Akan tiba kelak masanya ketika kita saling merindukan dan dirindukan. Meski jarak yang pun tinggal lagi sejengkalan tangan. Akan tetapi hati dan pikiran ini tak lagi kuasa untuk menuntaskan rasa.
Hanya kepada angin malam yang menelisik sepoi-sepoi tinggal kita bisa berbagi.
Disaksikan rembulan yang mengintip malu-malu dari balik rerimbun awan, jatuh selinang airmata... Akh kemilau gemintang dengan seribu formasi kepunyaanmu jangan pula engkau menertawakan.
Memilih berlari jauh ke tepi pantai lalu menjejak pada setapaknya yang basah, panjang dan tak berujung. Jangan bilang kita hendak menyusuri karang-karang terjal yang curam. Apa mungkin kita memilih untuk tenggelam, tenggelam ke dalaman samudera yang paling dalam, di sana kita mencoba untuk melangkah, paling tidak berupaya menyusuri jejak-jejak peradaban yang hilang. Adakah itu jalan keluar!? Terbaik yang bisa kita perbuat guna mengobati gelisah pada hati dan rasa.
Jangan mengingini terbang dengan sekepak sayap kupu-kupu dengan seribu warna-warni di sekujur tubuhnya, meski itu indah, sebab ia sekedar ilusi! Bukankah menjadi seekor elang lebih mengasyikkan!? Jika ingin terbang, terbanglah dengan satu keinginan, abadi mengepak di tujuh tahta tingkap-tingkap awan.
Hutan di ujung sana adalah rumah bagi makhluk-makhluk tak bertuan, istana bagi bayang-bayang hitam dan kelabu, jutaan nafas beraroma kematian mengusik kesunyian, kan patah sepuluh langkah lalu rebah menjadi petaka... Jangan ke sana... Pun buah-buahnya azab bagi masa depan, tak baik untuk dipetik.
Barangkali ikhlas adalah jalan terbaik, yang paling baik dari yang paling baik, barangkali...