"Seorang gadis remaja bernama Caseline Dormeu menghilang tiba-tiba sejak tiga hari lalu. Satu-satunya petunjuk yang ditemukan adalah setangkai bunga mawar berwarna merah darah di tempat yang diperkirakan tempat gadis itu menghilang.
Kabarnya, kasus hilangnya gadis remaja ini sama seperti 49 kasus sebelumnya--"
Aku mematikan radio yang terdengar melalui headset di telingaku.
Hampir setiap hari, berita yang ditayangkan adalah berita hilangnya gadis remaja--ah, tidak. Mungkin lebih tepatnya 'gadis perawan'. Kota Ancient semakin suram semenjak kasus yang mulai muncul selama kurang lebih 6 bulan 6 minggu dan 6 hari ini menyebar di kalangan warga.
Setiap beberapa hari sekali, seorang gadis perawan menghilang secara tiba-tiba. Awalnya, kasus ini tidak menunjukkan adanya tanda-tanda penculikan dan pembunuhan. Namun hingga kini, korban pertama dan korban selanjutnya tak kunjung ketemu. Selain itu, beberapa hari setelah korban pertama menghilang, muncul sebuah petunjuk yang kemudian menjadi ciri khas kasus ini.
Setangkai bunga mawar berwarna merah darah ditemukan di tempat yang diduga menjadi tempat korban menghilang. Selain itu, di samping bunga mawar, ditemukan sebuah kode dengan bercak merah yang diperkirakan darah korban. Selama tujuh bulan semenjak kasus ini terjadi, baru sekarang kode tersebut dapat dipecahkan.
'Aima Rosis', yang artinya mawar darah.
Entah apa maksud dari dua kata itu. Warga kota Ancient berasumsi bahwa Aima Rosis adalah nama dari si pelaku.
Aku menyalakan headset-ku kembali dan mendengar berita.
"Kami sudah melakukan usaha yang terbaik dalam kasus ini. Memang untuk saat ini Aima Rosis belum terungkap. Namun, kami akan terus melakukan yang terbaik untuk memecahkan kasus ini. Anda sekalian tidak perlu panik karena--"
Aku mematikan kembali headset-ku. Sungguh berita yang tidak bermutu. Melakukan usaha yang terbaik dan melindungi warga kota, katanya?
Ibu walikota Aimer memang suka berbicara omong kosong.
Ngomong-ngomong, kasus ini sering disangkutpautkan dengan kasus Elizabeth Bathory, seorang pembunuh berantai wanita yang terkenal pada abad ke-16.
Kabarnya, gadis perawan yang hilang akan disiksa dan dibunuh, kemudian darahnya dijadikan air mandi oleh Aima Rosis agar ia tetap cantik abadi.
Kabar itu memang belum jelas kebenarannya karena sampai saat ini, belum ada korban hilang yang kembali lagi.
Namun satu hal yang pasti, hal itu memang benar adanya. Aku dan Caseline, sahabatku, adalah saksi bisu atas semua kejadian ini.
Jauh berjalan di malam yang larut, akhirnya aku sampai di sebuah mansion lalu masuk ke dalamnya.
Kakiku melangkah ke suatu ruangan. Begitu aku masuk ke dalam ruangan itu, bau anyir yang menusuk indra penciuman menyambutku.
Di sana, terdapat sebuah bak mandi yang airnya berwarna merah. Di atasnya mengambang beberapa tangkai bunga mawar merah sebagai hiasan.
"Apa semuanya sudah selesai, Sayang?" tanya seorang wanita berkepala empat yang berdiri di depan bak mandi.
Aku mengangguk lemah. Kutatap mayat Caseline dan beberapa mayat lainnya yang sudah tidak terbentuk lagi tak jauh dari tempatku berdiri.
"Kalau begitu, tinggal langkah terakhir. Maukah kamu berkorban untuk Mama, Rosella de Aimer?"
Sekali lagi, aku mengangguk. Kakiku melangkah mendekati wanita itu.
"Bagus, Rosella. Mama semakin sayang padamu," kata Ibu Walikota Aimer--yang tak lain adalah ibuku--sembari mengelus-elus puncuk kepalaku lembut.
Namun, detik berikutnya, mataku terbelalak. Tubuhku tumbang disertai pandangan yang menggelap kala sebuah benda tajam tertancap di dadaku.