"Miaw, miaw, miaw ..." kucing kecil itu mengeong seolah minta belas kasihan. Tiara, seorang pekerja yang gemar memasak, hari itu belanja kebutuhan dapur di sebuah pasar tradisional, tidak sengaja melihat seekor kucing belang tiga berjenis kelamin betina sedang merintih di dekat motornya di parkiran.
"Miaw." Tiara menggantung plastik belanjaannya di motor lalu menghampiri kucing kecil itu.
"Hai, lucu sekali kamu, lapar ya?" Tiara mengusap pelan kepala kucing itu.
"Miaw," jawab kucing itu.
"Astaga, ternyata kakimu terluka," ujar Tiara yang lalu mengambil kucing itu lalu menaruhnya ke dalam tas cangklongnya dengan posisi kepala menghadap luar.
"Jangan bergerak atau meloncat keluar ya, aku akan membawamu pulang dan membersihkan lukamu," kata Tiara yang seolah dimengerti oleh si kucing.
Tiba dirumah, usai merapikan belanjaannya, Tiara menghampiri kucing itu. Membersihkan badan kucing dengan air hangat lalu kemudian membersihkan luka si kucing dengan antiseptik.
"Nah, karena kamu sangat lucu dan imut, maka mulai sekarang kamu kuberi nama cimoy, ya," kata Tiara gemas.
Kemudian gadis itu bersiap pergi, tujuannya adalah pet shop, ia ingin membeli segala keperluan cimoy. Meskipun hanya 'kucing kampung' yang dia temukan di pasar, tetap saja itu adalah mahkluk hidup yang harus diurus sebaik mungkin. Usai membeli box, makanan, obat cacing, vitamin, shampoo, pasir dan juga obat luka untuk cimoy, Tiara bergegas pulang.
"Cimoy, aku pulang."
"Miaw," sahut Cimoy.
Tiara langsung mengobati luka Cimoy kemudian memberinya makan. "Nah, ini tempat tidurmu yang baru," kata Tiara sambil menepuk box yang baru dia beli. Sepintas tidak ada yang aneh dengan cimoy, sebab Tiara bukanlah gadis yang 'peka', Tiara tidak pernah tahu kalau cimoy adalah perwujudan iblis betina yang kalah bertarung.
Cimoy sangat menyayangi Tiara yang begitu memperhatikan segala kebutuhannya, cimoy berjanji akan melindungi Tiara semampu yang ia bisa.
***
"Tanda tangani ini," paksa ibu tiri Tiara yang ingin menjual rumah peninggalan ayah Tiara.
"Tidak mau, bu. Itu hak aku dan adik-adikku. Ayah sudah berpesan, tanah dan rumah miliknya boleh dijadikan agunan tapi tidak boleh dijual. Hanya itu satu-satunya peninggalan ayah, bu."
"Cih, dasar anak tidak tahu malu. Gara-gara ngurus bapakmu yang sakit-sakitan itu hingga mati, aku jadi punya banyak hutang. Tanah dan rumah itu kan hasil jerih payah ayahmu, wajar saja kalau dijual untuk menutupi kerugianku yang dikarenakan ayahmu yang susah itu," ujar ibu tiri Tiara.
Namun Tiara teguh pendiriannya sebab Tiara tahu persis, saat menikahi ibu tiri segala pembagian harta sudah jelas diatur beliau bahkan ayah Tiara punya tabungan sendiri untuk hari tua dan sudah ikut asuransi untuk jaga-jaga jika beliau sakit. Saat ayah sakit kemudian meninggal, asuransi tersebut sudah di klaim oleh ibu tiri yang ditunjuk ayah menjadi ahli warisnya.
"Maaf bu, saya tidak bisa melanggar amanat ayah," putus Tiara yang membuat ibu tirinya kesal.
"Baik, karena kamu sudah mempersulit urusanku maka jangan menyesal jika kamu mengalami kesusahan," ancam ibu tiri.
Cimoy si belang tiga mengerti situasi itu, ia diam-diam melakukan sesuatu agar ibu tiri Tiara tidak lagi menganggu majikan baik hatinya itu.
Baru beberapa menit meninggalkan kediaman Tiara, terdengar kabar kalau ibu Tirinya mengalami kecelakaan mobil dan meninggal di tempat kejadian.
Cimoy menyeringai tanpa disadari Tiara.
***
Malam itu Tiara mendadak lembur dan terpaksa pulang malam, Tiara khawatir adik-adiknya yang masih kecil juga cimoy kelaparan dan ketakutan karena belum pulang sampai hampir tengah malam. Dengan langkah tergesa Tiara menghampiri motor, namun sialnya ban motor Tiara bocor. Tiara cepat-cepat memesan ojek online namun belum lagi ojek pesanannya tiba, mulut Tiara dibekap dari belakang dan tubuhnya diseret ke tempat sepi.
"Hmph, hmph," Tiara berusaha berteriak minta tolong tapi tidak bisa.
Syiuuut, buk, buk.
Tiba-tiba sesuatu bergerak cepat menghajar orang-orang yang berniat jahat itu.
"Terima kasih Tuhan," gumam Tiara lega, meski sedikit ngeri melihat para penjahat itu jatuh dengan banyak luka dan darah yang menggenang di jalan.
"Itu tadi apa, ya?" Gumam Tiara menuju tempatnya semula sambil mencari keberadaan sosok penolongnya tadi yang menghilang entah ke mana.
"Neng, tujuan Bougenville Blok C III no 8, kan?" kata tukang ojek online yang sudah siap mengantar Tiara pulang.
Keesokan harinya, ramai dibicarakan kematian misterius kepala divisi tempat Tiara bekerja juga beberapa orang preman dengan badan penuh luka cakaran mirip binatang buas.
"Haha, rasain! Itu akibatnya telah membuat nonaku lembur dan juga membuat nyawanya terancam," gumam cimoy sambil menjilati kedua tangannya bergantian. Menghilangkan nyawa orang yang telah membuat Tiara bersedih atau dalam kesulitan merupakan kebahagian bagi cimoy, semakin banyak orang yang terbunuh maka kekuatannya sebagai iblis betina makin sempurna.