MISTERI DESA GETIH

MISTERI DESA GETIH

Awal

Alawiyah baru saja turun dari taxi yang ditumpanginya. Mobil itu tak dapat membawanya ke desa tujuan, dengan alasan yang cukup membuat ia merasa sangat nelangsa.

"Tolonglah, Kang. Antarkan saya sampai ke Desa Getih. Saya tidak mungkin naik ojek. Ongkosnya saya tambahi lagi, dua kali lipat." Alawiyah mencoba memaksa sang sopir taksi online untuk mengantarkannya.

Wajahnya sudah cukup kelelahan, dan hal itu disebabkan karena perjalanan yang cukup jauh, dan ditambah lagi dengan kondisinya yang hamil besar.

Perutnya terasa begah, dan pinggangnya terasa panas, ditambah lagi pergerakan aktif sang janin yang tak mau diam, seolah tak sabar ingin segera melihat dunia.

"Maaf, Mbak. Bukan saya tidak mau, tetapi desa Getih yang Mbak sebutkan itu tidak terbaca oleh maps, dan itu artinya tidak ada terdata di administratif pemerintahan Jawa Timur." sahut sang Sopir menjelaskan.

Pria itu berulangkali mengetik nama desa yang disebutkan oleh Alawiyah, tetapi hasilnya tetap sama saja, tidak terbaca.

"Gak terdata gimana—sih, Kang?" Alawiyah mengerutkan keningnya, sebab ia tidak mungkin salah, karena suaminya pernah mengatakan dirinya berasal dari Desa Getih, dilereng gunung Kawi—tepatnya.

Ia menganggap jika sopir taksi itu hanya mencari alasan saja, dan tidak memiliki empati pada wanita hamil sepertinya.

"Maaf, Mbak. Saya gak bisa antar sampai kesana, cari saja ojek." tolak sang sopir dengan yang tak kalah bersikeras.

"Sudahlah, Kang. tidak ada gunanya juga berdebat," Alawiyah akhirnya mengalah, lalu menyerahkan uang tagihan dari jasa yang sudah digunakannya.

Sejujurnya, hatinya sangat nelangsa. Sebab ia tidak tahu benar dimana alamat Bayu—suaminya. Tetapi yang ia ingat, hanya nama 'Desa Getih' yang disebutkan oleh suaminya.

Taaak

Pintu mobil ditutup. Alawiyah mengambil koper berisi pakaian yang tidak begitu terlalu banyak.

Tangannya yang tampak kurus, menyeret koper dengan cepat, lalu berdiri mematung menatap rimbunan pohon yang berbaris dijalanan.

Sesekali ia menarik nafasnya yang terasa sangat sesak.

"Ya, Allah, semoga aku bisa menemukan Mas Bayu," ucapnya lirih. Ia hanya punya harapan, meskipun begitu sangat kecil.

"Kita cari bapakmu—ya, Nak." Alawiyah mengusap perutnya yang membuncit, dan calon bayinya bereaksi kecil, memberikan tendangan, sebagai jawaban dari interaksi mereka..

Ia masih mengingat saat tiga bulan yang lalu, Bayu—Suaminya berpamitan pulang ke kampung halaman, dan janji akan kembali lagi karena ingin mencari biaya untuk persalinannya.

"Dik, Mas balik kampung dulu, mau cari uang buat biaya kelahiran anak kita," suara Bayu terdengar penuh meyakinkan.

Hal itu membut Alawiyah merasa pasrah, meskipun tak rela melepaskannya, ada perasaan berat mengganjal dihatinya.

"Aku ikut kamu, Mas. Aku tidak mau kalau kamu tinggal," Alawiyah memohon agar dibawa serta. Tetapi Bayu tampak berubah rona wjahnya, seperti ada sesutu yang sedang disembunyikannya.

"Jangan, kamu disini saja. Mas janji—jika uangnya sudah terkumpul, Mas akan segera kembali, dan kita tinggal disini selamanya, bersama-sama,"

Bayu tampak gelisah, tatapannya seperti menerawang, membuat hati Alawiyah semakin tak tenang.

"Aku seperti ragu melepaskanmu. Dimana desa kamu sebenarnya, Mas?" kali ini, Alawiyah mendesak suaminya. Sebab pria itu selalu saja mengalihkan pembicaraan, setiap kali ia bertanya dimana desa tempat tinggal suaminya.

Bayu mengamit pundak istrinya, lalu mengusapnya dengan lembut.

"Desa Getih, tepatnya dilereng Gunung Kawi,"

Wajah pria itu terlihat sangat jujur, dan mustahil jika menipunya.

