#Lombafanfic
"Lisa! Lisa!".
Lisa menoleh ketika Jennie, sahabat baiknya memanggilnya. "Ada apa, Jennie?".
Jennie yang baru saja habis berlari berhenti didepan Lisa dengan nafas terenggah-enggah. "Apa rumor itu benar?".
"Rumor?". Lisa mengerutkan dahinya.
"Rumor tentang kau yang pacaran dengan Jungkook!".
Lisa mendadak malu. "Iya, itu benar".
"Jadi kau benar-benar pacaran dengannya?".
"Iya".
"Tapi kenapa?".
"Apa maksud kata "kenapa" itu?".
"Maksudku, Jungkook itu kan brandal sekolah! Suka membuat masalah, suka bolos, selalu dipanggil ke ruang BK! Dan semua orang juga tahu kalau dia itu orang yang suka mempermainkan hati seorang wanita! Kenapa kau mau menerimanya?".
Lisa mendadak tertawa keras, membuat semua orang disekitar menoleh kearahnya. "Kim Jennie, kadang kau harus berhenti menilai seseorang dari rumor yang beredar".
"Lisa, itu bukan lagi rumor! Itu kenyataannya!".
"Jennie, kau tidak tahu Jungkook itu orangnya seperti apa. Jadi sebaiknya kau jangan ikut campur kedalam kisah cintaku". Ujar Lisa dengan halus. Ia tak memancarkan aura kemarahan sama sekali.
"Lisa, dengarkan aku! Aku ini sahabatmu kan?". Jennie memegangi kedua lengan Lisa.
"Iya, kau adalah sahabat terbaikku". Jawab Lisa.
"Kalau begitu, kau harus dengarkan perkataanku! Lebih baik kau berpisah dari Jungkook, karena dia sangat berbahaya untukmu! Aku takut dia akan melakukan sesuatu yang bisa membahayakan nyawamu nanti".
Lisa menghela nafas. "Jennie, jangan menilai orang dari luarnya saja! Aku tahu Jungkook itu sebenarnya sangat baik dan lembut".
"Itu hanya trik agar kau tetap bersamanya! Nanti juga dia akan mencampakanmu kalau bosan".
Lisa mengulas senyum. "Kita tidak tahu apa yang akan terjadi nanti, Jennie. Kita hanya harus menjalani hidup kita, itu saja".
Jennie menggembungkan kedua pipinya. "Baiklah, terserahmu saja! Kalau kau putus dengannya, jangan menangis kepadaku, oke?".
Keduanya berjalan menyusuri koridor untuk kembali ke kelas. Ternyata lantai koridor baru saja selesai dipel, sehingga masih licin. Lisa yang tak berhati-hati langsung terlepeset.
"Lis...".
Grep!
Jennie dan Lisa sama-sama terkejut ketika sebuah tangan kekar menarik Lisa, sehingga badan Lisa tak jadi menyentuh lantai.
"Kau ini, sudah berapa kali aku bilang untuk berhati-hati?". Jungkook memeriksa keadaan Lisa. "Tidak ada yang terluka kan?".
"Aku baik-baik saja". Lisa tersenyum.
"Yang tadi itu hampir saja! Bagaimana jika aku tidak ada? Bisa-bisa kepalamu bocor!". Ujar Jungkook.
"Jungkook, kau berlebihan. Aku hanya terpeleset". Balas Lisa.
"Terpeleset juga berbahaya, dasar bodoh!". Jungkook menyentil dahi Lisa dengan pelan, sedangkan Lisa terkekeh kecil.
Jungkook melirik Jennie yang hanya terdiam menatap keduanya. "Apa kau temannya Lisa?".
"Ah.. I.. Iya..". Jawab Jennie.
"Kau juga harus berhati-hati!". Jungkook mengeluarkan sebuah dompet dari saku celananya. "Apa ini milikmu?".
Jennie terkejut. Dompet itu adalah miliknya yang diambil paksa alias dipalak beberapa preman beberapa hari yang lalu. "I.. Iya, ini milikku!".
"Aku menemukannya saat berkelahi dengan para preman yang menganggu anak-anak sekolah". Ujar Jungkook.
"Kau berkelahi dengan mereka karena mereka menganggu anak sekolah kita?". Jennie terkejut.
"Iya, banyak yang melapor kepadaku kalau mereka membuat onar, jadi aku memberikan mereka pelajaran agar tidak menganggu anak sekolah kita lagi". Jawab Jungkook.
Jennie tak bisa percaya. "K..Kau berbohong?".
Jungkook menatap tajam Jennie. "Apa wajahku terlihat berbohong?".
Jennie segera mengalihkan pandangannya karena merasa takut.
"Sudah kubilang kan, Jennie. Jungkook itu baik, memang rumor itu saja yang membuat namanya jelek". Ujar Lisa.
"Oh ya, kau bilang ingin aku mengajarimu sejarah kan?". Ujar Jungkook ke Lisa.
Lisa mengangguk. "Iya! Kau pintar dalam sejarah, jadi aku meminta tolong".
"Yasudah, aku akan mengajarimu sekarang".
"Baiklah!". Lisa menoleh kearah Jennie. "Jennie, kau pergilah ke kelas duluan, aku mau belajar dengan Jungkook".
"B.. Baik...".
Jennie memandangi kepergian Lisa dan Jungkook. "Mungkin aku memang harus berhenti menilai buku dari sampulnya".
*****
"Jangan pernah menilai seseorang dari luarnya, karena kita tidak akan tahu apa yang ada didalam diri mereka"
*****
Selesai