Aku terlalu muda untuk menjadi tua. Aku bukan ahli kitab. Aku bukan peramal takdir. Bukan pula ahli perbintangan. Aku terlalu muda untuk menjadi seorang bijaksana.
Setiap kata-kata yang terucap bukanlah tutur yang akan menghantar ke masa depan bukan pula yang akan membawa mu pulang ke masa lalu.
Kata-kata bukan secawan emas juga bukan pula sekarung sampah. Dia hanya sekedar ucap meski bukan sekedar kicau senggang anak tak bertuan.
Jauhlah aku dari bijaksana dan seorang filsuf bukanlah bagian dari keinginan sungguh aku pun tak pernah menginginkan.
Kata-kata ku bukan penyembuh meski ia bukan sampar yang menghadirkan petaka dan nestapa. Ia cuma sekedar kata bukan pula sabda.
Dan setiap rentetan kata adalah kata bukan anak panah yang dilecut dari busurnya. Bukan juga bilah pisau yang menikam hingga ke dasar jantung yang paling dalam bernama kesadaran.
Tak ada badai yang kurajut dari kata. Juga tak ada satu musim menanam yang ku semai dari sana. Sungguh ia bukan musim gugur yang melapukkan masa-masa penantian. Pengharapan pun tak ku tenggelamkan dengan musim penghujan. Meski tak ku hidup kala musim menanam tiba.
Kata-kata ku bukan mutiara tapi juga bukan kerikil-kerikil kecil yang menghampar di jalanan berdebu apalagi pecahan beling yang sembunyi di baliknya.
Aku terlalu muda untuk menjadi tua meski raga telah renta meski mata tak lagi membulat meski gores-gores kerut telah menggaris di sudut-sudut pelupuk. Sungguh, aku terlalu muda untuk menjadi tua. Karena aku bukan siapa-siapa.