DISARANKAN MEMUTAR LAGU: "AKU MAU".
Selamat menikmati, untuk kamu yang tidak pernah dicintai orang yang kamu cintai.
"Kenapa? Apa se-menjijikan itu gue dimata lo?".
Ajizah memandang lelaki di depan-nya dengan mata berkaca-kaca. Ingin menangis, tapi ia tidak mau terlihat lemah.
"Percuma, jangan kejar-kejar saya lagi, seberapa sering-pun kamu mengejar, saya akan tetap berlari".
Ferri, lelaki yang berdiri menjulang di hadapan ajizah berkata dengan tenang. Ia menatap dingin gadis berambut panjang di depan-nya.
Cinta tidak bisa dipaksakan.
Ada secuil rasa kasihan saat melihat mata ajizah yang berkaca-kaca, tapi ferri tidak bisa. Ia tidak mencintai nya.
"Gue cinta sama lo! Mau sampe kapan-pun, gue percaya suatu saat pasti lo bakal ngebales perasaan gue, lo hanya tinggal terbiasa dengan keberadaan gue". Ajizah berkata lirih.
"Sesuatu yang dipaksakan akan berakhir mengenaskan, zah". Setelah mengatakan itu, ferri melenggang pergi meninggalkan ajizah sendiri.
Ajizah memandang punggung tegap yang perlahan mulai menjauh dari pandangan-nya.
Luruh sudah pertahanan-nya. Ia menangis tanpa suara, tidak ingin satu orang-pun tau kelemahan-nya. Ajizah yang angkuh, si nenek lampir, bucin nya ferri, membully semua gadis yang berani mendekati ferri-nya.
Sekarang, gadis itu tidak ada. Hanya ada gadis rapuh yang merasa dunia tidak adil padanya.
Ditinggalkan...
Ditolak...
Dihina...
"Dasar nenek lampir! Emang lo fikir dengan lo pura-pura penyakitan ferri bakal iba sama lo? Dia bakal langsung cinta sama lo, gitu? ENGGAK! Temen gue juga punya otak kali".
"Dasar anak manja! Emang lo fikir semua bakal nurutin kemauan lo gitu?".
"Enek gue liat dia".
"Dasar bicth!".
"Eh gyus, lo tau gak semalem gue liat si jalang ajizah jalan sama om-om ke hotel!".
Hujan turun dengan derasnya, seakan ingin membantu gadis yang sedang bersimpuh itu menutupi tangis-nya.
Mencengkram dadanya dengan kuat, ia tidak sanggup, seolah dunia mempermainkan nya. Apa salah nya dengan mencintai? Dan berjuang agar yang dicintai juga balik mencintai.
Lima tahun...
Bukan waktu yang singkat untuk seseorang mencintai.
Lima tahun...
Tak pernah ada tanggapan, selalu dianggap pengganggu.
"Pergi lo bicth!".
"Saya gak akan pernah suka sama kamu!"
"Berhenti berharap!".
"Kamu fikir kalo kamu bayar dokter disini, buat bilang kalo kamu sakit, saya akan perduli? Saya tau itu akal- akalan kamu aja!".
Mengapa sesakit ini?...
"Percuma muka cantik kalo dipake buat ngejalang".
"Kenapa lo muntah-muntah? Lagi isi ya? Wajar sih dicelup sana dicelup sini sih".
Hanya ingin terlihat baik-baik saja...
Ia hanya ingin terlihat baik-baik saja...
Selalu begitu...
Membuktikan bahwa ia kuat, ia hidup dengan bahagia.
"Gak tau malu, udah di tolak berkali-kali tetep aja kekeuh nempel-nempel ferri".
Katanya, seseorang akan dihargai dan balik dicintai jika ia menghilang? Apakah begitu? Apa harus ia menghilang agar dunia termasuk ferri-nya mencintai-nya?.
Menghilang agar kedua orang tua-nya perduli akan kehadiran-nya?.
"Kapan lo cinta sama gue?".
"Gak akan pernah!".
Ajizah tertawa sumbang di antara tangis nya.
"Kenapa saya harus dikasih anak kayak kamu?! Anak gak berguna!".
Ayah...
"Mama sibuk! Kamu main sendiri aja sana".
Mama...
"Sikap kamu yang seperti ini yang buat saya jijik sama kamu! Berhenti koar-koar ke orang-orang kalo saya pacar kamu!".
"Lo boleh jauhin gue, tapi gue percaya suatu saat lo bakal jatuh cinta sama gue dan gak bakal ngelepas gue".
"Gak akan pernah ada yang nama-nya suatu saat , ajizah. Gak akan pernah ada. Berhenti mencintai saya, kamu tau saja gak akan pernah bisa balas perasaan kamu...".
Berhenti? Bisakah ia berhenti mencintai?
Bisakah?
"Kamu leukimia ajizah, berhenti keras kepala ayo ikut saya ke singapur, disana kamu bisa mendapatkan pengobatan terbaik".
"Gak baik anak gadis duduk di tengah hujan kayak gini". Seseorang berteriak, seolah ingin mengalahkan suara derasnya hujan.
Ajizah bergeming, hujan tidak lagi membasahi dirinya, seolah ada sesuatu yang menghalangi turun-nya hujan.
Ia mendongkak.
"Mau sampe kapan nangis terus kayak gini?".
Gadis itu menutup mulutnya dengan telapak tangan. Lekas berdiri, menghambur ke pelukan lelaki yang memayungi dirinya.
Sekali lagi, tangis nya pecah. Dipelukan nya ia bersandar, tanpa kata mencurahkan segala isi hatinya.
"Jangan menangis, ada kakak disini..."
"Kakak pulang buat kamu".
Lelaki itu memeluk adik-nya dengan satu tangan dan tangan lain meemegang payung putih transparan.
Disela isak tangis-nya, ajizah berkata."Kakak pulang".
"Ayo pergi, ketempat yang jauh, dimana gak ada seorang-pun yang bakal nyakitin kamu".
-TAMAT-