'Bagi Sari Handini, Ari Irham itu iblis bercangkang malaikat. Tenang sekaligus mematikan.'
.
.
.
Ini masih pagi, tetapi suasana di jalanan Jakarta sepertinya berkata lain. Banyak sekali kendaraan saling berebut jalan hingga membuat kemacetan yang mengular. Selain itu, terik matahari yang mulai panas diiringi bunyi klakson yang bersahutan semakin memperparah keadaan.
Sari Handini yang kebetulan terjebak macet akibat lampu merah, hanya bisa mendengus dari atas sepeda. Salahnya sendiri memang. Mungkin jika ia tadi tak menyalip mobil bak terbuka di sebelah kirinya itu, sekarang sudah lain cerita. Sayang karena terburu-buru, ia salah pilih.
Lima detik kemudian, lampu hijau menyala. Sari dan kendaraan lain akhirnya bisa melanjutkan perjalanan lagi.
***
Dengan napas ngos-ngosan, Sari melangkah terburu menuju kelas setelah memarkirkan sepeda. Ia ingin segera duduk di kursi lalu berkipas-kipas ria sembari membaca novel bergenre 'gore' yang baru dibelinya semalam. Sayangnya, nasib berkata lain. Ada kerumunan orang di gerbang yang membuat langkahnya harus kembali terjeda.
"Pagi-pagi udah pada demo aja di depan gerbang. Emang harus, ya? Lagian, apa, sih, yang didemoin sampe sepecah itu?" Ia menatap miris kerumunan di depan. Sampai iris hitamnya tak sengaja bertemu dengan kelereng cokelat itu.
"Anjir!" Sari kaget. Secepat kilat, cewek berkucir satu itu berbalik untuk menenangkan degup jantungnya yang tak beraturan. Bukan karena jatuh cinta pada pandangan pertama, lebih tepatnya kesialan.
"Itu Si Curut bau minyak nyong-nyong ngapain di sini? Tuhan, harus, ya, Sari yang solehah ini ketemu dia lagi?"
Di lain sisi, Ari Irham yang melihat cewek berkuncir satu itu merekahkan senyumnya. Tak buang waktu, ia langsung menerobos kerumunan para gadis yang mengerubunginya demi menghampiri cewek itu.
'Buper, ternyata lu nggak berubah ya.' gumamnya.
Gadis itu masih saja menggerutu, sampai tak menyadari ujung tasnya ditarik ke belakang. Otomatis, tubuhnya yang tak siap itu terhuyung. Untung, ada tangan yang sigap menahan.
"Halo, Buper. Enggak nyangka, ya, takdir nemuin kita secepat ini?" Bisikan lembut itu terdengar horor di telinga Sari. Takut-takut, ia menoleh untuk memastikan si pemilik suara. Benar saja, wajah Ari Irham sudah tersuguh di hadapannya. Tentunya dengan senyum tengilnya. Imut-imut membawa maut.
"Hehehe ...." Sari tertawa canggung. Ingin rasanya ia segera menghilang dari muka bumi.
***
Sari bingung, sungguh. Bagaimana bisa anak udik, ingusan, dan mirip gembel itu bisa muncul lagi di hadapannya? Seharusnya ia pindah lebih jauh lagi bersama ayahnya, kalau perlu sampai ke Kutub Utara sekalian. Rupanya, waktu lima tahun damainya harus lenyap karena kehadiran Ari kembali.
Sari jijik? Ah, rasanya ia ingin sekali membuang Ari sejauh mungkin. Kuman kecil itu bisa menularinya.
Namun, hei! Sari memastikan penglihatannya kembali. Sesekali ia mengucek mata, melihat Ari yang tersenyum penuh kepuasan. Ternyata banyak sekali yang berubah dari dirinya. Cowok itu sengaja berpangku tangan menarik perhatian semua orang ke bangku Sari. Jelas saja semua gadis iri. Mereka menganggap Sari yang upik abu tak pantas dengan Ari yang notabene seorang pangeran.
Damn it, padahal dulu Ari itu .... Ah, sudahlah Sari muak.
"Lama-lama gue bisa gila!" umpat Sari, Ari terbahak.
"Lu diem, atau gue tonjok ampe gigi lu rontok?" lanjutnya mengancam.
Ari seketika berdiri. Cowok itu segera menyetarakan tingginya dengan Sari yang masih tersulut emosi.
"Eh, ngapain pegang-pegang? Lepas."
"Gue enggak berniat buat lu gila." katanya pelan sembari mencekal kedua tangan Sari yang hampir saja ditepis cewek itu mentah-mentah. "Gue ke sini cuma mau nagih janji."
"Janji?"
Ari mengangguk. Cowok itu lantas mendekatkan wajahnya ke telinga Sari. "Janji buat jadi pengantin gue, ketika gue udah cakep dan wangi. Valid no debat."
"Hah! What?"
Saat sadar rupanya Sari sudah terlambat. Ia terikat dengan janji kanak-kanaknya dulu yang harus ditepati sekarang. Mungkin jika ia tak menjadi 'Ibu Peri'-nya Ari dulu, ini semua tidak akan terjadi.
End.