan kelas. Irene menoleh, tersenyum ceria sambil melambaikan tangan pada pacarnya.
Bulan ini merupakan bulan ke dua mereka berpacaran. Irene juga tidak mengetahui identitas Khey sebenarnya.
Khey tidak memberitahunya, dia ingin rahasia ini benar-benar aman.
Siang ini berjalan biasa saja. Tidak ada yang spesial di sekolah bagi Irene. Dia pulang kerumah dengan berjalan kaki.
Khey tidak mengantarnya, dia bilang ada urusan. Irene hanya memakluminya karena Khey adalah anak seorang direktur.
Langit sore tiba-tiba mendung. Rintik hujan gerimis mulai turun. Irene segera berteduh di pinggir rumah warga.
"Aduh, Mama nggak dirumah ya? Gimana nih pulangnya." Keluhnya sambil mengusap-usap kedua lengannya yang merinding kedinginan.
Irene melihat sekitar, hujan belum semakin deras. Ia melangkahkan kakinya, berjalan cepat agar tidak basah kuyup.
Jalanan sepi, tak ada orang yang lewat. Namun, tiba-tiba seseorang dengan cepat menculiknya. Irene tidak sempat berteriak.
🦇🦇🦇
"K-kamu siapa?!" Tanya Irene begitu sampai di tempat sepi yang tidak dia kenali.
"Ssssttt, ini aku..." Jawab laki-laki itu sambil membuka maskernya.
"K-khey?!" Irene terbelalak. Menelan ludah, ketakutan.
Khey menyeringai, gigi taring panjangnya sangat menyeramkan. Dia memegangi kedua tangan Irene.
"Lepasin aku!" Irene meronta-ronta.
"Diamlah... Aku hanya ingin bersamamu." Kata Khey dengan lembut.
Hening.
Irene menatap Khey, wajah tetap tampan. Tapi Irene merasa ketakutan.
Khey perlahan melepaskan tangan Irene. Dia tersenyum simpul, membuat Irene sedikit tenang.
"Khey, gimana kamu bisa bawa aku kesini?" Tanya Irene bingung.
"Nanti aku jawab. Tutup mata kamu sebentar dong... Aku punya kejutan buat kamu." Ujar Khey.
Irene menutup matanya. Awalnya ragu, tapi dia mempercayai pacarnya itu.
🦇🦇🦇
Irene membuka matanya. Dia terbangun diatas ranjang dipagi hari.
"Apakah tadi aku mimpi?" Tanya Irene dalam pikirannya.
Sinar matahari masuk melalui jendela besar disamping ranjangnya. Irene menatap sekeliling.
Hening. Ini bukan kamarnya. Lampu menyala redup, dengan banyak lilin ditaruh di beberapa sudut kamar. Dalam pikirannya ia bertanya lagi.
"Ini dimana?"
'Kreet...' Suara decit pintu dibuka.
Seseorang masuk membawa nampan berisi makanan. Rupanya Khey, dia tersenyum simpul pada Irene.
"Aku bawa sarapan." Katanya.
"M-makasih." Ucap Irene sedikit gugup.
Irene memakan sarapannya. Tidak curiga sama sekali. Karena mana mungkin Khey akan mencelakai pacarnya sendiri.
"Khey, ini rumah kamu?" Tanya Irene.
Khey mengangguk, "Iya."
Tak lama bubur sarapannya dalam mangkuk itu tandas.
"Ngomong-ngomong kenapa aku bisa ada di rumah kamu?" Tanya Irene lagi. Khey tersenyum simpul.
"Kamu kemarin pingsan dijalan karena demam." Jawab Khey singkat.
"Oh, iya kemarin aku kehujanan." Balas Irene.
🦇🦇🦇
Keesokan harinya.
Irene masih di rumah Khey. Dia memintanya untuk menginap sampai benar-benar membaik.
Irene sampai berpikir bahwa pacarnya itu lebih protektif. Bahkan Khey melarangnya sekolah dulu, dan dia juga izin tidak masuk sekolah.
Irene pergi diam-diam ke dapur. Ia tidak ingin merepotkan Khey. Perlahan dia memotong wortel untuk sup.
"Irene?" Tiba-tiba Khey muncul.
"Ouch!" Irene kaget, sehingga tidak sengaja tangannya tergores pisau.
Khey tersentak. Hidungnya dengan jelas mencium bau darah Irene. Haus, tenggorokannya terasa kering. Sisi vampirnya bergejolak.
🦇🦇🦇
Tanpa dia sadari ia melangkah mendekati Irene. Mencengkeram tangan Irene, dan menjilat darah yang mengalir dari luka tersebut.
"Khey, ini cuman luka kecil doang kok. Nggak papa." Ujar Irene. Khey mendengarkan, tapi sisi vampirnya terus bergejolak.
Khey menyeringai, memperlihatkan taringnya.
"Irene, aku sungguh mencintaimu..." Kata Khey. Irene sempat bingung dengan perkataan Khey yang terdengar sangat puitis.
"Irene... Kamu cinta 'kan sama aku?" Tanya Khey.
"Tentu aja, kita 'kan pacaran." Jawab Irene.
Khey menutup mulut dan hidungnya dengan tangan. Menahan dirinya yang sedang haus darah.
"Khey, kamu kenapa? Kamu sakit?" Tanya Irene yang mulai khawatir.
Khey dengan kuat memegangi kedua bahunya. Membuatnya terpojok dan panik.
"Irene..." Mulut Khey sangat dekat dengan lehernya. Hingga dapat merasakan napasnya yang dingin.
Irene semakin panik, tapi dia tidak bisa kemana-mana. Lalu, rasa sakit langsung datang menusuk dari lehernya.
🦇🦇🦇
Tidak bisa berteriak meminta tolong. Tak berdaya. Irene hanya melirik Khey. Dia sepertinya menikmati darah segar langsung dari nadinya sendiri.
Dan, saat itu Irene mengetahui bahwa pacarnya selama ini adalah vampir.
Irene pun tersenyum simpul. Sebelum dia mulai kehilangan kesadarannya.
Khey melepaskan gigitannya. Menatap wajah Irene yang cantik, lalu memeluknya. Dia tidak dapat mendengarnya detak jantung Irene.
"Selamat datang Irene. Biarkan cinta ini berlanjut di dunia kita yang abadi..."
--♡×THE END×♡--