Sudah hampir 5 bulan pak Bimasena mengajar di kelasku. Beliau adalah guru magang pengganti pak Ruslan yang mengampu pelajaran Matematika Peminatan yang tingkat kesulitannya lebih tinggi dari pada Matematika Wajib. Namun mungkin karena cara pak Bimasena mengajar yang asyik, ditambah tampangnya yang cakep tidak seperti pak Ruslan yang serius dengan kaca mata tebalnya mata pelajaran tersebut jadi mudah kupahami.
Otakku yang pas-pasan ini mau bekerja sama dengan keinginanku yang tidak ingin terlihat bodoh oleh pak Bimasena yang sejak pertama kali mengajar sudah jadi idola anak-anak IPA kelas 12 sepertiku. Em, aku tidak hanya mengidolakan tapi juga senang sama pak Bimasena bahkan sering curi-curi lihat saat beliau mengajar, saat dia tidak mengajar pun, aku sering diam-diam berkhayal suatu hari nanti pak Bimasena jadi pacarku, hihi ... aku tahu ini hal yang bodoh, tapi gak apa-apalah, biar semangat gitu.
Suatu ketika setelah kelas berakhir, pak Bimasena memanggilku ke ruangannya, aku pun panik sambil mengingat kesalahan apa yang sudah kubuat. Tidak ada sih, tapi ... apa karena kejadian tadi pagi, saat aku ketahuan tersenyum sambil menatapnya di kelas? Padahal aku sudah sering ketahuan tapi kenapa kali ini pak Bima sampai memintaku menemuinya? Waduh, aku pasti bakalan diceramahin nih.
***
"Arunika, kamu tahu kenapa aku memanggilmu?" Tanya pak Bimasena tenang, sama sekali tidak ada kesan marah malah sambil menampilkan senyum tanggungnya yang sangat kusukai itu.
"Em ... tidak, pak," jawabku sambil menunduk.
"Arunika, kalau diajak bicara usahakan tatap mata lawan bicaramu."
Pelan-pelan aku mengangkat kepalaku dan menatap mata coklat pak Bimasena dengan perasaan yang sulit kuungkapkan, antara senang bisa lihat manik matanya dicampur rasa sungkan.
"2 minggu lagi aku akan selesai dengan tugas magangku sebagai guru pengampu Matematika Peminatan di sekolah ini dan ... kamu di semester depan bakal mengahadapi ujian nasional, apa kamu sudah punya rencana akan melanjutkan ke mana setelah lulus?"
Ah, aku sedikit lega mendengar kata demi kata yang diucapkan pak Bimasena, duuuh ... kenapa tadi aku menduga bakal kena marah ya? Haha.
"Em ... mau masuk Fakultas Kedokteran, pak."
"Gak berminat masuk fakultas lain? Nilai Matematika Peminatanmu bagus lho, mungkin kamu mau berminat ke Fakultas Keguruan?"
Aku menggeleng, "Sebenarnya saya kurang suka pelajaran Matematika, pak. Maaf, hehe. Sejak kecil saya bercita-cita jadi dokter sih, kalau tidak bisa dapat di Universitas Negeri ya di swasta. Nah, kalau tidak dapat di swasta, mungkin saya akan mencoba saran bapak tadi."
"Baguslah, tapi masih di kota ini, kan?"
"Iya, pak. Orang tua saya gak mau saya jauh-jauh dari mereka, soalnya 2 orang kakak saya sudah menikah dan tinggal diluar kota."
"Syukurlah kalau begitu."
"Kok syukurlah, pak?"
"Iya kan, kalau kamu nanti lanjut kuliah di sini saja, aku gampang ngajak kamu kencan, Arunika."
"Hah, kencan gimana maksudnya, pak?"
"Ya kencanlah. Arunika, kamu mau gak jadi pacarku?" Tanya pak Bimasena, suaranya bariton itu terdengar lembut sekali di kupingku. Eh, barusan pak Bimasena bilang apa, mau gak aku jadi pacarnya? Aku gak salah dengar atau lagi ngimpi kan ini?
"Arunika, kok bengong sih ... jawab iya atau tidak, dong."
"Aduh, harus jawab sekarang pak?"
"Gak juga sih, 5 menit dari sekarang juga boleh, kok. Aku akan sabar menunggu kamu bilang iya."
"Lah, bapak kok kesannya maksa sih?"
"Aku takut keduluan sama cowok lain, Arunika."
Aku sok mikir bener, padahal udah pengen loncat-loncat saking senangnya.
"5 menit sudah, time's up Arunika dan jawabanmu adalah ...?"
"I-iya, pak. Saya mau jadi pacar bapak."
"Nah gitu dong, kan enak kalau ada kepastian. Baik jadi hari ini, 4 April kita resmi jadian, ya Arunika."
***
Begitulah, setelah masa magang pak Bimasena selesai aku tidak sesedih teman-temanku yang lain, karena pak Bimasena telah jadi pacarku. Dia juga dengan senang hati menemaniku belajar untuk persiapan ujian nasional dan masuk fakultas yang aku cita-citakan.
Semula, aku menduga pak Bimasena adalah mahasiswa fakultas MIPA ternyata tidak karena pak Bimasena seorang Sarjana Teknik yang sudah lulus 1 tahun lalu, dan magang di sekolahku hanya karena ingin merasakan jadi guru, profesi impian masa kecilnya namun ayahnya ingin pak Bimasena mengganti posisinya sebagai CEO Kalimaya, perusahaan yang bergerak di tambang batu bara. Kebetulan pak Ruslan bersahabat dengan ayah Bimasena, karena tahu Bimasena suka Matematika dan pernah ingin jadi guru, maka pak Ruslan menawarkan kesempatan 'magang' sebelum Bimasena terikat dengan tugasnya jadi CEO Kalimaya. Beruntung ketika jadi guru, Bimasena malah dapat pacar, siswanya sendiri, yaitu aku, Arunika.