Sebelum membaca cerita ini, pastikan kalian belum pernah menulis cerita horor atau sedang menulis cerita bergenre horor, mengapa demikian? Karena aku baru kali ini menulis cerita horor takutnya bukan jadi horor malah humor. Hehei! Enggak lucu. -_-
Bodo.
Okey langsung saja, kebanyakan bacot bisa kena kick!
****
Seperti sore-sore sebelumnya, setiap pulang sekolah kusempatkan mampir di perpustakaan umum yang ada di kotaku. Di Tempat ini kita bisa lebih leluasa dalam berimajinasi, menulis kata demi kata hingga berkesinambungan menjadi sebuah cerita yang menarik.
Aku sangat senang menulis cerita bergenre horor, makanya lebih suka tempat hening dan mencekam seperti perpustakaan ini, sekali saja angkat suara yang tidak penting akan dikenakan denda lima ribu rupiah oleh tante Durjana petugas perpustakaan. Untuk anak sekolahan yang uang jajannya hanya dua ribuan, situasi ini sangat horor.
Dari raut wajah tante Durjana yang datar dan kadang bulat itu, membuat otakku bekerja sepuluh kali lipat menghasilkan ide brilian. Kalau saja novel yang kugarap ini berhasil rampung, maka tante Durjana adalah yang akan kuberikan hadiah.
Berbeda dengan menulis di rumah, ketika memasuki paragraf pertama, ceritanya mulai horor, hingga memasuki paragraf ke dua menjadi sangat horor, aku tak kuasa meneruskannya, sebab tangis ibuku yang telah meninggal dunia setahun lalu, menyeruak hingga lapisan terdalam kupingku.
"Woy!"
"Eh pocong copot... pocong copot!" Aku terperanjat dengan sapaan barusan.
"Kamu kok ninggalin aku? Tadi kan udah janjian!" keluh wanita berambut lurus dan kutuan.
"Sorry, Ra! Aku lupa... jiwa writing-ku sudah meronta-ronta makanya buru-buru ke sini!" Kuubah posisi duduk menghadap Rara.
"Eleh, lebay lu!" ejek Rara padaku.
"Woy, kalian berdua, kemari...!" teriak wanita berbadan subur dari meja kerjanya.
"Lu, sih Ra...!"
"Lah, kenape gue? Kita berdua, lah!" Rara membela diri.
Dengan berat hati kami berjalan menemui tante Durjana. Dari kejauhan mata melototnya sudah terlihat.
"Kalian sudah tahu kan, peraturan perpustakaan ini? Ayo, bayar sepuluh rebo!" suara melengking wanita paruh baya dan juga jomblo ini seperti menusuk hatiku.
"Aku tak punya uang, Tante! Ibuku meninggal setahun yang lalu, ayahku juga sudah meninggal seminggu yang lalu!" tandasku sambil mengelus-ngelus dada.
"Aku hanya punya seribu tante, bagaimana kalau kami bayar DP-nya dulu? Aku limaratus, Digo limaratus," tawar Rara dengan wajah memelas.
"Baiklah, dengan catatan... kalian tidak boleh bicara satu kata pun, itu sangat mengganggu pengunjung di sini!" tegas tante Durjana. Padahal ia sendiri tak sadar, suaranya yang menggelegar itu terdengar hingga ke luar perpustakaan.
Setelah setuju, kami pun kembali ke meja baca. Tentunya tak berani bercakap-cakap lagi. Aku fokus menulis cerita horor di Smartphone-ku yang tinggal satu bab lagi akan kutamatkan. Rara sibuk membaca buku.
Satu jam kemudian, dengan berbahasa isyarat aku dan Rara berencana untuk pulang. Karena lengkung langit sudah tampak kemilau.
****
Di rumah sederhana berdinding papan dan beratap rumbia ini aku tinggal sebatang kara, biaya hidup dan sekolah kudapat dari hasil royalti penjualan novel juga beasiswa tidak mampu.
Dari depan pintu kupandangi angkasa bertabur bintang, seakan tersenyum mengajakku pacaran, nasib jomblo memang miris. Semilir angin malam sesekali menggerakkan ranting pohon mangga di halaman depan. Samar-samar kulihat sepasang kaki berayun di sana. Tanpa berpikir dua kali, aku segera masuk dan mengunci pintu rapat-rapat.
Di dalam rumah yang berukuran lima kali lima dengan dua kamar kecil, hanya diterangi lampu kaleng dengan nyalanya meliuk-liuk aku duduk termenung memeluk lutut.
"Sepertinya aku harus menyudahi menulis cerita horor! Hidupku tidak tenang, dihantui terus menerus."
'Gubrak...!'
Suara jendela terbuka, gordennya tersibak. Suasana yang dingin keringatku malah bercucuran, telapak tangan rasanya berair.
Tanpa pikir panjang lagi aku segera ke dapur mengambil pisau dan berlari ke luar.
****
Hari ini kotaku berduka, tante Durjana penjaga perpustakaan meninggal dunia dengan luka robek di bagian perut. Aku dan Rara pergi untuk melayat, tak lupa kubawakan hadiah sebuah karangan bunga yang kubuat sendiri untuk tante Durjanna, sebagai imbalan telah menjadi tokoh utama dalam cerita hororku yang berjudul 'Perpustakaan Berhantu' menambah koleksi dua bukuku yang berjudul 'Darah Ibu yang Segar' dan 'Kematian Terindah untuk Ayah'.
End.