Buah berry yang beku di musim dingin, selalu bisa mencair di musim panas berikutnya. Sama halnya dengan manusia. Hati yang dingin bisa meleleh dan menjadi hangat kembali. Tapi, bisa juga sebaliknya.
Hati yang hangat akan berubah dingin sewaktu - waktu.
Biar kuceritakan sebuah kisah. Tidak perlu logika untuk dipahami. Kalian hanya perlu memiliki perasaan untuk menjabarkan kisahnya.
[Tears]
Brugh!
"Kamu penyakitan!! Jauh - jauh sana!"
Sekali lagi, mereka mendorongku.
"Anak sial! Awas ya kalau dekat - dekat kami!"
Sekali lagi, mereka menghinaku.
"Eh, apaan sih main duduk sembarangan aja! Cari tempat duduk lain sana!! Enak aja mau duduk di sini!"
Tanpa aku berbuat salah pun, aku sudah dikucilkan. Oleh mereka. Manusia - manusia kejam.
….
"Hei, hei! Katanya ada anak baru loh! Tapi menurut informasi guru, anak baru itu ada pindah karena diskors sekolah lamanya. Katanya percobaan pembunuhan temannya gitu…"
"Ih, serem! Kok bisa masih dibiarin aja. Harusnya dipenjara aja tuh anak. Takut ah jadi korbannya!".
Pandanganku berbelok, ada sekelompok anak perempuan dan laki - laki yang berjarak beberapa meter dariku. Seperti yang kalian dengar, mereka tengah membicarakanku.
"Eh, dia ngelirik ke sini! Bubar..bubar!", salah satu gadis melerai kerumunan itu, sambil masing - masing mereka menatapku jijik.
Aku berusaha mengendalikan pikiran dan batinku, agar kekuatanku tidak terlepas begitu saja. Tapi mataku masih panas, hampir mengeluarkan air mata.
Jujur, aku merasa tidak bahagia dengan diriku yang aneh ini. Aku punya sesuatu yang tidak dimiliki manusia, karena aku logisnya bukan manusia.
Aku adalah seorang Esmon. Salah satu jenis penyihir Es dari daratan Antartika yang hidup bersembunyi sejak beberapa abad yang lalu.
Aku meninggalkan Antartika bersama Ayahku saat aku berumur 7 tahun. Dan kini setelah remaja, aku hidup sendiri di kota yang tidak kukenal karena sihirku yang menimbulkan kecelakaan pada teman - teman jahatku dulu.
"Selamat pagi, semuanya".
"Pagi, bu!"
Pelajaran pagi ini sudah dimulai. Aku harus fokus untuk menahan emosi ini. Dan juga fokus belajar.
"Eh, ini salah satu anak baru yang dimaksud ya?", guru itu menunjukku dan semua hanya menatapku dengan malas.
"Iya, Bu", aku berdiri untuk memperkenalkan diriku tanpa disuruh.
"Namaku Riine Mon Arkitck. Panggil saja Ryn", ucapku. Kelas hening sesaat, hingga ada seseorang yang berteriak.
"Siapa sih yang suruh kamu perkenalkan diri? Percaya diri banget.."
"Kok hanya perkenalkan nama aja? Kenapa gak sekalian ceritain kehidupan kamu di sekolah lamamu!", mereka tertawa serempak.
Aku menggeram, kemudian kulihat guruku tampak tak peduli pada semua hinaan tadi. Guru itu, ia juga memberikan tatapan jijik padaku, seperti yang murid - murid ini lakukan padaku.
Mereka seperti Iblis.
Pulang sekolah kali ini, aku menutup mata dan telingaku dari semua hinaan yang bahkan datang saat aku berjalan keluar sekolah. Aku berpura - pura tak mendengar saat ada yang memanggilku "Pembunuh" atau "Setan". Aku tidak peduli.
Namun, saat melewati gerbang, aku tidak melihat ke depan dan menabrak pria yang berlari di sampingku.
"Maaf", hanya itu yang kuucapkan.
"Kalau jalan lihat - lihat, bego!", pria berjaket abu - abu itu memarahiku dan lanjut berlari menghampiri teman - temannya sambil berbicara serius. Ia dan teman - temannya bergantian menatapku.
Aku langsung bergegas pulang. Selama di jalan, aku berusaha menghindari kerumunan anak SMU yang juga berpakaian seragam sama denganku. Aku tahu, rumor tentangku pasti sudah tersebar di seluruh sekolahku. Dan kemungkinan besar, seluruh sekolah membenciku.
….
Hari ini aku telah melewati banyak hal buruk. Sulit untuk menahan amarahku saat aku sadar bahwa seluruh sekolah membenciku. Emosiku kulampiaskan malam ini dengan membekukan secangkir teh hangat di depanku. Cukup dengan menatapnya, dalam sekejap teh itu membeku. Tapi sebentar lagi juga akan cair dengan sendirinya.
