Seorang sahabat biasanya saling mengenali karakter dan kebutuhan satu sama lain, seperti persahabatan antara Ridwan dan Benjamin yang terjalin sejak kuliah hingga mereka bekerja. Demi mencari pengalaman, Ridwan terpaksa mengisi lowongan di perusahaan milik keluarga Benjamin, tentunya setelah melewati prosedur, Ridwan tidak mau aji mumpung. Prestasi yang bagus membuat kedua sahabat itu terpisah, Ridwan mendapat kepercayaan menangani anak cabang perusahaan di kota lain dan Benjamin tetap mengurus kantor pusat.
Suatu hari saat menghadiri pernikahan Ridwan, Benjamin mengungkapkan kerinduannya memiliki pasangan hidup yang serius, bukan yang mau dekat karena kekayaannya saja. Ridwan jadi ingat seorang gadis sederhana, perempuan muda yang ulet dan jujur, bekerja sebagai admin di perusahaan yang dipegangnya.
"Sepertinya aku ada calon yang pas untukmu, kapan pun kamu ada waktu, datanglah ke kantor cabang. Namanya Sekar," saran Ridwan pada sahabatnya.
***
Hai ... perkenalkan, namaku Sekar. 5 tahun lalu aku adalah seorang tenaga admin sebuah perusahaan konstruksi dan engineering yang sangat terkenal di kotaku.
Suatu hari pak Ridwan, bosku meninggalkan pesan kalau ada seorang pria bernama Benjamin, tolong dilayani dengan baik dan disuruh menunggu di ruangannya.
Jelang jam istirahat, pria bernama Benjamin itu pun datang.
"Hai, Ridwan mana?" Tanya Benjamin padaku.
"Sedang ke lokasi proyek pak. Maaf bapak siapa ya?"
"Benjamin. Kamu siapa?"
"Sekar, pak. Mari saya antar ke ruangannya pak Ridwan. Beliau sudah berpesan agar pak Benjamin menunggu di situ."
"Ok." Benjamin pun mengikutiku. Pintu ruangan pak Ridwan sengaja kubuka lebar-lebar agar aku mudah mengawasinya dari mejaku. Benar saja, lelaki itu langsung duduk di kursi pak Ridwan dan membuka-buka catatan perusahaan. Ish, lancang benar orang ini, pikirku.
"Sekar, kemari," ujar Benjamin.
"Iya, pak."
"Ini siapa yang bikin laporan dan yang memanage keuangan perusahaan ini?" Tanyanya bak bos besar.
"Maaf, saya pak."
"Oh. Bagus, bagus. Memang masih ada yang perlu dibenahi tapi aku suka cara kerjamu. Ayo, temani aku makan siang."
Ternyata Benjamin orangnya asyik juga, humoris dan tidak membosankan, selama hampir 2 bulan Benjamin menyambangi Sekar di kantornya tanpa urusan yang jelas ternyata tidak membuat pak Ridwan marah, justru selalu menyambut baik kedatangan Benjamin ke kantor cabang.
***
"Ridwan ... langsung kulamar aja gimana?" Benjamin minta pendapat sahabatnya.
"Ealah, gercep amat Ben?"
"Iya kan biar sama kayak kamu, punya istri juga."
"Hm, ya udah langsung cusss ke orangtuanya saja," Ridwan juga ingin sahabatnya cepat memiliki pendamping.
Tanpa melewati proses pacaran apalagi hubungan yang njelimet penuh drama, Benjamin menikahi Sekar 2 bulan setelah pertemuan pertama mereka.
"Sayang, mulai besok ikut mas pindah ke kota A, ya?" Ujar Benjamin usai resepsi pernikahan mereka yang dilangsungkan secara sederhana.
"Lha terus, kerjaan Sekar gimana, mas?"
"Berhenti aja, mas punya pekerjaan lebih bagus untukmu,"
"Apa itu, mas?"
"Sementara jadi admin, pengelola keuangan mas dulu, tapi nanti kalau kamu hamil dan kita punya anak, kerjaanmu jadi nambah ..." Benjamin sengaja tidak melanjutkan kata-katanya karen keburu lengannya dicubit Sekar.
***
"Wooow, rumah siapa ini mas, gede banget," puji Sekar saat mobil yang mereka tumpangi berhenti di pekarangan.
"Rumahmu sayang,"
"Eh, rumahku gimana?" Sekar tidak mengerti.
"Masuklah dulu," Benjamin mengajak istrinya ke dalam rumah. Sekar berulang kali membelalakan matanya saat melihat beberapa foto yang diambil secara candid, saat ia bekerja, saat ia dan Ben jalan-jalan bahkan saat mereka menikah kemarin.
"Astaga, kenapa jadi banyak foto kita di sini, mas?"
"Ya bebas aja, rumah kita ini, kok."
"Jadi beneran ini rumah kita?"
"Hm, tepatnya rumah kamu, sih?"
"Kok bisa?" Sekar masih tidak percaya.
"Ya, bisa aja," Benjamin terkekeh melihat keterkejutan istrinya.
"Emang mas kerja apa kok bisa beli rumah sebesar ini?" Tanya lugu Sekar membuat suaminya ingin tertawa makin keras.
"Ya kerja aja, kamu pikir kerjaanku cuma ngecek kerjaan admin manis di kantor cabang?" Timpal Benjamin.
"Benjamin suamimu ini, sebenarnya pemilik sekaligus CEO 'Semesta', yang tempat kita bekerja itu hanya anak perusahaannya," Ridwan menghampiri pasangan baru itu dan memberi penjelasan. Ridwan juga mengatakan Benjamin sengaja melakukan ini karena ingin mengenal seseorang yang tulus.
Sekar terduduk, agak sulit menerima penjelasan kalau Benjamin suaminya, pria tampan yang semula ia pikir adalah lelaki kurang kerjaan tapi disukai Sekar karena orangnya asyik dan bikin nyaman, Sekar tidak menyangka kalau kekasihnya adalah orang terkaya di kota ini.
"Sayang, kamu kenapa ... marah, ya?" Tanya Benjamin.
Ah, gimana bisa marah? Benjamin cuma tidak mengatakan semuanya, itu bukan berarti tidak jujur tapi sekarang sudah tidak ada rahasia lagi.