Hari baru di mulai. Matahari menyapa dari ufuk timur. Kota mulai diramaikan dengan hiruk-pikuk kendaraan.
Namaku Rain, siswa SMA biasa. Tidak populer, dan hanya dari keluarga biasa-biasa saja.
Aku menaiki sepedaku, menyelip diantara orang-orang yang penuh kesibukan pagi. Berangkat menuju kesekolah sebelum bel masuk berbunyi.
"Ciittt!" Aku mengerem mendadak. Seekor kucing hampir ku tabrak, dia berlari ketakutan. Aku memperhatikannya berlari, khawatir kucing itu kenapa-napa.
Seorang gadis menangkap kucing itu. Mengendongnya dengan lembut. Aku tidak kenal dia, tapi dia nampak seumuran dengan ku. Wajahnya cantik, senyumnya merekah mengelus kucing itu dengan tangannya.
Aku memalingkan pandanganku, pipiku terasa panas. Jantung ku berdegup semakin kencang. Sepertinya aku menyukai gadis itu. Aku mengurungkan niat ku untuk berkenalan, dan aku melanjutkan perjalanan ku ke sekolah.
Aku duduk dikelas, menanti pelajaran pagi dimulai. Guru datang, namun dia bersama seseorang. Gadis tadi pagi, aku terkejut melihatnya. Aku memalingkan pandangannya ku kembali. Jantung ku kembali berdegup kencang.
"Pagi anak-anak. Hari ini ada teman baru di kelas kita. Silahkan perkenalkan diri kamu." Jelas guru didepan.
Gadis itu memperkenalkan dirinya. Aku mengetahui namanya, Ara. Dia murid pindahan dari sekolah lain.
=–♡♡->
Jam istirahat.
Seperti yang lain aku pergi ke kantin. Aku melangkahkan kakiku keluar dari kelas. Di ambang pintu aku tiba-tiba bertabrakan dengan Ara.
Rasanya seperti tersetrum aliran listrik. Aku sedikit salah tingkah. Tapi aku masih bisa mengendalikan diriku.
"Maaf." Kataku, kemudian segera melangkah lagi.
Seminggu kemudian.
Aku masih jarang berbicara dengan Ara. Aku selalu gugup setiap bertemu dengannya.
Lalu aku menceritakan hal ini pada sahabat ku, David.
"Gue punya nomernya Ara, gue kasih nih." Katanya sambil memperlihatkan nomor Ara di ponselnya.
Aku memasukkan nomor Ara dalam ponsel ku. Dengan sedikit ragu aku memulai chat di nomor Ara itu.
"Halo, aku Rain. Disimpan ya, ini nomor ku." Kataku dalam chat, singkat.
Beberapa hari berlalu. Aku cukup sering berbalas chat dengan Ara. Aku belum memberi tahu perasaanku padanya, aku masih ragu. Kami hanya sering membahas tentang tugas sekolah.
Hingga suatu hari.
Aku sedikit yakin dengan perasaan ku. Tapi aku belum punya keberanian. Aku bertanya kepada David lagi. Dia sangat mengetahui tentang hal percintaan.
"Dav, gue masih nggak berani." Keluh ku. David memberiku saran.
"Mending lu cari waktu yang pas. Misalnya pulang sekolah. Tapi lu yakin nggak ni?" Ujarnya.
"Gue pikir-pikir dulu deh." Kataku sedikit putus asa. Namun, perasaan ini semakin ingin ku ungkapkan. Aku berpikir sejenak dalam angan ku.
Setiap hari aku bertemu dengannya. Kami melewati jalan yang sama saat berangkat dan pulang sekolah.
Aku selalu melihatnya menunggu di halte bus. Semakin hari, semakin sering aku bertemu dengannya, dan rasa ini pun juga begitu. Semakin dalam dan sulit dilupakan. Dan aku sudah memutuskan.
=–♡♡->
Sore itu, saat pulang sekolah.
Aku berjalan menghampiri Ara. Aku memberanikan diri mengajaknya ke taman.
"Ara, k-kamu mau nggak ketaman sebentar? Aku mau ngomong sesuatu sama kamu." Kataku dengan sedikit gugup.
"Oke, aku juga masih nungguin bus kok." Jawabnya dengan senyum manisnya.
Di taman.
Aku dan Ara saling berhadapan. Aku sedikit menunduk, malu.
"Jadi, kamu mau ngomong apa?" Tanyanya penasaran.
Tiba-tiba bibirku terasa kaku. Aku menghela nafas. Mencoba menghilangkan rasa gugup ku.
Aku akhirnya menyatakan perasaan ku.
"Aku... Suka sama kamu. Aku mau jadi pacar kamu." Kata ku. Aku kesulitan mencari kosakata, seperti aku menjadi bodoh seketika.
Tapi, Ara tampak diam saja. Wajahnya ragu dan gugup. Seolah dia tidak ingin menerima ku tapi merasa tidak enak.
Aku memaksakan mulut ku tersenyum sambil berkata,
"Nggak papa, mungkin lain kali aja." Aku tetap tersenyum, dan berbalik pergi mengambil sepeda ku.
Aku menaiki sepedaku.
Hampir sampai di halte bus. Aku mendengar notifikasi chat dari ponsel di sakuku.
Aku berhenti. Membuka ponsel dengan rasa sedikit penasaran. Ara, dia mengatakan sesuatu di chat. Aku membacanya.
"Maaf, aku tadi gugup dan aku kayaknya belum siap berpacaran:)." Katanya dalam chat tersebut.
Perasaan ku hancur, meskipun perkataannya halus. Tapi aku sudah mengatakan "nggak papa" tadi. Jadi, aku harus tetap tersenyum. Dan aku masih bisa melihatnya setiap hari saat berangkat dan pulang sekolah.
=–♡♡-> THE END