Berbicara tentang Pintu Tiga tentunya tak lazim lagi di telinga orang-orang Jakarta Barat, karena di situlah tempat terjadinya berbagai problem, baik itu pembunuhan, perampokan, pembegalan, penculikan dan berbagai masalah lainnya, jadi waspadalah sebelum terlambat menjadi korban. Baru-baru ini, kurang lebih seminggu yang lalu, warga di hebohkan dengan adanya penampakan tiga orang Pria, yang bertubuh besar, kekar, serta badan mereka berlumuran darah.
Aku yang baru dua hari menempati rumah Pak Rian sebagai security di situ, mula-mulanya aku tak percaya sama sekali dengan dongen itu, sebab bagiku itu hanyalah hoaks masyarakat setempat untuk menakut-nakuti pemilik pabrik Dweys Lois, agar sesegera mungkin ditutup, karena aktivitsas di situ sangat menggagu ketenangan masyarakat sekitar.
Letak rumah Pak Rian sangat strategis, sebab tepatnya di depan tepatnya sebrang jalan itulah Pintu Tiga, di sebelah kiri lorong masuknya kurang lebih lima meter dari situ pabrik Dweis Lois berada, sedangkan di sebelah kanan pingggir jalan, terdapat pohon Beringin yang sangat tinggi dan rindang.
Konon katanya, Pintu Tiga ialah tempat keluar-masuknya orang-orang yang ingin lewat di situ, [“Hehehehe ... aku jadi tertawa sendiri nih, 😁😁bantuiin dong,] lebih tepatnya, tempat keluar masuknya makluk Akstral.
Aku sebagai orang baru di situ pengen rasanya jadi detektif, alias magang atau gelantungan di pohon ketika malam tiba. Keingin tahuanku menjadi-jadi, ketika mendengar penjelasan dari Pak Fendrian, teman sepangkat yang telah mengabdikan dirinya kepada Pak Rian kurang lebih tiga setengah tahun.
××××××
Pagi-pagi buta benar, merdu suara adzan menyapaku bangkit dari mati, [Padahal masih hidup, Iya,]
Seperti biasanya, aku langsung ke dapur menyeduhkan kopi. Setelah itu kuambilkan rokok yang tergeletak di meja ruang tamu dan langsung bergegas ke depan teras rumah.
Suara Jengkrik dan gemercak air dari genteng rumah menyiratkan alunan musik yang indah. Sendayuku waktu itu tak tertikara besarnya, namun seketika semuanya lenyap, bersmaan dengan munculnya dua Pria dan seorang wanita.
Pandanganku tertuju melihat gegabahnya mereka. “Ah, apakah itu -,” gumanku terhenti, terhalang oleh cerita Pak Fendrian, karena benar apa yang dikatakannya. Kkedua Pria itu belumuran darah, sedangkan tangan dari Perempuan itu terikat, di sampingnya, ada seorang bocah hendak menyusui.
Kedua Pria itu terlihat sangat geram. Parasnya bagaikan besi, tidak mepan jikalau di tonjok. “Mungkin dengan balok ini, aku bisa membebaskannya,” gumanku seraya berjalan menghampiri mereka demi membebaskan gadis itu.
Ketika aku hendak menyebrangi jalan, pandangan kupun terpele, dengan hadirnya ribuan waraga yang bergelantungan di dinding pabri Dweis Lois.
“Ayo... serang! Teriak salah satu waraga dari tengah-tengah mereka. Semua orang yang tak aku kenal itupun berlarian menghampiri kedua Pria itu. Tapi anehnya yang mereka bawa bukanlah pedang, melainkan sendok nasi, piring, gayung, dan ada pula yang membawa kwali.
Aku diam sesaat memandangi mereka yang begitu antusias melawan kedua pria itu.
[Gubrak] Seketika listrik padam hingga keadaan disekitar aku sedikit gelap hingga keadaan disekitarnya sangat sunyi hingga membuat aku ketakutan.
"Wah... Kemanakah perginya ribuan warga itu?" tanyaku sembari mencari arah jalan pulang.
“Aduh ... Mama sayang he... Ada-ada aja dongen warga buat kupun terhasut,” Batin kupun tertawa terbirit-birit melihat kejadian kejadian memikirkan kejadian itu.
[Aduh... Aku jadi takut, awas ada yang gelantungan]🙄🙄😎😎😎