Sepertinya kebahagiaan tidak berpihak padaku. Kenapa aku selalu mendapatkan kegagalan dan kesedihan dalam hidupku?, Kenapa aku selalu dicaci-maki oleh ibuku. Mungkin, mereka semua tidak menginginkan aku.
Aku bagaikan ranting yang hampir jatuh tetapi tidak pernah diperhatikan oleh pohonnya. Aku rapuh saat ini. Kenapa tidak ada orang yang mau mendengarku.
Kepalaku pening memikirkan hal yang tidak perlu ku pikirkan. Aku hanyalah seorang anak yang berusia 14 tahun dan mempunyai hak untuk di sayangi dan di kasihi.
Kenapa dunia tidak menginginkan aku. Jika mereka memang tidak menginginkan aku lalu kenapa aku dilahirkan. Seharusnya biarkan aku dimati dalam posisi belum melihat dunia sekalipun.
"Malaikat pencabun nyawa yang baik hati, tolonglah cabut nyawaku" Kataku dengan airmata yang mendesak keluar.
"Bawalah aku ketempat yang layak di akhirat"
"Tolonglah supaya aku bisa keluar dari kekejaman dunia ini"
"Hai, pinkky. Apakah kamu menik mati hidup di dunia ini" Tanyaku pada boneka beruang kesayanganku.
"Andaikan saja besok aku tidak memiliki unur untuk hidup lagi"
"Pasti aku akan terlepas dari kekejaman ini"
"Pinkky, ibuku selalu memukili-ku bahkan dia rela jika aku dijual dan uangnya akan ia pakai untuk berbelanja diluaran sana"
"Entah hidup ini yang kejam atau ibuku yang terlalu kejam"
"Siapapun tolong bunuh aku" Aku teriak keluar jendela dengan keras.
"Hei, bocah" seru ibuku.
"Kau tidak perlu meneriaki orang dan minta tolong untuk membunuhmu"
"Dengan cepat aku bisa membunuhmu"
Aku menangis karena mendengar tutur kata ibuku yang sangat rela untuk kehilanganku. Apa yang ditahan lagi?, Apa yang dipertahankan lagi?, Apa yang disayangi lagi?
"Baiklah, bu. Cepat bunuh aku" Kataku sembari menyodorkan pisau dapur.
"Anak pintar" Ucap ibuku yang mencetak senyum kemenangan di bibirnya.
"Bunuh aku, aku mohon" Ucapku semakin terisak.
Dadaku ditusuk oleh ibuku, perutku, bahkan mataku ditusuk olehnya, hingga aku dinyatakan tidak bernyawa. Lalu ibuku melapor pada polisi bahwa anaknya telah dibunuh, sungguh licik.
Dari 7 bulan lamanya pelacakan dilakukan akhirnya polisi menemukan pelaku yang sesungguhnya. Yaitu, ibuku.
Aku bisa pergi dengan tenang. Terimakasih atas penyiksaanmu terhadapku, bu. Aku bangga mempunyai ibu sepertimu walaupun dirimulah yang membunuhku.