Aku senang sekali hari ini mendapatkan tanaman baru dari temanku, Lili. Apa nama bunga itu, aku tidak tahu, yang kutahu itu adalah bunga keladi hias yang cantik sekali. Warna daunnya merah keemasan. Bunga itu kutaruh di dalam pot bunga yang kubeli tadi malam di minimarket Delimart.
Saat sedang menanamnya, tiba-tiba kepalaku merasa pusing. Mama yang melihatku hampir roboh segera menolongku.
"Mama, napasku sesak."
"Jangan gerak-gerak. Perlahan," tukas mama sambil memapahku masuk ke rumah.
Aku dibaringkan mama di kasur.
"Kenapa, Duk?"
Aku menggeleng.
"Lemas rasanya. Dada sesak. Nggak tau Ma kenapa jadi kayak gini."
"Mama memberikan balsem padaku."
"Minyak kayu putih saja, Mah."
Kemudian mama menggantinya dengan minyak kayu putih. Aku menghirup bau minyak itu. Satu jam pening kepala, mual lalu sesak napas. Mama jadi khawatir dan memanggilkan dokter.
"Pak hermawan, tolong lihat anak saya sakit apa kok tiba-tiba dia jatuh linglung kayak gini."
"Baiklah, saya periksa dulu." Dokter itu memeriksaku dengan stetoskop miliknya lalu menghela napas.
"Anak ibu terkena toxic dari tanaman keladi yang dia tanam. Mungkin saat dia menanamnya, aroma racun itu dihirup, jadi anak ibu merasa mual dan pusing."
Aku menganga. Ha, cuma sepele saja badan hampir binasa karena racun tanaman keladi yang diberikan Lili tadi. Ah... mustahil.
"Boleh saya lihat tanaman itu?" tanya Hermawan pada Mamaku. Ia menunjukkan kepada dokter tanaman itu ada di samping rumah.
"Saya ambil air getahnya, ya."
Mama bilang, dokter Hermawan memiliki seorang teman yang bekerja dibidang laboraturium. Ia memberikan sampel racun itu kepada temannya untuk diperiksa.
Aku tidak habis pikir, kenapa racun keladi bisa terhirup olehku?
Keesokan hari...
Aku merasa makin parah. Kulitku timbul bercak merah dan meradang. Gatal sekali, kalau digaruk sakit dan rasanya tak mau berhenti. Mama mengolesi minyak bawang agar aku berhenti menggaruk. Keadaan tubuhku mengerikan sekali. Daging keluar dan berdarah-darah akibat aku terlalu sering menggaruknya. Kulitku mulai mengelupas dan daging di tangan juga mulai berjatuhan. Badan ini rasanya meleleh.
"Ya ampun, kenapa Nak?" Mama ketakutan melihatku. Mata merah, rambut jatuh semua. Kulitku tidak ada lagi di badan.
Aku semakin parah lalu menghembuskan napas yang terakhir.
Mereka mengadakan pemakamanku.
Loh? Aku ada di sini, dan itu siapa? Lalu aku mendekati mereka yang sedang menangisiku. mama berkali-kali jatuh pingsan. Diantara orang-orang yang melayat aku memandangi Lili, teman yang sudah memberikanku keladi itu.
"Hihihi, rasakanlah kau. Siapa suruh kau mengambil tanaman itu!"
Apa katanya?? Jadi, dia yang meracuniku!
Lili sialan!
*** end ***