Suatu hari disekolahku, SMA Merdeka Mandiri, aku dipanggil ke ruang guru, ya inilah kebiasaan ku, suka dipanggil ke ruang guru tanpa salah, ini juga karena dipanggil akibat fitnahan musuhku. Aku sangat membenci musuhku karena karena musuhku, aku menjadi di benci orang, ada yang percaya dan tidak percaya, aku tetap bersyukur memiliki 4 teman sejati, Marsya, Irene, Bianca dan Asep, Asep itu nama terkenal dia, nama aslinya itu adalah Kenzo Danendra. Asep itu anak konglomerat, sebanding dengan Bianca, Bianca adalah anak raja, sejak aku mengenal mereka aku menjadi tidak percaya setelah mereka mengenalkan diri mereka, Marsya adalah anak paling pintar di sekolah sebelumnya, Irene adalah anak ratu paling terkenal di kota Wellington, Bianca adalah anak raja, Asep adalah anak konglomerat, sejak mengenal mereka, aku menjadi sangat akrab dengan mereka bahkan keluarganya. Aku memiliki kucing kesayanganku, namanya adalah Chiko dan Anako. Aku sangat menyayangi mereka berdua. Rasanya ingin membawa mereka ke sekolah. Di pagi hari aku berangkat sekolah bersama dengan Marsya dan Bianca entahlah Irene dan Asep tak bisa berangkat bareng dan tiba tiba aku bertemu satu anak perempuan seperti anak yang berusia 12 tahun, setelah Bianca menanyakan namanya siapa, dia menjawab namanya adalah Clarissa. Dan aku juga melihat Irene dan Asep menghampiri kita dari belakang.
POV PERCAKAPAN
Someone : Namaku Clarissa, nama kalian?
Bianca : Nabila Bianca
Irene : Irene
Asep : Kenzo Danendra
Marsya : Annisa
Clarrisa : Owh, mau berangkat bareng gak? Kalian sekolah dimana?
Marsya : Di SMA Merdeka Mandiri
Clarissa : Owh? Sama dong, oh iya, apa kita boleh berteman?
Marsya : Blh
Bianca : Eh ayo kita berangkat ke sekolah nanti terlambat
Clarissa : Eh iya ya, yok lah gass
Di sekolah...
Bianca : Bye Clarissaa, nanti kita jemput ya di depan kelas lo
Clarissa : Ok
Irene : Maaf aja ya Bianca, tapi nanti gue gk bisa ikut pulang bareng soalnya abis pulang sekolah gue buru buru soalnya bokap gue ada urusan di luar kota dan gue harus ikut.
Bianca : Yah, yaudah deh gpp kok Ren, santai aja
Irene : Maaf banget yah
Asep : Don't problem / worry Irene santuy aja ma kita mah
Marsya : Yok lah masuk kelas, udh mau bel
Jam menunjukkan 7:30 guru pun datang.
Marsya : SELAMAT PAGI GURRUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUU ( dalam hati)
"Sya, lu abis teriak dalam hati ya" kata Bianca.
"Iya kok lu tau?"
"Anjirr suara lu aja kedengeran"
"Ha?"
"Hahohoahahahahaohoah"
"Dih"
Jam 12 siang tepat bel pulang berbunyi, Irene langsung pulang menggunakan mobil lamborghini nya, dan aku, Asep, Bianca dan Marsya pun menjemput Clarissa di depan kelasnya.
Aku pun sampai dirumah dan aku sangat kaget melihat kucing kucingku tiduran di depan pintu, sudah ku bangunkan sejak 3 jam yang lalu, tetapi mereka belum bangun bangun juga, aku langsung membawa mereka ke rumah sakit keesokan harinya. Dokternya mengatakan bahwa mereka sudah tiada, sontak aku langsung tidak percaya dan kaget. "Kucing anda sudah tiada, kami sudah berusaha semaksimal mungkin tetapi usaha kami gagal, maaf ya kak" "Gak! Gak mungkin pasti hasilnya salah!". Tanpa menjawab, dokter hewan itu langsung pergi meninggalkan ruang pemeriksaan. Aku membawa mereka ke pemakaman sambil menangis sedih, Anako dan Chiko pergi meninggalkanku. Aku pergi ke sekolah di keesokan harinya. "Tasya? Kok tadi gue gak liat lo?" Aku tidak menjawab pertanyaan Bianca itu. Aku hanya diam tidak menjawab pertanyaan Bianca. "Tasya! Tunggu! " kata Bianca. "Ca, Tasya kenapa sih kok dia jadi pendiam gitu?" tanya Marsya pada Bianca
"Gak tau Sya, gue juga heran kenapa sifat dia jadi kayak begitu, kita tanyain aja yuk" "Yuk" kata Marsya.
"Tasya! Lo kenapa sih hari ini kayak begitu?! Lo jadi kayak pendiam gitu tau!"
"Kucing gue meninggal" kataku kepada mereka.
"Hah?! Anako sama Chiko udah gak ada?"
"Iya" kata ku. "Yang sabar ya Tasya, kucing lo meninggal karena apa?" kata Asep.
"Gue juga gak tau, tapi bisa gak lo jangan bahas kucing gue lagi, gue pusing." kata ku sembari kesal karena mereka membahas Anako dan Chiko di 1 hari kematian mereka.
TAMAT