Semalam aku bermimpi. Dan kuanggap itu mimpi indah. Mimpi namun terasa nyata. 7 tahun lalu, aku mengenal seorang gadis.Berwajah indo, bertubuh tinggi dan langsing bak model catwalk. Kita sama-sama menjalani masa ospek kampus. Awalnya aku tidak peduli dengan keadaan sekitar. Aku mulai bergaul dengan beberapa mahasiswa baru lainnya. Suatu hari, aku melihatmu sedang mencabuti rumput didepan kampus kita. Kamu sedang menunggu rupanya, akibat kesalahanmu. Kemudian kamu melempara senyum kepadaku, aku, aku, dengan senyum lebar jua
Tak dianya, ternyata kita sama-sama menjadi salah satu petugas P2M.sejak hari itu, kita menjadi dekat.Bahkan lebih dekat dekat lainnya.Kemana saja kita berdua. Kamu tidak akan masuk kuliah jika aku belum menampakkan batang hidung. Kekantin, ke mall, kemanapun, kita sudah tak terpisahkan. Mungkin itu dalam benak orang-orang. Bagiku, kamu tempat ku berbagi semua. Tawa, air mata, dan seluruh kisah ku dan keluargaku. Begitu juga kamu.Termasuk kisahmu yang bukan anak kandung dari ibu dan bapakmu.Tapi, aku tidak ada di sisimu saat kamu menangis, dan hampir mengalami kecelakaan.
Sebulan yang lalu, kamu menikah.Dengan pria yang kamu idam-idamkan. Aku tidak kamu undang.Jangankan demikian, kirim sms pun, tidak lagi kamu lakukan sejak aku mengambil studi S2 keluar daerah.
Dan semalam, aku bermimpi.Bertemu dan mengobrol panjang denganmu. Dalam mimpi itu, aku dan kamu seperti dulu. Asyik bertukar cerita. Lupa pada kiri dan kanan. Tidak peduli waktu. Bahkan lupa jika sedang lapar. Kita indah bukan? Ya, kita sangat indah. Betapa hampir seluruh pihak kampus menyayangkan perpisahan kita.Sesuatu yang kita coba tanam selama 4 tahun masa kuliah kita, hancur tanpa sisa. Dan yang paling buruk.Penyebabnya sangat sulit untuk di urai. Sehingga, semua orang yang berkepentingan. Seakan-akan kita terpisah Karena masalah pria.Karena ini, karena itu. Tapi saat itu, aku tak peduli. Sedikitpun aku tak mau dengar apa kata semua orang, agar aku mau berkomunikasi denganmu. Bahkan ketika salah seorang temanku menyebut, aku yang egois dalam hubungan kita.Aku sakit. Merasa sakit. Mereka terlampau sedikit mengenal kita.Terlampau dangkal kamu. Terlalu cepat menarik dari apa yang terjadi.
Aku meninggalkan kota ini, dengan sejuta rasa. Rindu, sedih, pilu terkumpul jadi satu dalam relung hatiku. Kamu orang yang paling berharga yang aku miliki. Kamu orang yang selalu tidak sependapat denganku. Kamu orang yang selalu bisa mengambil hatiku. Dan ternyata ternyata adalah orang yang paling mengerti aku. Semua itu terlambat aku sadari, hingga mimpi tadi malam menggelayut dalam malamku. Aku merindukanmu. Saat ini kamu sedang mencoba membangun rumah tangga dengan orang yang kamu cintai. Mencoba menyembuhkan diri sendiri dari jeratan masa lalu pedih tak beribu.Dan aku, tidak pernah ada di sisimu.
Bagimu, menyontek sah sah saja.Hasil karya orang itu tidak apa-apa, asal sedikit. Bagimu, little melunjak tidak mengapa, little use rayuan and face prettymu agar orang-orang disekitarmu terpaku, it is hal yang sah. Tapi aku tidak. Aku tidak memiliki apapun selain tekad kuat.Aku tidak indah. Bersebelahan denganmu, aku pasti dikira ojekmu.Aku mulai risih dengan semua itu.Aku bosan dengan musuh-musuhmu.Aku bosan dengan tatapan takjub orang-orang kepadamu. Aku muak dengan seluruh kisahmu. Dan aku memilih pergi. Aku bosan dengan caramu belajar, mengerjakan tugas, ujian yang tidak pernah puas dengan jawabanmu sendiri, namun memilih jawabanku. Aku bosan.
Tapi aku tetap sayang padamu.Mendengar kepergian bapakmu, aku pun tak bisa menahan tangis. Ingin sekali meluncur kekosmu, jika waktu tidak mengingatkanku pada jam malam yang ditentukan bapakku.Kita mendatang, akan membicarakan semuanya. Tapi apa, semua hilang. Kebencian kembali menggerogoti sendi-sendi hatiku.Manakala kamu pernah mengakui hasil karyaku didepan dosen kita.Tepat didepan mataku. Hanya pilu yang aku rasa. Dan aku coba simpan.Dan hanya aku yang tahu. Tak cukupkah itu yo. Bagiku itu penghinaan terbesar yang pernah aku terima. Aku tidak memiliki kelebihan fisik apa-apa. Yang aku punya hanya tekad kuat untuk belajar. Aku ingin jadi salah satu manusia cerdas yang berguna bagi orang-orang disekitarku. Sederhana bukan? .Tapi kamu tidak pernah bisa membenarkan keinginanku, impianku, cita-citaku.
3 tahun lalu. Aku memutuskan hidupku. Keputusan besar yang aku timbang sendiri.
Aku dijauhi oleh sebagian besar sahabatku. Aku memilih ajiuratku seluruhnya. Bahkan jika aku tak terhalang rasa hormat pada keluargaku, mungkin saat ini kamu hanya bisa melihat mataku yang terbuka. Setelahnya, aku siap diri untuk berangkat menuju cita-citaku selanjutnya. Aku semakin yakin dengan segala keputusanku. Air mata sering jatuh, takkala mengingat suramnya masa laluku. Pahitnya hinaan dan cercaan orang-orang karena perbuatanku sendiri. Aku kehilanganmu dan seluruh konco-konco yang aku miliki. Tapi sedikitpun tidak ada rasa penyesalan.
Aku bangga, dengan demikian. Insya Allah aku akan mendapatkan dunia, karena tujuan ku akhirat. Aku mengubah diriku dengan susah payah yo. Beberapa waktu lalu, sebelum kamu menikah, aku melihatmu di sebuah rumah makan dengan calon suami mu. Kamu lebih seksi, dengan kulit putih dan tubuh rampingmu. Aku dengar, sekarang kamu sedang melayani yang cukup bagus, dan melayani klien-klien khusus dengan ekonomi tingkat atas.Aku bahagia mendengar hidupmu sekarang. Tapi yo sayang. Kamu muslim. Semoga kelak kamu pun berhijab.