Di sebuah penjara, dua orang narapidana yang kebetulan di tempatkan dalam sebuah sel sedang bercakap-cakap.
Napi yang satunya, Ajib Bin Atang, merupakan tahanan yang telah mendekam dalam ruangan itu selama 15 tahun, sementara yang satunya, Jupri, merupakan narapidana baru.
Tentu saja Ajib sangat penasaran dengan kejahatan yang dilakukan oleh Jupri karena tahanan itu merupakan tahanan khusus untuk narapidana yang mendapatkan hukuman penjara seumur hidup.
Maka, Ajib mulai menanyai Jupri dengan gaya yang khas sebagai penguasa ruangan, “Heh, ente siapa namanya?”.
Jupri sebetulnya merasa takut dengan Ajib karena perawakan Ajib lebih mirip siluman dibandingkan manusia.
Dengan agak gementar Jupri menjawab, “ Nama saya Jupri pak…” Jawab Jupri dengan perasaan yang tidak nyaman karena ia membayangkan hal yang tidak-tidak seperti yang sering ia lihat di film.
“Kenalin, nama gue Ajib. Gue udah nongkrong sendirian di sini 15 tahun. Akhirnya ada juga yang di tahan di sini. Mulai sekarang kita satu ruangan. Jangan sungkan-sungkan.” Kata Ajib yang mulai sedikit ramah karenaia melihat Jupri takut padanya.
“Terimakasih pak” Balas Jupri yang sedikit agak lega.
“Kalau boleh tahu, kenapa ente masuk penjara sini? Soalnya penjara sini bukan untuk sembarang orang. Bukannya nyombong ya, gini-gini gue teroris. Dulu tapi. Gue belum sempat ngledakin apa-apa, tapi gue udah bikin banyak bom yang dipakai buat ngledakin di banyak tempat. Nah, mestinya ente juga teroris kan? Ente jihat dibawah bendera mana?”
Tanya Ajib bersemangat karena selama ini ia tidak pernah ngobrol dengan siapapun.
“Ee…saya bukan teroris pak…” Jawab Jupri.
“Ah, nggak usah merendah lah, nggak mungkin bukan teroris masuk sini. Atau jangan-jangan ente psikopat? Atau pembunuh?” tanya Ajib penasaran.
“Bukan pak, sumpah, saya ini cuma maling motor…” Jawab Jupri jujur.
“Sudahlah bung, ente ini nggak usah malu-malu. Kita bakalan mendekam di sini selamanya, jadi cerita-cerita aja biar nggak bosen nunggu mati” Balas Ajib.
“Bener pak, saya di sini karena awalnya mencuri motor…” Jawab Jupri.
“Kok bisa sih, lalu bagaimana? Sidangnya salah atau gimana?”
“Jadi begini ceritanya, Jupri mulai bercerita, “Sebenarnya saya tidak punya niatan sama sekali untuk mencuri. Saya belum pernah melakukannya sebelumnya. Tapi apa boleh buat, saya kehilangan pekerjaan karena PHK, padahal saya sudah terlanjur kredit rumah dan harus pula menckupi kebutuhan keluarga.” Jupri menghela nafas sambil mengingat-ingat kejadian apes yang menimpanya.
“Siang itu saya lewat di depan pertokoan, niatnya mencari kerja. Tapi kebetulan pada waktu saya jalan kaki, saya melihat ada sepeda motor yang kuncinya masih menggantung diparkir di tepi jalan. Tidak ada penunggu parkir dan tidak ada orang lain selain saya yang ada di pinggir jalan itu. Ya sudah, tiba-tiba terbersit niat mencuri. Saya curi motor itu.” Ajib mendengarkan cerita Jupri sambil manggut-manggut.
Jupri melanjutkan, “Bagaimanapun juga saya sangat panic dan takut, saya bawa motor itu kencang-kencang. Sialnya di tengah jalan saya menabrak pengendara motor lain yang menyeberang tiba-tiba. Motor yang saya tabrak tidak langsung jatuh tapi kehilangan kendali. Yang paling menegangkan, dari arah berlawanan ada sebuah truk tanki solar yang ngebut. Bapak tahu apa yang terjadi kemudian?”
“Apakah kemudian truk tanki itu melindas motor yang kamu tabrak hingga pengemudianya mati?” tanya Ajib.
“Tidak demikian pak, truk itu banting setir, pengendar motor selamat meski akhirnya jatuh menabrak trotoar.” Jawab Jupri.
“Terus kamu gimana?” Tanya Ajib
“Saya jatuh di tempat dan hanya bisa bengong lihat kejadian itu.” Jawab Jupri
“Kamu nggak kabur bawa motor?” Tanya Ajib.
“Nggak, motornya rusak dan saya di tolong orang di sekitar sana” Jawab Jupri.
“Lalu apa yang membuat kamu dipenjara di sini? Tanya Ajib.
“Truk yang banting setir tersebut kehilangan kendali dan menabrak restoran lalu meledak. Korban meninggal 30 orang, luka-luka 65 orang, rumah terbakar di sebelah restoran ada 3 unit. Lalu ada lagi 15 mobil parkir yang terbakar dan 25 sepeda motor ikut lenyap kena ledakan. Dan akhirnya saya di sini.” Jawab Jupri polos.