Akan tetapi, sudah tiga bulan lamanya, dan kelahiran putera mereka sudah mendekati sebulan lagi perkiraan dari Dokter, tetapi tak ada kabar yang didapatnya.

Setelah kepergian Bayu yang tak juga kunjung kembali, membuat ia mengambil keputusan, meskipun harus ditentang oleh keluarganya.

"Wiyah, kamu beneran mau nyusul Bayu ke Gunung Kawi?" tanya Rahayu seminggu yang lalu, sebelum Alawiyah memutuskan untuk pergi. Beliau adalah bibinya, sebab ia sudah yatim piatu.

"Iya, Bi. Bentar lagi aku mau lahiran, gak mungkin aku terus menunggu tanpa kepastian, aku harus menyusul Mas Bayu," ia bersikeras dengan keinginannya.

Rahayu merasa iba melihat sang keponakan. Hidupnya terus saja dirundung duka, dimana kedua orangtuanya sudah meninggal dunia, dan kini suami yang ia jadikan sandaran hati juga pergi meninggalkannya tanpa kabar.

"Bibi gak merasa direpotkan kalau kamu melahirkan tanpa Bayu. Tapi kalau kamu harus ke lereng Gunung Kawi, bibi merasa berat melepaskanmu,"

Rahayu sangat khawatir. Ia berharap jika Alawiyah mengurungkan niatnya, sebab bagaimanapun, Alawiyah adalah satu-satunya saudara yang ia punya.

"Jangan takut, Bi. Aku bisa jaga diri." sangkal Alawiyah, mencoba meyakinkan wanita yang selama ini sudah mengasuhnya sedari kedua orangtuanya meninggal dunia.

"Terserah kamu saja, tapi jika kamu menemui masalah, kembali lah ke rumah ini, Bibi siap menerimamu," wanita itu menawarkan sebuah ketulusan yang tak dapat dinilai oleh apapun.

"Mbak, mau ojek!" seru seorang pria yang membuyarkan lamunan Alawiyah.

"Hah!" Alawiyah tersentak kaget. Lalu mengulas senyum ramah. "Iya, Kang. Saya mau ke Desa Getih, kira-kira berapa ongkosnya?" ia langsung menanggapinya. Sebab melihat hari semakin sore, ia sangat takut kemalaman.

Pria yang menggunakan topi berwarna hitam itu terdiam sejenak. Lalu menatap sang wanita, dan pandangannya berhenti pada perut Alawiyah yang sudah membuncit sangat besar.

"Serius mau ke sana? Gak takut? Apalagi mbaknya sedang hamil begini, loh?" pria itu tampak ragu dengan apa yang dikatakan oleh calon penumpangnya.

Bahkan ia melupakan harga ongkos yang ditanya oleh sang wanita barusan.

Ia menelisik wajah Alawiyah yang sangat kelelahan, dan sedikit merasa iba.

"Iya, Kang. Saya mau nemui suami saya. Memangnya ada apa—ya, Kang?" tanya Alawiyah dengan rasa penasaran.

Pria itu tampak sedang berfikir keras untuk menjawab pertanyaan dari calon penumpangnya. "Mbak. Desa itu terisolasi, gak ada yang mau kesana, baiknya mbak batalin saja, deh." pria itu mencoba mengingatkan.

Ia berharap jika Alawiyah kembali berfikir ulang, lalu membatalkan niatnya.

"Gak bisa, Kang. Saya harus ketemu suami saya, perasaan saya gak enak." Alawiyah bersikeras dengan apa yang akan dilakukannya.

Pria itu menarik nafasnya dengan berat. "Tapi ingat pesan saya, saat disana nanti, jangan banyak tanya dengan warganya, kalau ada yang tanya nama kamu, jangan pernah beritahu yang asli dan juga jangan lupa baca doa," pesannya pada sang wanita.

Alawiyah semakin merasakan hal yang sangat janggal, dan hatinya tak tenang. Tetapi ia semakin merasa penasaran, dan ingin mencari tahu, apa yang membuat desa itu sangat begitu misteri.

"Sudah, saya antar, nanti keburu malam." pria itu memberikan helm kepada Alawiyah yang masih tampak berfikir.

 "Dipakai, Mbak." ia mengingatkan kembali, dan tak ingin membuat calon penumpangnya banyak tanya. Kemudian bersiap untuk membawa wanita itu ketujuannya.

Alawiyah meraihnya, lalu mengenakan helm tersebut.

Sepanjang perjalanan, Alawiyah merasakan seperti sebuah bisikan-bisikan yang samar, dimana memintanya untuk membatalkan perjalanan dan ada juga bisikan yang memintanya untuk meneruskan niatnya.

