25 Desember 2020. Akhirnya tiba hari ini. Aku sangat kesal sekali mengingat di rumah tak ada siapa pun. Begitu sepi sampai bunyi jangkrik terdengar olehku. Huh, bunyi jangkrik ... yang membuat telingaku bising.
Mama dan papa tidak ada di rumah. Aku cuma ditemani hewan pengerat yang cantik. Mimi si kelinci.
Membosankan!
Tahun lalu oma dan opa datang di rumah kami, tapi karena covid aku nggak bisa merayakan natal dengan bebas seperti dulu.
Aku membuka kulkas dan menatap jengah dua kepala di dalamnya. Huh, memuakkan. Lama-lama kepala ini kulubangi saja menjadikannya sebuah vas bunga.
Timbul ide cemerlang, aha!
"Gimana kalau kubuat hiasan di atas pohon natalku. Tentu akan sangat meriah pahon natal itu. Aku mulai menggergaji tangan, kaki dan kepala "mereka". Lalu kubuat lubang dengan drill. Setelah itu kuambil pita merah di laci dan menggantung hiasanku di pohon natal.
Jadi deh!
Pohon natal itu tampak sangat indah dengan hiasannya, kepala, tangan dan kaki manusia.
Darah menggenang di sepanjang lantai. Aku sedikit menyesal karena darahnya semakin banyak, pohonku jadi basah.
"Duh, harus kerja bakti mengepel lantai, nih."
Keesokan harinya...
"Morning papa, morning mama... terima kasih, ya hadiah kalian sangat indah."
Aku menyapa mereka semua yang ada di pohon natalku, tergantung dengan mata melotot dan mulut terbuka.
"Papa, kau ingin mengataka sesuatu?"
"Dek, jangan menangis, dong...!"
Tangisan adik kecilku di samping pohonnya. Aku membekap mulutnya dengan plester selotip kecil. Anak berusia tujuh bulan itu berusaha melepaskan diri, meronta-ronta, tetapi badannya tertahan dengan garpu besar. Ususnya terburai dan dihiasi lampu-lampu kecil berwarna-warni.
"Merry Christmas, and Happy new year, all."