Aku mengurung diri dari lingkungan sekitar, entah itu sifatnya atau memang caraku menghadapi hidupku. Kadang aku merasa tak butuh bantuan dari siapapun selagi aku masih mampu melakukan semuanya dengan baik walaupun hanya sendiri.
Sering terlintas dalam benakku, apa perlu bersosialisasi jika hanya mengandalkan sikap toleransi. Tapi kadang toleransi hanya mempu menahan diri dari pertanyaan atau bahkan sindiran, cemoohan dengan dalih nasehat bijak. Kadang sakit tapi masih harus tetap bertahan.
Saat aku melihat wajah-wajah mereka yang ada di sekelilingku, aku selalu berfikir. "Apa mereka tidak pernah lelah menggunakan topeng itu?"
"Apa hanya aku yang sering merasakan tekanan-tekanan dari mereka."
Perkumpulan sering kali membuatku menghindari mereka, aku selalu memilih untuk diam dan hanya mendengarkan tanpa berkomentar atau berpendapat dalam bahasan mereka.
"Firasat!!!!"
Aku sering kali merasakan firasat-firasat buruk yang akan terjadi terhadap diriku sendiri bahkan orang-orang di sekitarku. Dan itu selalu terjadi, itu juga salah satu yang membuatku lebih nyaman sendiri hingga saat ini.
Kemunafikan selalu ku lihat dari wajah-wajah yang menganggap mereka teman atau sahabatku.
"Heh!"
"Lucu sekali."
Menertawakan diri sendiri, menyibukkan diri sendiri, membahagiakan orang disekitar. Tapi selalu lupa dengan kebahagiaan sendiri. Kadang aku selalu mengeluh.
"Kenapa sifatku selalu seperti itu."
Banyak yang membenciku tanpa alasan yang aku sendiri bahkan tak tau dan tak pernah melakukan kesalahan. Aku hanya diam tapi di mata mereka aku masih selalu salah.
Aku selalu menjaga perasaan mereka, tapi mereka selalu menganggapku sebagai lelucon.
Hidup memang sebuah pilihan yang sulit untuk dilalui.
Memang mukaku selalu datar tanpa senyum dibibirku. Kadang mereka memandangku orang yang sombong karena wajahku yang cuek, acuh tak acuh, sikapku pun selalu salah dihadapan mereka.
Kadang aku juga ingin sekali rasanya bersosialisasi, tapi rasanya sulit. Satu frekuensi, susah sekali dengan egoku yang keras. Keras kepalaku yang berlebihan.
Kemanapun selalu sendiri, kebebasan yang ingin aku rasakan tertahan oleh janji struktur pencitraan anak baik, kalem, pendiam, sopan santun yang sudah ditancapkan dari kecil. Dan harus diperlihatkan di manapun, selalu dipantau.
"Aku juga ingin bebas!"
"Sendiri!!!!!"
Tanpa harus bersosialisasi yang rumit dan penuh pencitraan, penuh wajah-wajah kemunafikan. Wajah-wajah yang seolah-olah suci penuh petuah.
Terimakasih sudah mampir membaca karya tulis saya 🙏🏻🤗😊😚
ini hanya sekedar ungkapan hati 🤗😊
hanya sekedar pelepas unek-unek 🙏🏻😇
jangan lupa like jempolnya ya😇