Semua itu, membuatnya semakin gelisah yang bercampur rasa penasaran.

Jalanan yang berbatu, membuat ia memegangi perutnya terguncang, menahannya agar tidak mengalami masalah yang serius pada janinnya.

"Masih lama, Kang?" tanya Alawiyah, rasanya ia sudah tidak lagi sanggup berada diatas kendaraan bermotor, rasa mual dan keram menjadi satu.

"Kan—sudah saya katakan, jangan pergi, tapi—Mbaknya tetap memaksa," pria itu menanggapinya dengan dingin.

"—Tapi, Kang. Saya—" Alawiyah menghentikan ucapannya, saat melihat pemandangan yang tak biasa.

Terpopuler

Comments

Handoko

Handoko

dulu sebelum menikah bagaimana ? apakah tidak pernah diajak berkunjung ke desa asal suami ?

2026-06-29

0

Handoko

Handoko

kalimat "apa yang membuat desa itu sangat begitu misteri", bisa diganti dengan kalimat "apa yang membuat desa itu begitu misterius."

2026-06-29

0

falea sezi

falea sezi

bloon uda tau hamil gede malah kelayapan klo suami mu g plg ya cari suami baru😒 gt aja repot amat

2026-06-11

0

lihat semua
Episodes
1 Awal
2 Penampakan
3 Mbok Ratih
4 Novita
5 Sentuhan
6 Sentuhan-2
7 Sikap Misterius
8 Sosok
9 Wajah Pucat
10 Merasa Heran
11 Desa Tanpa Suara Adzan
12 Di Geruduk
13 Tatapan Novita
14 Hantaran
15 Hantaran-2
16 Tragedi Mangga
17 Rundingan
18 Jasad Ratna
19 Jasad Ratna—2
20 Jasad Ratna—3
21 Sosok Itu
22 Membenci
23 Tawaran
24 Juminten
25 Menyapa
26 Tejo
27 Air Mata Tejo
28 Bertemu
29 Bau
30 Suara Tangisnya
31 Aroma Mencurigakan
32 Perlawanan
33 Panci
34 Suitan
35 Sesuatu
36 Pertemuan
37 Pertemuan—2
38 Pertemuan—3
39 Jasad Gina dan Juminten
40 Rini
41 Rini—2
42 Tumbal
43 Jejak
44 Jejak—2
45 Jiwa Hana
46 Jiwa Hana
47 Barter
48 Kaget
49 Dendam Ki Priyono
50 Draft
51 Pilihan Jono
52 Dzikir Mengguncang Getih
53 Demo
54 Juragan Tresno
55 Fitnah
56 Rapat Darurat
57 Kegaduhan
58 May Day di Kediaman Ki Priyono
59 Wadah
60 Fitnah
61 Fitnah—2
62 Fitnah—3
63 Fitnah—4
64 Balasan
65 Balasan—2
66 Tujuh Panggung Demit
67 Nawang Wulan
68 Perang Bathin Bagas
69 Bagas—2
70 Malam
71 Subuh Di Rumah Ratih
72 Linda
73 Linda—2
74 Menyerang
75 Serangan—2
76 Linda—4
77 Keresahan
78 Panik
79 Kepanikan
80 Kepanikan—2
81 Kepanikan —3
82 Chaos Di Bukit Angker
83 Nyai Kembang Murka
84 Pimpinan Baru
85 Menyerang Linda
86 Perjuangan Nawang Wulan
87 Perjuangan Nawang Wulan-2
88 Serangan Di Rumah Bayu
89 Terpecah Belah
90 Akibat Pemutusan
91 Paduka Pocong
92 Malam Berdarah
93 Tarung
94 Amukan Surti
95 Petaka
96 Air Mata
97 Dia
98 Gugup Untuk Pertama Kalinya
99 Alawiyah?
100 Bisik-Bisik
101 Suketi
102 Suketi-2
103 Panggung Demit Ayu Keempat
104 Pedati
105 Pengintai
106 Ke Bukit Angker
107 Hati
108 Di Bukit Angker
109 Retak
110 Adzan Pertama
111 Ikrar Di Gerbang Desa
112 Mimpi Berulang
113 Wajah Misterius
114 Wajah Di Balik Mukena
115 Pengintai Di Balik Kabut
116 Sang Peneror
117 Rapat Dadakan
118 Serangan Licik
119 Serangan Licik—2
120 Rasa Yang Berbeda
121 Omelan Wowo
122 Gangguan Proyek
123 Hati Yang Hampa
124 Dia
125 Sang Sundel
126 Perasaan
127 Jalan Sesat
128 Jalan Sesat—2
129 Racun Yang Menyebar
130 Clara
131 Sendang Puteri
132 Darah Penyeimbang
133 Cemburu
134 Darah Lain
135 Bangkit
136 Gadis Itu
137 Serangan Banaspati
138 Tidak Surut
139 Serangan Gagak
140 Berpindah Tempat
141 Aura Yang Berbeda
142 Seseorang
143 Umpan Darah
144 Tumbal Darah
145 Asap Yang Padam
146 Alawiyah
147 Pamit Ke Kota
148 Keluarga Clara
149 Pernikahan
150 Malam Pengantin
Episodes