Sepertinya metode pelampiasan emosi malam ini tidak berguna. Sebab, masih ada banyak kesedihan yang menggunung di hatiku. Saking kesalnya, aku membanting segelas teh beku tadi ke lantai. Mataku memandang keluar jendela. Pikiranku mulai melayang sedih.
Kenapa orang - orang sering bertindak tidak adil pada orang yang mereka anggap berbahaya?
Kenapa orang - orang itu tidak sadar bahwa mereka juga telah membahayakan orang yang mereka anggap bahaya? Mereka menghancurkan kehidupan orang lain! Menjangkiti setiap orang di sekitarnya untuk bertindak kejam atas hak orang lain. Merekalah yang manusia sebut Perundung. Mereka tidak beda jauh dengan Setan dan Iblis. Aku lebih suka jika mereka membayar penderitaan yang sudah mereka timpakan padaku suatu saat nanti.
Di malam yang dingin ini, aku menangis. Hilang harapan sudah biasa buatku. Tapi kecewa dengan kehidupan seperti ini, mulai aku rasakan. Kekuatanku mulai tidak terkendali.
Saat aku menitikkan butiran air mata, air mata itu membeku di pipiku. Dan saat aku memandang keluar, embun di bunga lilyku ikut membeku.
Aku menutup mataku secepatnya, sebelum tatapanku sepenuhnya membekukan sekuntum lily di pot itu. Saat berjalan ke kamar, aku menabrak beberapa barang dan terjatuh, tapi aku berusaha bangun dan mencari tali penutup mataku.
Dan akhirnya aku baru menyadari sesuatu. Dengan meraba - raba meja belajarku, aku menemukan kacamata ayah yang beliau tinggalkan di sini. Aku memakainya dan mencoba membuka mataku. Ide ini terbukti benar. Setiap benda yang kutatap tidak membeku lagi. Dengan kaca yang menghalangi bola mataku sudah cukup menutup pancaran sihirku pada benda yang kutatap. Dan dengan begitu aku tak perlu takut jika emosiku meledak. Lihat saja, akan kubalas mereka jika masih ada yang berani mengejekku.
Pagi yang kunantikan tiba. Saatnya mengubah hidupku.
Saat tiba di sekolah, murid lain menjadi sering menatapku dan kurasa mereka terheran - heran dengan penampilanku hari ini. Wajar saja, murid yang sering mereka sapa sebagai pembunuh ini berganti image menjadi kutu buku. Perubahan yang dramatis, ya.
"Wah, anak sial itu udah beda gaya nih. Aneh yah. Samperin yuk!", kudengar salah seorang murid laki - laki dari kerumunan di pojok kemarin kembali membicarakanku dan sedang menghampiriku.
Saat sampai pada mejaku, mereka mengerumuniku hingga menutup pandanganku.
"Mau apa kalian?"
"Ehm, nama kamu Ryn, kan?", seorang teman lelaki mereka berujar malu - malu.
"Eh..iya"
Aku kebingungan pada sikap mereka saat ini. Padahal yang kuharapkan adalah membalas ejekan kemarin. Tapi malah begini ceritanya.
"Kamu ternyata imut juga!", salah satu gadis memujiku dan tampak ceria berbicara denganku.
Aku hanya bisa menyunggingkan senyum paksa, karena masih tidak percaya pada sikap aneh mereka.
"Oh, ya! Namaku Sammy. Ini Reyned, Victor, Silvy, Eric, Magie dan Ailey. Mereka sahabat - sahabatku!"
Aku mengerutkan dahi. Untuk apa kalian diperkenalkan padaku?? Gak akan kuterima sebagai temanku.
"Maaf, aku mau ke perpustakaan!", aku bangun dari kursi dan meninggalkan mereka. Bisa kuingat ekspresi mereka yang kecewa dan kesal pada perlakuanku ini. Dan aku suka itu.
Tenang saja. Ini bukan apa - apa. Jika saja mereka berani kembali berbuat tak adil padaku, maka aku tidak akan berpikir dua kali.
…
Aku tiba di pintu masuk perpustakaan. Saatnya mewujudkan imageku yang baru. Kutu buku.
"Eh, dia kok udah beda banget. Seumur hidup aku gak pernah lihat pembunuh baca buku", ujar seorang murid yang sedang meminjam buku bersama dua temannya.
Aku hanya melirik sinis.
(Dalam hati: kalau gitu mau aku lepas kacamata aja supaya kalian sekalian jadi Es Serut?)
Murid - murid itu segera pergi setelah kutatap. Kuharap aku tidak melihat batang hidung mereka lagi. Mengesalkan! Masih juga panggil aku pembunuh ternyata.
