Malam yang gelap dan sunyi, bukan berarti kita sendirian.
Aku membuka perlahan mataku. Sekilas semua tampak gelap. Cahaya bulan di malam hari, perlahan masuk dari jendela. Aku terkejut mendapati ada 2 mayat berada di depanku bermandikan darah yang membasahi lantai. Seketika aku terdiam. "Si-siapa yang tega melakukan ini." Aku menutup mulutku, dengan tatapan yang masih kaget. Perlahan-lahan, aku membuka pintu kamarku. Semuanya terlihat termakan dalam kegelapan.
Aku menuruni tangga yang langsung membawaku ke depan pintu keluar. Aku mencoba membuka pintu. Namun sebelum menggapai gagang pintu itu, terdengar langkah berat dan sesuatu yang di seret. "Ke~ Te~ Mu~" Ketemu. Itu lah kata yang aku dengar. Saat aku kembalikan badan, kulihat seorang gadis menatapku dengan tatapan yang menakutkan. Matanya terlihat hitam. Tidak ada sama sekali warna lain dalam matanya. Matanya bagaikan sebuah lubang tanpa dasar. Lamunan ku pecah, saat gadis itu tiba-tiba mengangkat sebuah sabit besar yang langsung mengarah padaku. Secara refleks aku segera kabur ke ruangan sebelah.
"Apa-apaan ini? Kenapa... Kenapa... Kenapa dia mirip iblis?!" Ucap ku dengan nada yang tidak beraturan. Aku menyadari langkah ku berhenti karena aku mencium bau gas. "Dapur?" Belum sempat aku kabur. Namun gadis itu telah menemukan ku. Aku tak bisa berpikir. Aku panik. Sangat-sangat panik! "Bisa kita berhenti berlari? Aku mau kepalamu. Itu saja kok." Ucap gadis itu, sambil meletakan sabit di lehernya seolah memberi contoh bagaimana aku akan berakhir. Aku tak pikir panjang lagi. Aku segera menyalakan kompor di belakang.
BOOM!!
Seketika semuanya terbakar. Gadis itu juga terlihat terbakar. Aku memanfaatkan hal itu dan kabur. Aku kembali berlari ke ruangan yang ada di atas. Kali ini malah berakhir di kamar mandi. "Hahaha~ Makin seru!" Tawa gadis itu bagaikan tawa iblis. Aku segera menyalakan semua air yang ada, lalu menaruh kabel yang sedang terpasang di dinding lalu sembunyi di ruangan sebelah. Sesuai dugaan. Dia masuk ke kamar mandi. "AKHHHH!!!!~" Dia menjerit. Seketika aku berlari lagi. Tapi kali ini berbeda.
Saat sadar aku berlari kemana, semuanya terlanjur salah. Pintu kamarku perlahan terbuka. Tanpa sadar aku berjalan masuk.
"Wah~ Wah~ Sepertinya ini adalah akhir dari permainan kita" Ucap sang gadis dengan nada seolah sedang tertawa. Entah apa yang terjadi, tubuhku tiba-tiba bergerak. Tanpa sadar.....
.
.
.
.
Aku ternyata telah memegang senapan di tangan kanan ku lalu lalu pisau di tangan kiriku. "Hahaha!!!~ Apa yang bisa kau lakukan dengan senapan itu!!" Dia menertawaiku.
BANG!!!
Sebuah peluru lepas bagitu saja, tepat mengenai dada gadis itu. "Ugh." Rintih gadis itu. "Ha. Haha~ Hahaha~ HAHAHAHAHHA!!!~" Akhirnya kau menunjukan sifat aslimu! Sangat luar bisa. Hahaha!!!~" Tawa gadis itu makin tidak beraturan. "Ribut. Diam!"
BANG!! BANG!! BANG!!!
Lagi-lagi peluru keluar. Peluru terus aku tembakan ke arah gadis itu. Darah gadis itu makin banyak yang keluar. Lebih. Lebih. Dan lebih. Entah mengapa... Itu sangat.... Sangat... Sangat menyenangkan. "Ha. Haha~" Aku tertawa dengan nada lemah. Kuhentikan tembakan ku, lalu mulai menusuk gadis itu dari berbagai arah. Darah nya membasahi seluruh lantai.
"HA~ HAHA~ HAHAHA~ HAHAHAHAHAHAHAHAHAHHA!!!!!!!!~"
Tawa ku pecah dan makin lama makin tidak terkontrol.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
PRAK!
Lampu kamarku terjatuh. Membalikan aku
.
.
.
.
.
.
.
.
Kepada realita.
Kutatap sekali lagi apa yang dihadapnku. Kali ini, aku rasanya hampir memuntahkan seluruh oragn dalam ku. Ternyata gadis yang aku bunuh
.
.
.
Adalah orang tua ku sendiri.
Aku rasanya mau berteriak. Tapi tidak ada suara yang mau keluar. Suaralu rasanya menghilang. Air mataku juga bagai mengering. Terdengar pintu kamar ku terbuka perlahan.
Gadis yang tadi ku kira hanya lah khayalan.... Sekarang malah berdiri di depan pintu kamarku. Aku tidak bisa mengangkat badanku. Badan ku terduduk lemas tidak mau bergerak. Gadis itu perlahan menghilang. Namun sebelum menghilang, aku mendengar ia mengalahkan sesuatu.
"Jangan selalu percaya pada apa yang kau lihat. Khayalanmu yang selama telah membuat dirimu terkenal, telah menyeretmu pada jalan yang salah. Memiliki Khayalan yang besar dan dapat memanfaatkannya dengan baik, memanglah hal yang bagus. Namun... Jangan pernah lupa pada kehidupan mu yang sebenarnya."