Updated 150 Episodes

1
Awal
2
Penampakan
3
Mbok Ratih
4
Novita
5
Sentuhan
6
Sentuhan-2
7
Sikap Misterius
8
Sosok
9
Wajah Pucat
10
Merasa Heran
11
Desa Tanpa Suara Adzan
12
Di Geruduk
13
Tatapan Novita
14
Hantaran
15
Hantaran-2
16
Tragedi Mangga
17
Rundingan
18
Jasad Ratna
19
Jasad Ratna—2
20
Jasad Ratna—3
21
Sosok Itu
22
Membenci
23
Tawaran
24
Juminten
25
Menyapa
26
Tejo
27
Air Mata Tejo
28
Bertemu
29
Bau
30
Suara Tangisnya
31
Aroma Mencurigakan
32
Perlawanan
33
Panci
34
Suitan
35
Sesuatu
36
Pertemuan
37
Pertemuan—2
38
Pertemuan—3
39
Jasad Gina dan Juminten
40
Rini
41
Rini—2
42
Tumbal
43
Jejak
44
Jejak—2
45
Jiwa Hana
46
Jiwa Hana
47
Barter
48
Kaget
49
Dendam Ki Priyono
50
Draft
51
Pilihan Jono
52
Dzikir Mengguncang Getih
53
Demo
54
Juragan Tresno
55
Fitnah
56
Rapat Darurat
57
Kegaduhan
58
May Day di Kediaman Ki Priyono
59
Wadah
60
Fitnah
61
Fitnah—2
62
Fitnah—3
63
Fitnah—4
64
Balasan
65
Balasan—2
66
Tujuh Panggung Demit
67
Nawang Wulan
68
Perang Bathin Bagas
69
Bagas—2
70
Malam
71
Subuh Di Rumah Ratih
72
Linda
73
Linda—2
74
Menyerang
75
Serangan—2
76
Linda—4
77
Keresahan
78
Panik
79
Kepanikan
80
Kepanikan—2
81
Kepanikan —3
82
Chaos Di Bukit Angker
83
Nyai Kembang Murka
84
Pimpinan Baru
85
Menyerang Linda
86
Perjuangan Nawang Wulan
87
Perjuangan Nawang Wulan-2
88
Serangan Di Rumah Bayu
89
Terpecah Belah
90
Akibat Pemutusan
91
Paduka Pocong
92
Malam Berdarah
93
Tarung
94
Amukan Surti
95
Petaka
96
Air Mata
97
Dia
98
Gugup Untuk Pertama Kalinya
99
Alawiyah?
100
Bisik-Bisik
101
Suketi
102
Suketi-2
103
Panggung Demit Ayu Keempat
104
Pedati
105
Pengintai
106
Ke Bukit Angker
107
Hati
108
Di Bukit Angker
109
Retak
110
Adzan Pertama
111
Ikrar Di Gerbang Desa
112
Mimpi Berulang
113
Wajah Misterius
114
Wajah Di Balik Mukena
115
Pengintai Di Balik Kabut
116
Sang Peneror
117
Rapat Dadakan
118
Serangan Licik
119
Serangan Licik—2
120
Rasa Yang Berbeda
121
Omelan Wowo
122
Gangguan Proyek
123
Hati Yang Hampa
124
Dia
125
Sang Sundel
126
Perasaan
127
Jalan Sesat
128
Jalan Sesat—2
129
Racun Yang Menyebar
130
Clara
131
Sendang Puteri
132
Darah Penyeimbang
133
Cemburu
134
Darah Lain
135
Bangkit
136
Gadis Itu
137
Serangan Banaspati
138
Tidak Surut
139
Serangan Gagak
140
Berpindah Tempat
141
Aura Yang Berbeda
142
Seseorang
143
Umpan Darah
144
Tumbal Darah
145
Asap Yang Padam
146
Alawiyah
147
Pamit Ke Kota
148
Keluarga Clara
149
Pernikahan
150
Malam Pengantin

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!