"Hei, ada anak baru tuh! Masuk ke kelas XI MIA 3 kayaknya…", aku mendengar seseorang menunjuk ke pintu masuk tempatku berdiri.
Sesaat kukira akulah yang sedang dibicarakan, namun saat mendengar keributan di luar perpustakaan aku segera membalikkan badan dan bertatapan dengan seorang anak laki - laki bergaya elit yang sedang lewat selama beberapa detik. Lelaki itu juga terpaku diam, hanya menatapku.
Sedangkan, murid - murid di sekitar tampak ricuh dan berteriak pada lelaki itu.
"Dan, kamu ngapain? Gak usah tatap anak lain sembarangan….", seorang gadis yang kukenali sebagai Sammy menarik lengan anak baru itu. Pikiranku menganggapnya licik. Cari muka di depan anak baru tampan.
"Ah, ya. Maaf", anak lelaki baru itu menarik tatapannya dariku dan pergi bersama Sammy. Sepertinya guru menugaskan Sammy untuk memperkenalkan lingkungan sekolah kepadanya. Sayangnya, karena rumor tentangku, aku tidak dianggap ada oleh sekolah ini. Ditemani perkenalan lingkungan sekolah pun hanya sebuah mimpi bagi seorang Ryn. Kemarahanku membara lagi.
…
Esoknya, aku dilabrak oleh seorang gadis yang tidak kukenal.
"Heh, anak baru! Jangan sok dingin! Kamu pikir karena teman - temanku berlaku baik sama kamu artinya kamu bisa seenaknya cuek?!".
"Maaf, kamu siapa ya?", aku berusaha menahan emosiku dengan sabar.
"Nggak sopan banget sih sama senior!! Dengar ya, aku seniormu di sini! Jangan coba membantah dan jangan pernah deketin teman - temanku lagi!"
Aku diam. Namun, bukan karena lemah. Tapi karena aku terlalu kuat.
Saat kucerna ucapan senior itu, aku berniat menjawab. Tapi dia menamparku duluan lalu pergi dengan gaya sombong.
Seketika kelas sunyi setelah peristiwa penamparan itu. Murid - murid yang sekelas denganku menatapku jijik.
Aku memegang pipiku yang terasa perih dan merasakan mataku yang mulai memanas ingin menangis.
"Aku tahu kalian tidak akan memberitahukan peristiwa ini pada guru. Karena bagi kalian, akulah yang bersalah", aku berdiri dan membanting buku catatanku ke lantai. Semua orang terkejut. Termasuk juga si anak lelaki baru itu yang ternyata sedang lewat di depan kelasku bersama teman - teman yang mengajaknya.
Saat kusadari air mataku hampir keluar, aku berlari menembus murid - murid yang masih tercengang dan masuk ke toilet wanita. Aku mulai frustasi. Para perundung itu kini menggunakan kekerasan. Jika kubalas dengan kekerasan, aku jelas sama saja membunuh mereka. Dan kemudian diriku lagi yang disalahkan.
Hening. Ingin rasanya pulang ke Antartika. Tapi, aku tidak punya apa - apa lagi di sana. Ibu dan Ayah sudah meninggalkanku selamanya. Aku bahkan tidak ingat nama mereka hingga sekarang. Bodoh rasanya jadi diriku. Bodoh. Hidup sepertinya tengah mempermainkanku.
….
"Cuih, ditampar aja nangis!", sahabat - sahabat Sammy mulai berulah begitu aku keluar dari toilet. Sebenarnya, aku pergi ke toilet bukan karena ingin menyembunyikan tangisanku. Tapi, untuk menutupi sihirku yang membekukan air mataku. Jika mereka melihat air mata bekuku, mungkin mereka akan tambah tercengang lagi.
"Heyyy!", seseorang menarik rambutku ke belakang dengan kuat tanpa melepaskannya. Dasar orang gila, batinku.
Ternyata itu adalah ulah Sammy. Ia tertawa sambil menarik rambutku lebih keras. Sahabat - sahabatnya juga ikut tertawa melihatnya. Tapi, tidak dengan
Victor yang juga melihat itu. Ia diam bagai tidak bersemangat. Aku berharap semoga ada orang yang melepaskan rambutku dari Sammy.
Dan orang itu adalah Victor.
"Sam, sudahlah! Kau tidak lelah ya mengganggunya terus?", Victor berujar lalu berjalan menjauh meninggalkan sahabat - sahabatnya yang tampak heran.
"Ah, gak peduli! Sekarang kita akan balas perbuatan kamu kemarin!", Sammy masih menjambak rambutku dan menarikku keluar kelas menuju sebuah ruang yang terlihat seperti gudang.
"Kamu mau ngapain?! Tolong lepaskan!!", aku memberontak hingga akhirnya membuat tangan Sammy terlepas dan kacamataku jatuh bersamaan dengan jatuhnya tubuh Sammy ke lantai.
