Nampak seorang wanita yang tengah terduduk di salah satu kursi panjang. Ia telah duduk di sana sekitar setengah jam. Mencari kesana kemari berharap segera menemukan orang yang tengah ia tunggu.
"Huft..." Sudah beberapa kali ia membuang napas. Orang yang dicarinya tak kunjung ketemu. Ia tatap ponsel miliknya. Membuka salah satu obrolannya dengan orang yang akan bertemu dengannya.
Namun sebuah pelukan dapat ia rasakan. Seseorang memeluk lehernya dan menempelkan kepalanya dengan kepala wanita bernama Jung Heejin itu.
"Lama ya?" Tanya orang itu. Suara yang sangat ia nantikan terdengar di indera pendengarannya. Heejin tetap diam tak menggubris pertanyaan Pria itu. Lee Taeyong, seseorang yang sejak tadi ia tunggu.
"Ututu.. ngambek nih." Ucap Taeyong sambil mencolek dagu milik Heejin. Pria bersurai hiram kebiruan itu duduk di sebelah Heejin.
"Jadi jalan nggak?" Tanya Taeyong tanpa memudarkan senyumannya. Wanita bersurai hitam itu menoleh ke arah Pria yang merupakan kekasihnya. Heejin menatap Pria disampingnya dan tersenyum ke arahnya. Heejin mengangguk.
"Ayo kalo gitu. Tapi jangan cemberut lagi, oke?" Kata Taeyong sambil beranjak dari duduknya dan mengulurkan tangan pada wanita itu. Heejin beranjak dari kursi dan menerima uluran tangan Taeyong.
Keduanya berjalan beriringan sambil menikmati pemandangan di depan mereka. Terpampang sebuah sungai yang nampak indah dengan adanya cahaya warna-warni yang menghiasi. Mereka berada di sekitar Sungai Han.
"Cantik ya." Ucap Taeyong. Heejin membalas ucapan Taeyong dengan deheman.
"Tapi maksudku bukan sungainya. Kamu yang cantik." Ucap Taeyong yang membuat Wanita disampingnya memalingkan wajahnya karena malu. Sementara Taeyong, ia terkekeh melihat tingkah kekasihnya.
Manik hitam Heejin menangkap paper bag yang dibawa oleh Taeyong. Namun ia tidak memikirkan apa yang ada di dalamnya dan melanjutkan perjalanan mereka.
Pandangan mereka terfokus pada pemandangan sungai Han. "Kau tahu? Setiap tetesan air disana seperti potongan-potongan memori hidup seseorang yang tidak dapat dihitung jumlahnya."
Heejin yang mendengar hal itu mengalihkan atensinya ke arah Pria disampingnya. "Kau benar." Kata Heejin menanggapi perkataan Taeyong.
"Dan juga cahaya warna-warni yang menghiasi sungai, membuat pemandangannya semakin indah. Meski tanpa adanya cahaya yang menghiasi itu pun, pemandangan sungainya juga msih bisa dinikmati." Kata Taeyong lagi.
Heejin merasa bingung dengan Pria disampingnya. Tidak biasanya kekasihnya berkata demikian. "Lalu?" Tanya Heejin.
Langkah Taeyong berhenti lalu berdiri menghadap Wanita disampingnya. Begitu juga dengan Heejin. "Ini." Ucap Taeyong sambil memberikan paper bag berwarna cokelat yang daritadi ia bawa.
"Apa ini?" Heejin membuka paper bag itu. Betapa terkejutnya Heejin saat mengetahui apa isi dari paper bag tersebut. Air mata menetes dari mata indah Heejin.
"Kok nangis sih?" Taeyong menyeka air mata yang telah terjun melewati pipi putih milik Heejin.
Heejin berusaha menahan tangisnya. Sebuah cincin yang telah ditata sedemikian rupa agar nampak indah. Itu yang Heejin lihat. Ia menatap Pria di depannya dengan tatapan bahagia.
"Membuat banyak kenangan indah, juga menjadi pelengkap masing-masing. Wil you marry me?" Ucap Taeyong yang diangguki oleh Heejin. Keduanya tersenyum.
Heejin segera memeluk tubuh Taeyong dan menenggelamkan wajahnya di dada bidang Taeyong. Pria di depannya membalas pelukan dari sang Kekasih. "I love you." Ucap Pria itu. "I love you too." Balas Heejin. Mereka melepas pelukannya.
Tatapan mereka bertemu. Taeyong mendekatkan wajahnya pada wajah Heejin. Kedua mata Taeyong tertutup dan diikuti oleh Heejin. Bibir mereka saling menempel. Taeyong melumat bibir Heejin bergantian. Sepasang kekasih itu melepas ciuman mereka lalu tersenyum.
Malam ini adalah malam yang spesial bagi sepasang kekasih tersebut. Mereka menghabiskan waktu dengan bahagia. Melanjutkan hubungan ke jenjang yang lebih serius, membuat jutaan atau bahkan milyaran kenangan bersama, juga menjadi pelengkap satu sama lain. Itu adalah hal yang akan mereka lakukan di masa yang akan datang.