Tubuh Rumi sedikit terhuyung, tapi ia cepat menyeimbangkan diri. Saat Lia hendak mengangkat tangan, berniat menampar, Rumi refleks menahan pergelangan tangannya dengan tenang.
“Cukup, Lia. Kalau kamu punya masalah, bicarakan baik-baik. Jangan buat keributan di tempat umum. Memangnya kamu tidak malu menjadi bahan tontonan. Belaga kayak istri sah yang tersakiti padahal hanya seorang pelakor!" ucap Rumi dengan suara rendah namun tegas. "Pelakor kok teriak pelakor!"
Keributan kecil itu segera menarik perhatian orang-orang di sekitar. Beberapa karyawan yang lewat berhenti, melirik dengan bisik-bisik. Resepsionis panik, bangkit dari kursinya.
“Ibu, Mbak, tolong … jangan buat masalah di sini,” ucap resepsionis mencoba menengahi.
Bu Yenni yang sejak tadi duduk, ikut berdiri. Wajahnya merah padam, matanya memandang Rumi penuh amarah. “Kamu! Perempuan pembawa sial! Kalau saja kamu nggak masuk ke keluarga kami, anak saya Bisma nggak akan mati dengan hina seperti itu!”
Rumi tercekat, dadanya sesak mendengar kata-kata itu. Ia membuka mulut, tapi suaranya tercekat. Ia teringat kemarahan itu bukan sebuah solusi yang tepat menghadapi mereka berdua. Apalagi ia ada di tempat orang, bukan di rumahnya.
***
Di lantai atas, Julian sedang duduk di ruang kerjanya. Seharusnya ia mulai bicara dengan Derry tentang perasaannya semalam. Tapi sejak Rumi turun tadi, hatinya tak tenang. Ada firasat buruk yang mengganggu pikirannya.
“Saya ke lobi sebentar,” katanya tiba-tiba.
Derry mengerutkan dahi. “Sekarang, Tuan?”
Julian tidak menjawab. Ia langsung berdiri, langkahnya cepat menuju lift. Derry lantas mengikutinya. Sesaat kemudian, pintu lift terbuka di lobi, dan matanya langsung menangkap kerumunan kecil di dekat coffee shop.
Di tengah kerumunan itu, Rumi berdiri berhadapan dengan dua wanita. Satu wanita paruh baya yang wajahnya penuh amarah, dan satu lagi—wanita muda dengan ekspresi benci. Lengan Rumi masih menahan tangan lawannya agar tidak menamparnya.
Wajah Julian seketika mengeras. “Waduh,…
Mengasuh Putra Pewaris Sang CEO
Bab 50. Melindungi Rumi
Download aplikasi untuk baca gratis cerita selengkapnya
Updated 109 Episodes
Comments
Kar Genjreng
😁 Bos sekaligus Bapak. terkeren di rumah dan di kantor,,,,jadi tidak di ragukan lagi pesonanya dingin memikat penuh percaya diri di atas rata rata,,,,bahagialah Rum di bela sama Bos sekaligus ayah dari putramu Kenzo 🤩 cuma itu loe Derrrryyyy,,,!!!!!!! ku teriaki biar ga ngelamun si Derrrr,,,,ayo loe ge endang kondo oo,,,, cepatlah bicara,,,selak ga sabar nunggu dari kemarin koe ga cepat ungkapi si dirimu Derrrryyyy gemes selot suwe,,,,ayo sayang Derry masuk ke ruangan Bos Julian agar suasananya sedikit jelas gitu loe,,,,ini malah di gantung lagi sekarang malah tanpa TALI TAMBANG,,, hadurrr mumett 😇😇😇😇😇
2025-09-20
2
Anonim
Sepertinya memang beda kelas tuh Lia dan Rumi. Rumi orangnya penuh etika, Lia perempuan bar-bar tak ada etika blaaass.
Bagus Rumi, kata-katamu tertuju untuk Lia. Apalagi itu ibunya Bisma, mertua payah tak berakhlak juga, ngatain Rumi perempuan pembawa sial. Bisma-nya aja yang hina, korupsi, punya istri lagi tanpa sepengetahuan Rumi istri sahnya. Bersekongkol sama Tisya istri Bos-nya menjebak Rumi tidur sama Julian pula.
Julian ini seperti ada ikatan batin dengan Rumi. Ternya benar firasat Julian, ada masalah dengan Rumi di lobi.
Julian datang, marahlah dia terhadap dua wanita yang membuat keributan di perusahaannya.
Julian tak rela Rumi disentuh Lia, diancam pula kalau sampai tangannya terangkat pada Rumi, bakal habis kau Lia.
Ibunya Bisma ini juga tak punya rasa malu, menuntut keadilan - Julian kasih ceramah panjang, alih-alih memberi keadilan - yang didapat ibunya Bisma "rasa malu".
Akhirnya duo srigala betina itu diusir, Derry dan beberapa security menyeret keduanya tanpa ampun.
2025-09-20
1
Mommy Ghina
Derry, ayo ditunggu nih sama Emak-Emak nih. Semoga hari ini ya ... 😁😁
2025-09-20
4