Sahabat - sahabat Sammy membantunya berdiri. Dia kini menatapku lekat.
Aku yang tengah terbakar amarah dan kesedihan yang tertumpuk tanpa sadar menatapnya juga. Sihirku mulai beraksi.
Sammy berteriak kesakitan, dari mulutnya keluar asap dingin.
"Haaahhhh…", ia mulai sempoyongan. Bibirnya membiru dan tangannya didekapnya ke dada. Dalam sekejap, dia tak sadarkan diri.
"Sammy, Sam!!", para sahabatnya itu memanggil bantuan dan juga guru. Mereka membawa tubuh Sammy ke UKS, namun entah kenapa guru kemudian membawanya ke rumah sakit setelah itu.
Aku kembali ke kelas dengan kacamata yang sudah terpasang di mataku. Pikiranku merasa panik. Ini salah mereka! Mereka yang duluan membuatku menderita!
Keesokan harinya...
"Murid mana yang bernama Ryn di sini?", seorang guru pria masuk ke kelas kami, menunggu jawaban dari murid.
"Dia, pak!", dua gadis menunjukku serempak. Sang guru menatapku lewat kacamata kotaknya dan menyuruhku ikut bersamanya ke kantornya.
....
Ternyata guru pria itu adalah kepala sekolah. Aku sedikit gugup.
"Ryn, kamu sudah mengulangi kesalahan yang sama dengan di sekolah lamamu...". Kepala sekolah berhenti dan menatapku bengis. Ia menangis dan kelihatan mengerikan.
"A- ada apa, pak?", aku coba memahami. Namun, kejadian selanjutnya membuatku paham pada keadaan. Sangat paham.
Dengan kasar, kepala sekolah melempar sebuah vas kaca padaku hingga mengenai dadaku. Sakit sekali.
"GADIS ITU MATI!! KAU TAHU?? DARAHNYA MEMBEKU!!!-", kepala sekolah mendadak berdiri dan membanting meja dengan keras.
Aku terdiam. Kepala sekolah dengan cepat kemudian mengambil sebuah balok kayu tebal dan menghantamku berulang kali sambil berteriak memakiku.
"KAMI TAK TAHU APA YANG KAU LAKUKAN PADANYA!!!! TAPI REKAMAN CCTV MENANGKAP KEJADIAN ITU!! KAU MURID KURANG AJAR!!-"
Tubuhku sakit. Tapi hatiku jauh lebih sakit.Aku menangis menahan hantaman balok kayu itu dengan pasrah.
"Maafkan aku, pak!!! Tolong maafkan aku!!!", aku terus menahan rasa sakit pukulan itu.
"KARENA KAU, NAMA SEKOLAH INI TERCEMAR!!! KAU MANUSIA TAK TAHU DIRI!! PEMBUNUH!! SEKARANG PERGI DARI SEKOLAH INI!! JANGAN PERNAH ANGGAP KAMI MENERIMAMU LAGI!!! PERGIII!!!"
Sebuah hantaman terakhir mengenai kepalaku. Aku terhuyung - huyung dengan beberapa memar biru di lengan dan dahiku. Tangisanku membeku di pipiku. Sekarang emosiku memuncak.
"Kalian semua IBLIS!!!!!!", aku mengambil tasku di kelas lalu berlari keluar sekolah dengan terisak.
Sekali lagi dan lagi, hinaan datang padaku. Hinaan yang dulu kuanggap biasa, sekarang terasa lebih tajam.
Apakah mereka mengasahnya?
Apa mereka selalu bahagia menusukkan hinaan itu padaku?
Aku ingin tahu rasanya bahagia.
Ibu, ayah. Bagaimana rasanya kematian?
Maniskah? Atau sakit seperti ini?
Bolehkah aku ikut bersama kalian? Aku terlalu takut hidup di dunia ini…
Aku ternyata lemah. Aku mau mati saja
Apa aku masih juga dihina di sana? Bolehkah aku pergi dari dunia ini? Bolehkah aku bebas dari belenggu penderitaanku?
Kenapa?.. Kenapa harus aku yang merasakan kesedihan mendalam ini?
Aku lelah, bu.
Aku juga sudah menyerah, ayah.
Sekarang, aku akan membekukan tubuhku. Asalkan jiwaku bebas.
AKU SIAP..
Dalam pelarian dan isakan tangisku, aku berhenti di samping sebuah telaga kecil.
Kulepaskan tasku dan masuk ke telaga.
Dengan ringan, aku tertidur di telaga itu. Mataku terbuka dan membekukan seluruh permukaan.
Napasku sudah berhenti. Dan air mataku bersatu dengan bekunya air telaga itu.
Sungguh, aku bahagia.
TAMAT